Novica

Catatan kecilku

Cinta Cipularang # 2010#

Pukul 04.30 WIB cuaca masih terasa dingin sekali. Kokokan ayam bersahutan. Liebe sudah terjaga sejak setengah jam yang lalu. Ia nampak gelisah karena hari ini adalah hari pernikahannya dengan Raka. Raka adalah pria pilihan orang tua Liebe. Liebe sebenarnya tidak ingin menikah dengan Raka, namun ia tak punya alasan kuat untuk menolak lamaran Raka, karena walau bagaimanapun Raka adalah kekasihnya setelah ia ditinggalkan Dewa karena perbedaan agama dan berakibat dilarang oleh orang tua Liebe. Akhirnya ia menerima perjodohan itu.
“ Liebe, kamu sudah bangun belum?” panggil ibunya.
“ Sudah bu!”
“ Oh ya sudah, kamu siap-siap, sebentar lagi periasnya datang!”
Kembali sepi tak terdengar gerak-gerik orang berada di depan kamar tidur Liebe.
“ Aduh… gimana ini, Ya Allah…apa benar aku harus menikah dengan laki-laki itu? Aku harus cari jalan agar pernikahan ini batal!”
Tak lama kemudian dua orang perias pengantin datang dan langsung merias wajah Liebe. Pikiran Liebe kacau sekali. Jantungnya berdegup kencang seiring otaknya yang berputar-putar mencari jalan keluar.
Dua jam kemudian riasan sudah selesai. Liebe langsung mengenakan kebaya yang sudah disiapkan. Wajahnya cantik sekali, membuat orang-orang pangling menatapnya.
“ Liebe, senyum dong nak, jadi pengantin kok cemberut aja,malu ahhh!” bisik ibu Liebe.
Liebe menebar senyum palsu kepada para undangan yang akan mengantarnya ke tempat akad nikah.
“ Ya Allah…beri aku jalan keluar!”
Mempelai pria datang menjemput mempelai wanita. Liebe menumpangi sebuah sedan yang telah dihias. Di dalamnya sudah ada Raka dengan busana pengantin pria.
“ Kamu cantik sekali, Lie! Akhirnya hari ini tiba juga, aku udah nggak sabar untuk melaksanakan akad nikah kita!”
Liebe hanya tersenyum tipis tak mempedulikan ekspresi Raka yang duduk di sampingnya.
“ Huhhh… jangan harap mimpi loe jadi kenyataan!” gumam Liebe dalam hati.
Mereka menempuh jarak cukup jauh, yakni Bandung-Jakarta. Akad nikah akan dilaksanakan di Masjid At Tin TMII. Rombongan mobil pengantin telah memasuki tol Cipularang. Mobil melaju cepat. Degup jantung Liebe semakin tak karuan. Tubuhnya mulai panas dingin. Liebe sudah gelap mata dan memutuskan akan membatalkan pernikahannya itu.
“ Pak, kita ambil bahu kiri jalan!” Ica menyerukan pada sopir.
“ Mau apa Lie?” tanya Raka heran.
“ Udah pokoknya minggir, cepat!” nada suara Liebe meninggi.
“ Lie, kamu mau apa?”
“ Diam kamu!”
Mobil pun berpindah jalur dan Liebe memerintahkan berhenti.
“ Stop pak!” perintah Liebe.
Sopir tak mempedulikan perintah Liebe.
“ Pak, saya bilang berhenti, berhentiiiiiiiiii ….!!!!”
Spontan mobil berhenti mendadak dan membuat jalan agak macet karena hampir menimbulkan kecelakaan.
“ Liebe, kamu mau apa?” tanya Raka terheran-heran.
“ Raka, sori aku nggak bisa menikah denganmu, aku harus pergi…maafkan aku!” Liebe keluar dari mobil selepas ia memberikan kecupan di pipi Raka.
Liebe memberhentikan sebuah sedan dan menumpanginya.
“ Maaf. Saya boleh menumpang!” Liebe langsung duduk di samping pengemudi.
“ Mas, cepat jalan, saya takut dikejar!” cerocos Liebe.
Si pemilik kendaraan tetap saja diam dan sedikit gugup.
“ Aduh, makasih ya Mas! Pokoknya kita kabur sejauh-jauhnya!”
“ Sorry, saya harus ke rest area dulu!” jawab laki-laki itu.
Wajah Liebe berubah menjadi panik.
“ Kenapa? Nggak mau? Kalau nggak mau turun aja sekarang!”
“ Nggak, nggak apa-apa, daripada saya dibawa pulang!”
Beberapa kilometer kemudian, tibalah mereka di rest area.
“ Kamu tunggu di sini dulu yah, saya mau sarapan sebentar, kamu mau ikut?”
“ Nggak, makasih!”
Dua puluh menit kemudian, laki-laki itu kembali ke dalam mobil.
“ Maaf, mas..kalau boleh, saya mau ikut mas, sampai kita benar-benar keluar dari jalur tol ini!”
“ Ya, udah turun aja sekarang!”
“ Ya, ampun tolong, saya lagi ketakutan, kalau saya turun di sini, nanti saya ketahuan dan akan dinikah paksa!”
“ Jadi, kamu kabur? Kenapa kabur?”
“ Aduh, nanti saya ceritain, yang terpenting sekarang adalah kita harus cepat-cepat pergi dari sini!”
“ Heh, kamu kira saya aman? Bawa lari pengantin! Bisa-bisa saya ditangkap!”
“ Tenang, mereka nggak akan menemui kita, kalau kita cepat-cepat pergi dari sini, saya janji..saya nggak akan melibatkan kamu dalam masalah ini!”
“ Ok.”
Mereka berdua melanjutkan perjalanan. Liebe sudah merasa agak tenang. Meskipun kesedihan meliputinya.
“ Nama kamu siapa? Saya Liebe.”
Laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan Liebe. Pikiran Liebe melayang teringat kedua orang tua dan keluarganya yang pasti tengah sedih dengan larinya Liebe.
“ Ayah, Ibu, Raka, maafin Liebe!”
“ Lie, jadi kamu kabur karena nggak mau menikah?”
“ ya, padahal sebelumnya saya sudah menjalin hubungan dengan calon suami saya selama 1 bulan, itu juga dijodohin!”
