Novica

Catatan kecilku

PERANG

Perang dingin terus terjadi

Di teluk perjanjian

Di mana ratusan kapal enggan pulang berlabuh

Hati mereka tidak puguh

Hanya berpagut pada ketidakpastian

Menunggu takdir datang menjemput

Entah kepala siapa yang akan terpecah belah?

Aku, kamu, dia atau mereka?

Sementara peluru-peluru terus menderu

Jemari pun tak kunjung lelah menarik pelatuk senjata

Menghunuskan bidikkan ke arah sasaran dengan tajam

Kebisingan pun mulai merusak indera

Menjadi tuli dan buta segalanya

Berjamaah

Masing-masing ingin menjadi pahlawan

Pahlawan tanpa nama kah?

Atau benar-benar pahlawan sejati?

Hanya PENGUASA YANG MAHA MEMBOLAK BALIKAN HATI

Yang dapat menentukannya

Sementara kita semua hanya

Manusia yang kecilnya melebihi serpihan bubuk peluru


Apa kabar puisi?

Apa kabar puisi?

Wajahnya terlihat pucat pasi
Sendu tak menginspirasi
Serasa imajinasi mulai basi

Apa kabar si imut?

Rautnya semrawut
Ringkih dan kalut
Seperti di ambang maut

Kau yg imut selalu hadir menginspirasi puisiku
Kau yg imut selalu hadir
Meredam emosiku
Kau yg imut selalu hadir
Menjenguk ilusiku
Kau yg imut selalu hadir
Memancing ambisiku
Kau yg imut selalu hadir
Menemani obsesiku

Kau memberi
Sensasi tersendiri
Dalam setiap mimpi
Dan nyata hari-hari kini


catatan 17 November 2014

Assalamualaikum…..

Hai sang penguasa hati….
Kurasa tadi pagi
Bibirku telah mengintimidasi hatiku kembali

Kutepis semua yg ada dalam nurani, kuabaikan senyuman
Dengan ramuan julukan
Aku tak punya perasaan

Tak kuhiraukan hujan berjatuhan
Berantakan di hadapan
Sebab telah lama hujan beriringan
Bersamaan buliran butiran
Yang bercucuran

Payung ungu yang meneduhiku
Tak cukup menyadarkanku
Bahwa aku sudah tercekik rintik
Dalam tiap lirik yang mencabik
Tawaku yang mengikik

Menghindar tetap memar
Sembunyi menyusup dalam mimpi Berkicau pun aku kacau
Menerka mencari makna
Mengapa ….
Selalu ada tentangnya

Tak ada alasan untuk memberi kiasan
Tak ada harapan jika mengubur kenangan
Tak ada kebetulan dalam kehidupan
Sebab semua sudah Rencana Tuhan


9 Maret 2015

url

Dear purple,
Akhirnya aku melepas kangenku dengan hutan dan air terjun. Tentu saja hiking. Aku tidak peduli pada anggapan orang tentang program kehamilan. Aku hanya peduli keyakinan bahwa jika saatnya hamil, aku pasti hamil. Banyak orang yang berada dalam keterbatasan, bahkan yang sudah divonis tidak dapat hamil, akhirnya hamil dan melahirkan anak yang sehat sempurna.
Aku hanya ingin melakukan apa yang aku senangi. Kenapa harus aku dengarkan dan menuruti sesuatu yang semakin membuatku stres. Berdiam diri di rumah dengan makan tidur dan nonton TV atau pergi ke mall, itu tidak cukup membuatku merasa senang, sebab di rumah pun aku punya segudang pekerjaan. Aku sudah terlalu sibuk dengan rutinitas sehari-hari, bercinta dengan angka-angka membuat mata dan otak kelelahan, berdebat dengan pola pikir yang berbeda, mengamuk lewat bahasa, berkutat pada kewajiban di rumah, lalu ditekan oleh harapan yang belum juga dijemput oleh kenyataan. Separuhnya aku mengadu pada Tuhan dan bersandar pada pendampingku. Lelah sudah pasti.
Lelah -lelahku itu kulampiaskan dengan kesenangan dan keceriaanku. Mungkin dengan itu aku tidak akan kehilangan semangat.

