Novica

Catatan kecilku

28 Januari 2015

Dearborn,,,,
Ini hari keduaku istirahat di rumah. Syndrome penyakit yg sering timbul 3 tahun sekali, nyaris menerpa. Sebenarnya aku tidak suka di rumah, apalagi di rumah yg sebesar ini. Tidur makan minum obat. Sepi. Hanya ada kakekku. Beliau pun baru sembuh dari sakit.
Kalau kesehatanku mulai terganggu, orang terdekatku yang pernah mengetahui riwayat kesehatanku mulai khawatir. Padahal aku hanya flu. Memang si aku juga bandel. Sudah setahun lebih aku belum check up, padahal semua sudah banyak yang mengingatkan, bahkan atasanku sendiri. Berkali-kali menyuruhku ambil izin check up.
Dalam sebulan terakhir ini aku sudah 5 kali mimpi tes darah. Biasanya itu firasat. Tapi kali ini kuabaikan.
Kupikir aku akan baik-baik saja. Aku akan sehat selalu.
Kalau saja semua obat yang kuminum rasanya seperti madu. Hehehehe…..
Ngomong soal madu, pas kurang sehat begini pas banget maduku udah sampai di tangan.
Madu asli dari Sumbawa yang dibawa oleh temanku dari Bali.
Ngomong-ngomong teman di Bali, jadi inget ftv kehidupan yang kemarin ditonton. Judulnya nyeremin. Tapi ceritanya mengharukan.
Ceritanya mengisahkan tentang seorang kakak laki-laki yang begitu sayang pada adik perempuannya. Kedua orangtuanya petani dan buta huruf. Banyak sekali pengorbanannya. Adiknya punya hobi menulis. Kakaknya memilih bolos sekolah seminggu dan bekerja di peternakan, demi memperoleh uang untuk membelikan sepatu adiknya. Kakaknya juga diam-diam mengirimkan tulisan adiknya dan ternyata berhasil dimuat di media cetak.
Kemudian sampai akhirnya sang kakak memilih putus sekolah dan pergi diam-diam ke kota untuk mencari pekerjaan agar dapat membiayai sekolah adiknya hingga kuliah. Sang kakak bekerja menjadi kuli bangunan dan adiknya berhasil masuk universitas negeri. Sampai suatu hari, sang kakak datang menemui adiknya di kampus, dan teman-teman adiknya mengira itu pengemis, tanpa ragu si adik memeluk kakaknya melepas rindu, karena lama tidak bertemu, hanya surat dan uang yang selalu diterima. Dalam pertemuan tersebut sang kakak memberikan jepit rambut warna ungu dan sejumlah uang. (Hahaha udah penulis…. Ungu pula….gw banger).
Sekian tahun akhirnya adiknya lulus kuliah dan sukses menjadi penulis. Namun sang kakak tetap masih menjadi kuli bangunan, bahkan sampai adiknya menikah dengan seorang laki-laki kaya, dan sang kakak ditawari pekerjaan yang lebih kayak, tetap saja tidak mau. Ia selalu menolak pemberian adiknya. Hingga satu hari adiknya tengah bingung mengakhiri ending novel terbarunya yang sudah dateline, sang kakak mengalami kecelakaan kerja, jatuh dari bangunan dan tewas di pangkuan adiknya. Novel yang tadinya belum ada endingnya, akhirnya selesai dan dipersembahkan untuk almarhum kakaknya.

“Senangnya bisa punya kakak seperti itu.”

Malam harinya aku pergi ke klinik. Akhirnya kopdar juga dengan dokter yang supel dan gaul itu. Memang dia bukan dokter yang menangani sakitku ketika menderita kelenjar getah bening. Tapi menurutku dia dokter yang sangat tepat untukku.
Dia selalu bersikap ramah, memang rautnya terlihat judes, tapi tidak dengan sikapnya. Dia selalu menanyakan rutinitas dan mulai menceritakan kisah-kisah pasiennya dengan maksud untuk diambil hikmahnya. Tidak jarang dia menyampaikan nasihat bahkan mulai dari membuatku terharu, tersenyum, cekikikan hingga terbahak-bahak. Karena dokterku itu sangat mengetahui psikologisku, Dan dia selalu menekankan, obat yang paling mujarab itu DUIT….adanya di hati, Doa Usaha Iman Tobat dan semua bersumber di hati.
Yang menyenangkannya lagi dia selalu menyelipkan kata-kata mutiara bahkan menyanyi sambil memeriksaku.
Dokter yang menyenangkan.

“Terima kasih untuk semuanya yang telah mendoakanku, doamu untukku, untukmu juga.”


Leave a Reply

Your email address will not be published.