“ Pantas! Lagipula kenapa kamu mau dijodohin?”
“ Yah, saya sendiri juga bingung, dan terpaksa, karena saya nggak punya pilihan lain!”
“ Siapa bilang kamu nggak punya pilihan lain, buktinya pilihan kamu sekarang adalah kabur dari mobil pengantin!”
“ Iya, sih…tapi saya juga bingung harus lari ke mana?! Kalau ke tempat saudara sangat tidak mungkin, kalau ke rumah teman juga tidak mungkin, karena hampir semua teman saya, keluarga saya kenal!”
“ Ya, udah untuk sementara, bagaimana kalau kamu ikut saya?”
“ Ke mana? Ke rumah kamu? Sebenarnya saya khawatir!”
“ Bukan, saya mau ke Bromo sama teman-teman. Saya tahu, kamu takut kalau kita macam-macam kan, tenang aja, saya janji akan melindungi kamu, kalau saya macam-macam, kamu boleh bunuh saya!”
“ Ya, ampun segitunya! Tenang aja kali, nggak pake disuruh saya bakal bunuh kamu, hehe…gini-gini aku guru karate, hehe…”
“ Oh ya? Wah keren amat, jadi takut ditendang nih!”
“ Bisa aja! Tapi, ngomong-ngomong bagaimana mungkin, saya dengan berpakaian seperti ini?”
“ Gampang, nanti pake baju saya!”
“ Tapi, maaf sebelumnya nama kamu siapa?” tanya Liebe mengulanginya lagi.
“ Panggil aja, Guntur!”
“ Guntur?”
Guntur mengangguk pelan dan terus fokus ke depan. Mobil pun terus melaju kencang.
Batin Liebe sudah mulai sedikit tenang.
“ Lie, gimana perasaan kamu sekarang?”
“ Nggak enaklah, karena saya sudah melakukan tindakan salah dan memalukan keluarga, ditambah melibatkan kamu, yang bukan siapa-siapa saya di dalam pelarian ini. Saya takut!”
“ Tenang, saya akan melindungi kamu!”
“ Serius? Kamu nggak takut?”
“ Nggak, saya akan belain kamu!”
“ Apa alasannya?”
“ Karena saya pernah mengalami hal yang serupa dengan kamu!”
“ Maksudnya?”
“ Saya melarikan diri juga dari pengantin wanita! Kacaunya lagi, saya melarikan diri pada saat saya akan mengucapkan ijab kabul!”
“ Hah serius? Gila! Kenapa? Kapan kejadiannya?”
“ Yah, karena saya nggak cinta, saya sudah terlanjur cinta dan sayang sama seseorang, eh dijodohin yah saya terima aja, tapi menjelang pernikahan saya kalut dan nggak yakin, saking bingung dan grogi, saya kabur dari acara inti pernikahan, hahahahaahahah ampun dech, saya nggak tahu dech nasib mempelai wanita! Kejadiannya….kemarin hehehehe!”
“ Ya, ampun!”
Mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal.
Sejumlah teman Guntur tengah menunggu di suatu tempat. Guntur pun datang dan kelima teman Guntur mempertanyakan kehadiran Liebe di tengah-tengah mereka.
“ Gun, loe emang gila ya! KABUR eh loe bawa cewek baru!”
“ Bukan, dia cewek yang gue sering ceritain!”
“ Leon maksud loe?”
“ Iya, dia Leon!”
“ Jadi, loe mau kawin lari sama dia?”
“ Udah pokoknya loe semua diam aja, gue mau bawa lari dia ke mana aja gue pergi!”
Guntur telah membohongi kelima temannya itu. Ia pun mendekat ke arah Liebe berdiri.
“ Guntur, kapan kita jalan? Saya takut dikejar!”
“ Sstt…Liebe, nama loe di sini bukan Liebe, tapi Leon!Kita ngomongnya pake bahasa ‘gue loe’ aja biar lebih akrab!
“ Whats?”
“ Iya, ini demi kebaikan loe juga! Loe nggak ingat, kalau loe dalam pelarian?”
“ Ok’ terus apalagi?”
“ Yah kalau mereka tanya apa-apa, loe bilang aja lupa semuanya, karena loe lagi amnesia!”
“ Hah…udah gila kali ya! Masa gue ngaku-ngaku amnesia,tar aja jadi beneran!”
“ Nggak. Ini demi kebaikan kita!”
“ Ok’lah!”
“ Deal!” Guntur mengulurkan tangan.
“ DEAL!” Liebe menyetujuinya.
Akhirnya mereka bertujuh pergi menuju ke Jawa Timur tepatnya ke Malang yang selanjutnya mereka akan menuju ke Bromo. Selama di perjalanan, Guntur begitu perhatian pada Liebe.
“ Guntur, ingat loe yah, gue nggak mau loe macam-macam! Ingat gue bukan Leon!” bisik Liebe di telinga Guntur.
“ Berisik, loe jangan cerewet!”
Kereta yang mereka tumpangi melaju dengan cepat.
“ Sampai kapan loe mau melakukan pelarian ini?”
“ Sampai waktunya gue siap balik ke rumah!” jawab Liebe.
Liebe terus memperhatikan pemandangan di luar dari jendela.
“ Loe sendiri, mau sampai kapan?” Liebe berbalik menanyakan.
“ Sampai gue bosan!”
“ Ngomong-ngomong Leon itu siapa?”
“ Loe nggak perlu tahu!”
“ Ya, udah! Orang Cuma tanya!”
Mereka semua menikmati perjalanan. Berjam-jam di dalam kereta, akhirnya mereka tiba di Malang. Mereka langsung mencari tempat penginapan. Guntur mengajak Liebe ke sebuah toko baju. Ia belikan beberapa mantel dan baju untuk Liebe.
“ Serius, loe mau beliin ini semua?”
“ Ya iyalah, loe kan pasti nanti kedinginan, Bromo jeng Bromo!”
“ Hmhm..tunggu sebentar ya!” Liebe pergi ke sudut toko dan tak lama kemudian ia kembali.
“ Ini, loe pakai ini, gue juga pakai!” Liebe memasang sebuah topi kupluk dan syal di leher Guntur. Guntur terpaku menatap Liebe. Ia sepertinya teringat sesuatu.