Abstract-Purple-Background-Wallpaper-HD


Romansa ketika Senja

Hmmmhmm

Senja lagi senja lagi

Lembayung jingga selalu meninggalkan tanda

Tanda dalam tiap garis malam

Hei senja!!!!

Kusapa dia lewat jenggala

Jenggala yang tadinya hijau berubah menjadi kuning

Senja lagi senja lagi

Makin ingin kumenjemput mimpi

Mimpi istimewa yang telah ditabur

Dipanen dituai dalam realita


Ke mana sayang?

img_20160731_190059

Mau ke mana kita sayang?
Begitulah tanyamu padaku. Kujawab
Aku sedang tak ingin ke gunung
Aku juga tak ingin ke pantai
Aku hanya ingin duduk manis
Menulis
Mencurahkan isi hati
Menumpahkan inspirasi
Menuangkan imajinasi
Dan melambungkan fantasi
Duduklah di sisiku kekasih hati
Temani aku dengan secangkir kopi
Kopimu bersanding dengan tehku yang tersaji
Lupakan padang edelweis
Enyahkan deburan ombak
Tiada keadaan paling menyenangkan
Berbagi hati dan hari
Dengan cara begini

Melahirkan isi nurani


Edelweis vs Kaktus

Kita bagaikan edelweis dan kaktus
Keduanya bertengger dalam suhu yang berbeda
Bilamana kita saling bertukar habitat
Mungkinkah akan mampu?

Kita tidak pernah mengakui semuanya
Apakah aku si edelweis?
Atau kamu si kaktus
Yang kita tahu kita menghadapi ujian
Sama
Sama-sama diterjang badai
Aku di gunung
Kamu di gurun
Aku dingin
Kamu panas
Aku teduh
Kamu tandus
Hanya langit dan bumi yang menyatukan dan mendamaikan kita
Takkan pernah kita menjadi sama
Sama rasa


Akhirnyaaaaa……..

13 maret 215

Berangkat kerja aku naik angkot duduk di depan. Tiba-tiba sopir bertanya, “apa ada merasa kehilangan minyak angin?”
aku pun terkejut mendengarnya.
“iya Safe Care seminggu yang lalu si!”
” Iya ketinggalan, ada di dashboard!”
” Pakai aja bang, saya udah beli yang baru!”
” Ngga, saya ngga biasa, biasanya balsem!”
Akhirnya aku ambil. Masih rezeki dan milik akan selalu balik. Aku pun kembali menatap ke depan sambil teringat mimpiku yang 3 malam terus sama. Aku mimpi atasanku beserta keluarganya, atasan pertama kali aku kerja, yang tidak lain adalah relasi ayahku juga. Semalam pun aku sudah berkonsultasi dengan teman baikku, apakah boleh aku mencoba menghubunginya. Ia pun menyarankan hal yang sama. Aku tidak punya nomor teleponnya. Aku langsung menghubungi kakak dari ex atasanku itu.
Aku agak gugup karena lama tidak berkomunikasi, dan mencengangkan ketika dia bilang “kenapa Nov?”
lalu kubalas “Memang bapak tau saya Novi yang mana?”
” Iya, Novi yang pernah kerja dengan adik saya di Pamulang!”
” Ya ampun masih inget dia!”
Aku pun tidak sungkan menceritakan alasanku meneleponnya. Aku meminta seluruh contact kedua adiknya, baik nomor HP maupun Pin BB. Beliau pun memberikannya. Aku sangat senang, setidaknya aku bisa menyambung silaturahmi kembali, setelah sekian lama, tepatnya 1 tahun lebih tidak bertemu dan berkomunikasi. Dan akhirnya aku bisa menanyakan kabarnya langsung, meskipun hanya lewat bbm. “Apa kabar?”


Kabar Hujan Kenangan

Apa kabar hujan?

Tidakkah langit berdebat dengan bumi

Menjatuhinya dengan runcingnya jarum perak

Sehingga bumi pasrah akan basah

Apa kabar kenangan?

Tidakkah angan berdebat dengan kenyataan

Mengekang  pikiran dalam ketiadaan

Mengurung murungnya perasaan

Apa kabar hujan kenangan?

Tidakkah air mata berdebat dengan senyuman

Menipu tangis dengan senyum manis

Menipu duka lara dengan gelak tawa