“ Weiiii kok bengong! Keren kannnnn?!” seru Liebe memecahkan lamunan Guntur.
“ Iya, sekalian dech!”
Mereka akhirnya menemukan sebuah penginapan dengan gaya tradisional.
“ Guntur, kamarnya penuh!” Kata Ari yang berpostur gemuk.
“ Nggak ada sama sekali?”
“ Ada sih 2,tapi…!”
“ Udahlah nggak apa-apa, ambil aja!”
“ Lah nanti si Leon nyampur gitu?” tanya Surya agak bingung.
“ Kita cuma semalam bukan di sini, besok kita jalan lagi setelah kita dapat mobil jeep sewaan! Jadi, untuk malam ini Leon biar satu kamar sama gue!” tandas Guntur.
“ MANTAPPPPPPPPPPP!!! “ seru mereka konyol.
“ Guntur, loe udah gila kali ya!” protes Liebe.
“ Heh, tenang aja lagi, gue nggak bakal perkosa loe, nggak nafsu!”
Guntur menarik tangan Liebe ke kamar yang sudah mereka booking mendadak. Sesampainya di kamar. Liebe membanting semua barang bawaan.
“ Heh, loe benar-benar 212 ya? Loe mau ngerjain gue, semua loe yang atur!”
“ Maksud loe 212 apa?”
“ Sableng! Wiro Sableng !”
“ Hahaha bisa aja loe! Lie, gue nggak ada maksud apa-apa!”
“ Ya, terus ngapain juga sih kita harus satu kamar? Single bed lagi!”
“ Gue jamin keperawanan loe utuh! Yah tapi, kalau loe butuh…gue mau kok…!”
“ APA? Mau loe gue banting bolak balik?” tantang Liebe sambil pasang kuda-kuda untuk menyerang.
“ Ampun!” Guntur ngacir keluar.
Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan. Pertama mereka tiba di daerah Senduro yang terdapat di kabupaten Lumajang. Panorama sekitar menggetarkan mata mereka. Begitu indah yang terasa. Langit melukis awan. Udara seluruhnya bertuba menjadi sejuk. Kelelahan hampir melayang. Seolah Ranu Kumbolo dan Ranu Paniregulo telah menghipnotis mereka. Tempat itu begitu indah dan menawan. Selayak perawan yang tengah berbunga. Tak luput mereka abadikan Arcopodo yang menawan saat melakukan pendakian. Terakhir mereka berkuda di Segara Wedi.
Bromo memang penuh warna. Berdiri di ketinggian lebih dari 2.300 meter di atas permukaan tanah. Gunung berapi legendaris ini memang sangat menawan. Bromo menyajikan lembah, ngarai, kaldera dan lautan pasir yang luas. Awan dan kabut menciptakan kesan mistik yang menantang mereka untuk bereksperimen.
“ Thanks banget ya Guntur, sumpah…gue tuh dari dulu pengen banget ke sini, akhirnya gue bisa ke sini juga!” ujar Liebe berseri-seri karena telah menikmati alam Bromo.
“ Nah ada hikmahnya kan loe kabur sama gue!”
“ Heheh..iya juga sih! By the way Gun, udah dari sini, kita mau ke mana lagi?”
“ Maksudnya?”
“ Ya, mau balik ke Jakarta atau tetap melanjutkan pelarian?”
“ Maunya loe?”
“ Gue sih mau tetap dalam pelarian!”
“ Loe senang ya ada dalam pelarian sama gue?”
“ Hihhhh PD banget loe!”
“ Lho emangnya loe berani kalau sendirian di negeri entah berantah!”
“ Heh, kalimat seperti itu nggak pantas loe lontarkan ke gue, tapi ke diri loe sendiri! Buktinya loe ajak teman-teman loe dalam pelarian ini!”
“ Maksud loe, loe mau bilang gue nggak berani!”
Ica mengangguk penuh keyakinan membuat Guntur sedikit jengkel.
“ Sembarangan!”
“ Ya loe juga yang meremehkan gue, gini-gini gue guru karate plus pecinta alam sejati!”
“ Oh yeahhhhhhh?! Gue nggak nanya!”
“ Pengumuman kaleeee, biar loe nggak ngeremehin gue!”
“ Ok – ok gue percaya loe bukan perempuan biasa!”
“ Jadi, gimana?”
“ Yahhh gue terserah loe, kalau anak-anak mau pulang!”
“ Yah gue sih tetap belum mau pulang!”
“ Gue ikut loe!”
“ Whats?”
“ Ya, walau bagaimana pun gue nggak mungkin biarin ninggalin loe sendiri, gue nggak tega kalau….”
“ STOP! Jangan bilang loe kasihan sama gue, gue paling anti dikasihani!”
“ Ya, nggak begitu maksud gue!”
“ Terus…”
“ Ya.. gue mau lindungin loe!”
“ Cuma itu alasan loe mau ikut gue?”
“ Ya.. apa lagi ya, ya pokoknya gue juga belum siap balik ke rumah! Paling nggak 1 bulanlah!”
“ Ok kalau begitu! Pelarian kedua yang jadi komandan adalah gue, jadi loe ikutin aturan gue!”
“ OK. Mau ke mana kita?”
“ Madura.”
“ Madura?”
“ Ya, kenapa? Nggak mau?”
“ Anjrit, bisa mati gue!”
“ Kenapa?”
“ Masalahnya gue ada keturunan……!”
“ Udahlah, nggak usah bawa-bawa ras! Itu mah tempo dulu!”
“ Tapi, ngomong-ngomong, bagaimana kita bisa membiayai hidup pelarian ini?”
“ Yah mau nggak mau kita kerja serabutan!”
“ Kayak apa?”
“ Ya jadi pelayan dadakan, jadi pengamen, jadi apalah yang penting halal!”
Mereka berdua akhirnya berpisah sementara dengan kelima teman Guntur.
“ Jadi, loe berdua benar-benar mau kawin lari?”
“ Nggak, kita cuma mau berpetualang dulu!” jawab Liebe sebelum Guntur memberikan jawaban.
“ It’s ok no problem!”
“ Hei bro..tapi ingat loe semua jangan ada yang kasih tahu soal keberadaan gue dan Leon, soalnya bahaya, bisa-bisa bukan dipaksa kawin, malah nanti gue dikebiri!”
“ Huahahahahaha!”
“ Tenang bos! Keep contact bro!”
“ Siippp!” masing-masing jemari mereka berpelukan.
“ Leon, hati-hati ya… Guntur nafsuan lho!”
“ Apaan sih loe semua!”
Liebe dan Guntur melanjutkan perjalanan ke Madura.
“ Lie, kenapa sih mesti ke Madura? Emang di sana ada apa?”
“ Sapi, sate, garam, clurit! Kenapa sih emangnya?”
“ Ya, gue mau tahu aja, kenapa mesti ke Madura?”
“ Ya, Madura kan dekat Bali!”
“ Jadi, maksud lo mau ke Bali nantinya?”
Liebe hanya mengangguk.
“ Hehh duit dari mana kita mau ke Bali?”
“ Gue mau ke sana, makanya gue mau kerja apa aja demi suksesnya pelarian ini! Lo mau ikut atau nggak, terserah!”
“ Ya kenapa sih harus ke Bali?”
“ Nanti juga loe tahu!”
Mereka terus menikmati perjalanan ke Madura. Ada beban kesedihan di mata Liebe. Guntur memperhatikannya.
“ Lie, loe kenapa?”
“ Nggak, apa-apa kok! Emangnya ada yang aneh?”
“ Kelihatannya loe sedih, loe kangen keluarga loe?”
“ Yah gitu dech, tapi ada yang lebih bikin gue sedih!”
“ Sorry, kalau boleh tahu apa?”
“ Kalau loe terus ikut sama gue, loe pasti tahu nanti!”
“ Ok. Gue akan ikut loe sampai loe mau pulang!”
“ Kok gitu?”
“ Yah, gue nggak mau loe sendirian aja, jujur gue khawatir sama keadaan loe!”
“ Makasih ya!”
Liebe dan Guntur terus menikmati perjalanan mereka hingga tiba di Madura. Mereka sendiri bingung harus pergi ke mana.
“ Lie, kita mau ke mana?”
Liebe mangangkat bahunya tanda tak tahu.
“ Brukkkkk….!”
Liebe jatuh tersungkur tertabrak seseorang yang berlari kencang sekali.
“ Aduuuuhhhh!!!!” rintihnya.
“ Loe nggak apa-apa Lie?” Guntur menolongnya.
“ De…lihat orang lari ke sini nggak?” tanya segerombol orang dengan membawa clurit.
“ Lihat, tadi dia lari ke sana, ini saya ditabrak sampe jatuh!” jawab Liebe.
“ Iya, itu maling!”
“ Maling?” sontak Liebe.
“ Ayo pak kita kejar, saya bantuin!” ujar Liebe berapi-api.
“ Lie, jangan cari gara-gara ahhhh!” sergah Guntur.
“ Udah ahhhh….!” Liebe dan gerombolan orang tersebut mengejar maling yang dimaksud.
Akhirnya maling tersebut tertangkap oleh Liebe. Liebe langsung menarik tangan maling tersebut. Maling tersebut berusaha melawan Liebe dengan segala jurus. Liebe melawannya dengan cepat. Gerakannya membuat Guntur dan orang-orang yang lain terperangah. Akhirnya maling tersebut bertekuk lutut.
“ Bapak-bapak malingnya udah keok nih!” mereka menghampiri.
“ Tunggu pak, jangan dihakimi, sebaiknya dibawa ke kantor polisi aja! Kalau kita main hakim sendiri, nanti kita semua kena hukuman juga!”
“ Iya…iya betul!”
Maling itu digelandang ke kantor polisi oleh warga setempat.
“ Lie, loe canggih juga ya!”
“ Ya.. kan Shaolin Popeye!”
“ Bisa aja loe!”
“ De.. terima kasih atas pertolongannya!” ujar seorang Bapak berpenampilan seperti juragan.
“ Oh sama-sama pak!”
“ Kelihatannya kalian bukan orang sini ya?” tanyanya dengan logat madura.
“ Betul pak!” jawab Liebe sambil menggaruk kepalanya.
“ Kalau begitu, sebagai tanda terima kasih, singgahlah ke tempat saya dahulu!”
Liebe dan Guntur terdiam sebentar.
“ Baik pak, saya terima tawaran Bapak!” tandas Liebe.
Mereka berdua pergi menuju rumah Bapak tersebut.
“ Pak, maaf nama Bapak siapa? Kalau saya Liebe dan Guntur!”
“ Priyayi.”
“ Bapak seorang Priyayi?”
“ Bukan, itu nama saya. Kalian berasal dari mana?”
Liebe pun menceritakan semuanya dengan terbuka. Pak Priyayi pun tertawa terpingkal-pingkal.
“ Dasar anak muda zaman sekarang, ada-ada aja kegilaannya!”
“ Yah, yang pasti kami pasti pulang kok pak!”
“ Terus….?”
“ Apa Bapak bisa beri kami pekerjaan?”
“ Ada, tapi apa mungkin kalian mau?”
“ Memang kerja apa pak?”
“ Kalian ikut saya dulu, ayo!”
Pak Priyayi mengajak Liebe dan Guntur ke suatu tempat.
“ Wahhhh…. ini punya Bapak semua?” tanya Liebe dengan mata terbelalak begitu melihat beberapa kandang penuh dengan puluhan sapi.
“ Iya ini karapan saya!”
“ Terus, maksud Bapak apa?” tanya Guntur dengan nada tidak enak.
“ Ya, tadi kan kalian minta pekerjaan sama saya, saya bisa saja memberi pekerjaan, tapi ya inilah dengan sapi-sapi inilah kalian akan bekerja!”
“ Whatttttttttsssss?”
“ Iya, kebetulan saya kekurangan orang untuk mengurus sapi-sapi ini. Apa kalian mau jadi pengurus sapi untuk sementara, saya akan beri upah, untuk makan dan tempat tinggal saya yang tanggung!”
“ Ok pak, saya setuju!” Liebe menyetujui tawaran itu.
“ Lie, udah gila kali loe ya!” ujar Guntur tidak menyetujui.
“ Terserah, loe mau ikut atau nggak, terserah!”
Liebe pun melangkah mengikuti langkah Pak Priyayi ke sebuah kandang sapi. Guntur masih terpaku dan berpikir sejenak.
Liebe langsung pergi ke sebuah tempat pemandian sapi-sapi. Ia dibimbing oleh salah seorang pegawai yang sudah lama bekerja di tempat itu.
Pertama-tama Liebe mencoba memandikan sapi. Ia agak takut mendekati sapi itu. Ia siram sapi itu dengan air melalui selang.
“ Syurrrr….siram sapi…!” seru Liebe.
“ Moooooooo…..!” sapi pun berseru.
“ Pakkkk!” Ekor sapi menyapu muka Liebe.
“ Sial! Sapi jangan galak-galak kamu, nanti nggak aku mandiin lho, kalau nggak mandi, kamu bau, nggak laku-laku…”
Pak Priyayi hanya tertawa. Guntur pun akhirnya menemani dan membantu Liebe memandikan sapi.
Badan sapi itu mereka basuh dengan busa yang diberi sedikit sabun. Kemudian mereka membilasnya hingga bersih.
Kemudian mereka istirahat.
“ Guntur, jadi loe mau kerja di sini juga?” tanya Liebe.
“ Ya, mau nggak mau!”
“ Kalau kerja tuh harus ikhlas!”
“ Yah, ini gue lagi belajar ikhlas, khususnya ikhlas nerimain punya teman kayak loe, yang sok wonder women gitu!”
“ Hehhh maksud loe apa? Loe jangan ngeremehin gue ya, gue nggak maksa loe untuk kerja kayak begini, loe suka ya syukur, loe nggak suka mending loe kabur!”
Guntur mengernyitkan kening dengan pandangan ke arah Liebe.
“ Kabur dari hadapan gue!” tandas Liebe.
“ Maksud gue…”
“ Gue nggak mau dengar maksud dan alasan apapun dari loe!”
Liebe menyudahi makan siangnya dengan Guntur. Ia melanjutkan pekerjaannya. Ia pergi dengan membawa sepeda untuk mencari rumput, makanan sapi. Guntur menyusulnya.
“ Ngapain loe masih di sini?” tanya Liebe sambil membabat rumput liar.
“ Maafin gue Lie, gue masih mau kok kerja sama dengan Pak Priyayi!”
“ Ya, udah kalau begitu ngapain loe ke sini? Loe kan bisa cari rumput di tempat lain!”
Liebe terlihat masih kesal dengan Guntur. Guntur melangkah ke tempat lain. Rumput-rumput pun penuh dan siap dibawa pulang untuk diberikan kepada sapi.
“ Liebe, kamu sudah bawa rumput-rumputnya, tolong dikasih makan ya sapi-sapinya!” ujar pak Priyayi.
“ Iya pak!”
“ Sapi-sapi, waktunya makan… ayo yang bobo bangun dulu, makan-makan!” seru Liebe ramai membuat sapi pun terkejut.
Mata Liebe melirik Guntur yang berada di kandang sebelah sedang memberikan makan dan tiba-tiba…
“ Ceprottttt!”
“ Huahahaahahahahahahah!” Guntur menertawakan Liebe yang terkena kotoran sapi langsung dari sapinya.
“ Oh noooooooooooooo!”
“ Hahahahah sapinya BAB!” ledek Guntur.

Esok paginya Liebe diboncengi Guntur berkeliling menjual susu sapi murni.
“ Susu susu. Susu murni enak bergizi, ayo beli-beli…jajanan sehat bikin sempurna!” seru Liebe dengan nada keras.
“ Bikin sempurna maksudnya apa Lie?”
“ Ya, empat sehat lima sempurna, kan yang kelimanya susu!”
Mereka sukses menjual susu hasil perahan tadi malam. Selama tujuh hari mereka bekerja seperti itu. Akhirnya mereka pamit untuk meninggalkan tempat itu.
“ Bapak, makasih banyak ya Pak udah nolong kami!”
“ Bapak juga makasih kalian berdua udah banyak membantu saya, saya nggak akan lupa itu!”
“ sama-sama pak. Kapan –kapan kami main ke sini lagi pak!”
“ Oya ini bekal perjalanan buat kalian!”
“ Terima kasih ya pak!”

Liebe dan Guntur pergi melanjutkan perjalanan menuju Bali.
“ Lie, kita kan harus naik bis dulu bukan menuju pelabuhan?”
“ Iya betul! Aaaa gue ada ide!” seru Liebe sambil tersenyum nakal.
“ Ide apa?”
“ Bagaimana kalau kita pura-pura jadi pengamen, loe yang main gitar, gue yang nyanyi, daripada gitar loe nganggur dan cuma berat dibawa-bawa mending dijadiin duit, ya kan!”
“ Duuuuhhh loe tuh yang aneh-aneh aja daaah!”
“ Heehhh kalau kita jadi pengamen, kita naik bis gratis dari satu bis ke bis lain, dapet duit lagi!”
“ Gue nggak yakin kita bakal dapat duit hasil dari ngamen, mending suara loe bagus wajah loe nyedihin, dua-duannya nggak ada!”
“ Hehhh…nggak dapat duit yang penting bisa naik bis gratis, kalau pun dapat duit, kan lumayan buat tambahan ongkos kita!”
“ Lagian kenapa sih loe maksa banget mau ke Bali?”
“ Gue ke sana karena ada tujuannya! Udah loe ikut aja, kalau loe nggak mau main gitarnya, biar gue yang main gitar sekaligus nyanyi!”
“ Ok Ok, gue turutin mau loe, tapi loe mau nyanyi lagu apa?”
“ Gue mau nyanyi lagunya Dirly, Sampai Ujung Dunia! Nah kalau nggak gantian nyanyi dan main gitarnya, nah loe mau nyanyi nggak?”
“ Ya udah gue mau nyanyi Untuk Mencintaimu-nya si Seventeen!”
“ Nah gitu dong semangat!”
Akhirnya mereka berdua sepakat menjadi pengamen untuk sementara. Dengan ceria mereka menyanyikan lagu yang sudah mereka pilih dan mereka cari nadanya.
Pertama-tama mereka berdua cukup grogi harus menyanyi di depan orang banyak terlebih lagi di bis dengan suasana berdesakan. 4 bis mereka singgahi dan mengamen di dalamnya hingga sampai di pelabuhan.
“ Wahhhh lumayan kita dapat duitnya!” seru Liebe sambil menghitung jumlah uang yang mereka dapatkan.
“ Suara loe bagus juga!” puji Guntur dengan nada lembut.
“ Liebe gitu loh!”
“ Lidi kaleee!” tambah Guntur.
Sejenak Guntur meninggalkan Liebe untuk membeli tiket.
“ Dapat tiketnya?”
“ Dapat, tapi 2 jam lagi kita jalannya, nih minum dulu!” ujar Guntur sambil memberikan minuman pada Liebe.
“ Gun, kita makan dulu yuk, gue lapar banget!”
“ Ya udah kita cari makan yuk!”
Makan Liebe begitu lahap. Guntur tertegun memperhatikan Liebe yang kelihatan begitu cuek sekali dengan cara makannya.
“ Lie, loe kok makan begitu banget, kayak orang kelaparan, malu kali dilihatin orang!”
“ Biarin, emang gue pikirin, nggak kenal ini!”
Guntur tertawa kecil.
“ Kenapa? Ada yang lucu?”
“ Sumpah, seumur hidup gue, gue nggak pernah ketemu cewek model loe!”
“ Maksud loe?”
“ yah, cewek dimana-mana jaga image banget, mentingin penampilan, gengsian, pokoknya loe lain banget dech, alami, unik dan langka!”
“ Huuuh loe kira gue satwa langka !”
“ Loe juga cantik, manis dan …..!”
“ Dan apa?”
“ Seksi!”
Wajah Liebe merona karena tersipu malu mendengar pujian Guntur.
“ Hehh..loe jangan nyindir dan meledek gue yah, seksi dari Hongkong, perasaan selama gue sama loe, gue nggak pernah pake baju seksi dan feminim, cuma pake jeans dan kaos!”
“ Seksi itu bukan dari cara berpakaian!”
“ Terus…”
“ Udah habisin dulu makan loe, tar loe kenyang lagi kegeeran dengar pujian gue!”
“ Hiiihhh PD banget loe!”
Beberapa jam kemudian mereka berdua menumpangi kapal laut menuju pulau Dewata.
“ Dewa, aku akan menemuimu!” ujar lirih Liebe saat memandang hamparan luas air laut yang biru.
“ Siapa Dewa?” tanya Guntur penuh ingin tahu.
“ Dia laki-laki yang sangat gue cintai!”
“ Jadi loe mau ke Bali cuma mau nemuin dia, terus loe mau merit sama dia, loe campakkin gue begitu aja?” cerocos Guntur dengan nada kesal.
“ Guntur, loe bisa diam nggak sih? Loe nggak usah nyolot, loe akan tahu semuanya setelah kita sampai di sana!”
Tibalah mereka di pulau Bali. Liebe langsung mencari warnet terdekat. Ia langsung membuka email dan mencatat sebuah alamat pada secarik kertas.
“ Loe habis ngapain?” tanya Guntur.
“ Gue habis cari alamat, ini gue udah dapat, ayo kita langsung cari!”
“ Ca, bagaimana bisa loe kenal orang tapi nggak tahu alamatnya yang persis?”
“ Dulu dia tinggal di Jakarta, tapi beberapa bulan yang lalu dia pulang ke Bali untuk selama-lamanya, dan yang gue dengar dia sakit keras, makanya gue mau temuin dia!”
Mereka berdua terus mencari alamat Dewa yang dimaksud Liebe. Bertanya ke sana sini, hingga akhirnya mereka temukan alamat rumah Dewa.
“ Permisi pak!” ujar Guntur pada seorang bapak-bapak.
“ Iya, ada apa?” jawabnya dengan logat khas Bali.
“ Apa benar ini rumah Dewa?”
“ Iya benar, tapi Dewa baru saja diberangkatkan ke tempat upacara ngaben!” jawabnya dengan nada sedih.
“ Ngaben? Maksudnya?” Liebe tersentak kaget.
“ Iya, kemarin Dewa meninggal!”
Air mata Liebe bercucuran deras dan ia langsung jatuh bertekuk lutut.
“ Apa bapak bisa antar kami ke tempat upacara Ngaben itu?”
“ Bisa, mari saya antar!”
“ Dewa…nggak mungkin meninggal, Dewa jangan mati!” Liebe terus menangis meraung sedih di pelukan Guntur.
“ Lie, sabar, sabar!”
Mereka pun tiba. Liebe pun langsung berlari menuju pusat upacara.
Matanya terbelalak menyaksikan api besar sudah berkobar besar di tengah orang-orang yang menghadiri upacara tersebut.
“ Dewaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!” teriaknya histeris.
Guntur menghampirinya dan memeluk Liebe yang begitu histeris karena sedih. Orang-orang pun tersentak kaget melihat kehadiran Liebe dan Guntur. Seorang Ibu menghampiri mereka berdua.
“ Kamu siapa nak? Apa kamu Liebe, Angelie Berliana?”
Liebe mengangguk sedih sambil bercucuran air mata.
“ Iya bu, ini Liebe dan saya Guntur temannya!”
“ Bangun nak, tabahkan hatimu, ikhlaskan kepergian Dewa, kasihan dia karena telah lama menanggung sakit kerasnya, dan Yang Maha Agung telah memberikan jalan terbaik buatnya.”
Orang-orang pun satu persatu meninggalkan tempat itu. Liebe terus memandangi api yang membakar jenazah Dewa. Guntur pun tidak sedikit pun beranjak dari sisi Liebe yang begitu shock.
“ Dewa…. kenapa kamu tinggalin aku untuk selamanya? Aku ke sini untukmu!”
Liebe dan Guntur pun kembali ke rumah Dewa. Keluarga Dewa masih tampak begitu berduka. Liebe begitu terkejut, di ruang keluarga rumah itu, terpampang lukisan wajah Liebe dalam ukuran begitu besar. Ibu Dewa mengajak Liebe ke kamar Dewa. Di dalamnya penuh dengan gambar Liebe.
“ Liebe, Dewa begitu mencintaimu, kami dilarang mengabarimu ketika kondisinya semakin kritis!” kenang ibu Dewa.
Air mata Liebe hanya mengalir deras. Ia peluk bingkai bergambar wajah Dewa.
“ Saya juga cinta sekali dengan Dewa bu, tapi nggak tahu kenapa, Dewa pergi tanpa memberitahukan saya?”
“ Dia bilang, dia meninggalkanmu bukan karena tidak cinta, melainkan karena perbedaan di antara kalian! Ibu tahu, kita memang berbeda adat, tapi Ibu tidak pernah melarang pilihan siapapun, tapi Tuhan Maha Adil dan Kuasa maka DIA berikan jalan terbaik untuk kalian. Larangan dari orang tuamu bukanlah suatu kesalahan melainkan sebuah pilihan di antara perbedaan.”
“ Tapi bagaimana dengan saya bu?”
“ Kamu masih muda, cantik dan baik, Tuhan masih punya rencana-rencana indah untukmu nak, barangkali temanmu, Guntur adalah jodohmu!”
“ Bu, kami berdua hanya berteman dan sama-sama dalam pelarian akibat kami tidak mau dipaksa nikah, itu saja, setelah dari sini, kami akan pulang dan melanjutkan kehidupan masing-masing, itu saja!”
“ Ya, sudah, Ibu hanya bisa berdoa untuk kalian, sekarang kita doakan saja semoga arwah Dewa bisa diterima di sisiNYA.”
“ Amien….”
Keesokan harinya Liebe dan Guntur pamit meninggalkan rumah Dewa. Wajah Liebe masih terlihat sedih.
“ Liebe, jangan sedih terus dong, gue kan jadi ikut sedih, senyum dan cerewet loe ke mana? Ayo dong, kan wonder women plus cat women!”
“ Bisa aja loe ya!”
“ Nah gitu dong, ini baru Liebe yang gue kenal!”
“ Kita mau ke mana? Sekarang loe dech yang nentuin!”
“ Sebelum kita pulang, bagaimana kalau kita ke Kuta dulu, kebetulan gue ada rumah dekat-dekat di sana!”
” Whats? punya? kok nggak bilang2?
“ oh ya udah tunggu apa lagi, let’s go!”
Liebe dan Guntur menuju villa yang dimaksud.
“ Loe anak orang kaya ya?” tanya Liebe.
“ Nggaklah.”
“ Nggak bagaimana, buktinya loe ada rumah di sini, ini pasti harganya selangit!”
“ Yaelah nggak sampai jual langit kali!”
“ Yeee siapa juga yang berhak punya langit!”
Liebe dan Guntur menemui penjaga rumah tersebut.
“ Pak…!”
“ Ehhh blie Guntur, ke sini kok mendadak sekali, nggak kasih kabar dulu!”
“ Ya, memang dadakan!”
“ Ini siapa blie?”
“ Oh ini teman saya, namanya Liebe!”
“ Lie, ini pak Putu, penjaga rumah ini!”
Pak Putu langsung membukakan pintu untuk mereka.
“ Nanti, saya siapkan makan ya!”
“ Ok makasih pak!”
“ Gila keren banget viewnya, Gun!”
“ Yahhh langsung menghadap pantai!”
“ Hmhm bukan cuma itu, loe bisa lihat bule-bule berbugil ria!”
“ Hahahaha tahu aja loe! Ngomong-ngomong loe berani nggak pake bikini kayak begitu!”
Liebe hanya menggeleng pasti.
“ Kenapa?”
“ Nggak, malu! Lagian mana boleh? Hukumnya buat gue haram!”
“ Terus kenapa nggak pake jilbab aja sekalian?”
“ Nanti…”
Liebe langsung berlalu dari pandangan Guntur. Guntur pun tak menghiraukan kemana Liebe pergi. Liebe pergi ke pesisir pantai mencoba menghibur duka lara. Kepakan sayap burung-burung terdengar begitu ramai. Di benaknya masih terlintas kenangan bersama Dewa. Liebe memperhatikan beberapa turis tengah dipijat. Ada turis yang sedang berselancar di laut, berjemur di tepi pantai.
“ Gila… nih bule seksi-seksi banget ya bodynya, coba body gue kayak mereka, ahhh percuma juga sih nggak boleh dipublikasi!” celoteh Liebe sendirian.
“ Hei… apa kamu tukang pijat?” tanya seorang cewek yang parasnya Timur campur Barat.
“ Bisa tolong pijat saya?” tanyanya kembali sebelum Liebe memberi jawaban.
“ Sial ni orang, emang muka gue ada tampang tukang pijat apa ya? Tapi nggak apa-apa gue kerjain nih orang!” tutur Liebe dalam hati.
“ Ya, bisa, tapi bayar di muka ya?”
“ Ok no problem!”
Liebe menerima uang Rp 200.000
“ Wah, jadi tukang pijat di sini cepat kaya nih!”
“ Cukup?”
“ Ya cukuplah! Mau di mana pijatnya?”
“ Di sana!”
“ Ya… cukup ajalah, orang gue nggak tahu tarifnya!” batin Liebe.
Liebe mulai memijat tubuh cewek yang hanya mengenakan bikini. Sesekali cewek itu menyeringai kesakitan. Sesaat kemudian muncul seorang cowok asli bule bertubuh kekar, tepatnya berpostur besar dan tinggi, dadanya berbidang seperti atlit. Liebe tercengang karena tanpa basa-basi, cowok itu langsung mencium cewek yang tengah dipijat Liebe.
“ Hmhm maaf mister…apa nggak bisa ciuman sama pacarannya nggak di depan saya alias ditunda dulu, nggak sopan tahu, dan mengganggu kerja saya!” cerocos Liebe dengan nada kesal.
“ What? Hei nona tukang pijat, you yang tidak sopan, you sudah I bayar, so lakukan apa saja, kamu tidak perlu komentar apa yang saya lakukan dengan my boyfriend!”
“ Hahhhh kalau begini caranya saya nggak jadi pijit loe, dasar bule nggak punya moral, bikin rusak pandangan hidup bangsa gue aja loe!”
“ Hei..hati-hati kalau bicara, bisa saya laporkan kamu!”
“ Liebe…..!” Guntur menghampiri dan langsung melerai Liebe yang tengah perang mulut.
“ Lie, kenapa ini?”
“ Ini nih bule-bule nggak tahu malu, minta dipijit ehh malah pacaran di depan gue…dikira gue sutradara film porno apa, nyaksiin adegan mereka!”
“ Guntur…!” sapa cewek yang dipijat oleh Liebe.
Guntur pun tak menyahut. Ia memandang rendah dan sinis sekali sepasang turis yang sama sekali tak dikenal oleh Liebe.
Cowok bule tersebut hampir meninju Guntur namun dicegah oleh Liebe dan Liebe yang memukul bule itu hingga terjatuh.
“ Mulai detik ini, gue nggak pernah mau kenal loe lagi!” bentak Guntur pada cewek itu sambil menarik tangan Liebe untuk meninggalkan tempat itu.
“ Aduhhh Guntur pelan-pelan apa! Loe kok seret gue begini!”
Guntur terlihat emosi sekali. Liebe pun di banting ke sofa.
“ Aduuhhh…loe kenapa sih?”
“ Heh…loe tuh ngapain sih pake acara mijit-mijit turis!”
“ Yeee orang dia yang minta, yah gue jabanin, lumayan kan dapat 200 ribu, nggak sampe selesai, bonus kan!”
“ Bonus nonjok orang!”
“ Hehhh kalo gue nggak tonjok tuh orang, loe yang ditonjok! Udah bagus cowoknya doang yang gue tonjok, tadinya mau sekalian sama ceweknya!”
“ Hahhh udah, sekarang yang penting kita cabut dari sini, sebelum orang suruhan bokap gue datang, gue curiga pak Putu laporan sama keluarga gue tentang keberadaan kita!”
Akhirnya Liebe dan Guntur meninggalkan villa tanpa sepengetahuan Pak Putu.
“ Kita mau ke mana lagi Guntur? Gue udah capek..gue mau pulang aja, pelarian ini rasanya sudah berakhir, apa yang gue kejar sudah tiada!”
“ Sama. Gue juga mau pulang aja, gue lelah banget, Lie! Ternyata cewek emang brengsek!”
“ Heh.. apa loe bilang? Gue pukul loe yah sekali lagi ngomong begitu! Kalo cewek brengsek mungkin Cuma cewek-cewek yang loe kenal aja, terkecuali gue, termasuk cewek loe mungkin!”
“ Yah, maaf…”
“ Ngomong-ngomong, loe kenal sama cewek yang tadi gue pijit?”
“ Ya…dia itu Leon!”
“ Hahhhh…masa sih? Kok bisa kebetulan begitu!”
“ Dia itu cewek gue, gue pacaran sama dia backstreet, karena keluarga gue nggak setuju dengan gaya hidup dia yang kebarat-baratan, terakhir gue ketemu dia, 6 bulan yang lalu, waktu gue antar dia ke Bandara karena dia harus ke Belanda, tapi gue nggak sangka dia……..”
“ Teman-teman loe nggak ada yang kenal dia? Sampai loe bohong bahwa gue itu dia?”
“ Nggak ada yang tahu kalau gue pacaran sama dia!”
“ Sumpah dech gue jijik ngeliat gaya cewek loe itu!”
“ Yahhh gue salah pilih cewek dan karenanya pula gue udah melakukan banyak dosa!”
“ Maksud loe?”
“ Yahhh nggak perlu gue ceritain, loe mungkin udah bisa nebak!”
“ Ya udah, masih ada kesempatan tobat dan berubah sebelum semua terlambat!”
“ Jadi kita pulang?”
“ Jadi, kita naik kereta aja dari Surabaya sampai Gambir!”
“ Terus…!”
“ Kita kan ketemunya di Cipularang, yah pisahnya di Cipularang aja lagi, nanti gue minta jemput keluarga gue di salah satu rest area!”
“ Ok.”
” Tapi kayaknya sebelum pulang lihat sunset dulu ya!”
Guntur mengiyakan keinginan Liebe. Mereka kembali ke Kuta untuk menikmati sunset.
” Tur, kok jadi begini ya, kita kayak lagunya Andre Hehanusa!”
” yang gimana lagunya? gue malah taunya lagu Lembayung Bali”
” Yaudah gantian yaaa…gue nyanyi Kuta Bali, loe nyanyi Lembayung Bali!”

Liebe dan Guntur akhirnya memilih mengakhiri pelariannya dan kembali pulang ke rumah masing-masing. Kembali ke kota masing-masing.

Rest Area Cipularang.
“ Guntur, loe minta dijemput juga nggak sama keluarga loe?”
“ Gue bukan anak kecil kalii..”
“ Maksud loe, gue anak kecil gitu?”
“ Nggak sih…yah loe kan cewek,pasti keluarga loe senang banget, jangan-jangan pulang-pulang loe dipasung, dipinang, dipingit, dipersunting, diperawani dech heheeheheheh!”
“ Sembarangan… gue kabur lagi…kali ini langsung nggak pake ke luar kota ke luar negeri lagi, langsung ke luar angkasa!”
“ Sekalian aja ke luar dunia!”
“ Ya udah, sampai di sini ya, jangan sampai nanti loe malah dikira penculik gue, sana jauh-jauh dari gue!”
“ Sampai ketemu lagi ya Lie!”
“ Ya, kapan-kapan kita ketemu lagi, kita masih bisa kan komunikasi!”
“ Maafin gue ya Lie kalau selama ini ada salah sama loe?”
“ Sama-sama, thank you ya, bye-bye!”
“ Bye-bye!”
Liebe melangkah menghampiri tempat dimana ia akan dijemput oleh keluarganya. Guntur pun menghampiri teman-teman yang menjemputnya.
“ Hei bro… apa kabar? Waduh kawin larinya sukses nggak?”
“ Nanti gue ceritain semuanya!” mata Guntur tetap memperhatikan Liebe dari kejauhan. Rautnya memendam kesedihan karena berpisah dengan Liebe.
Ia menyaksikan Liebe berpelukan dengan kedua orang tuanya. Liebe pun dibawa pulang.
6 bulan kemudian.
Liebe masih sendiri. Ia tidak mencari pengganti Dewa. Ia pun tidak tahu kabar Guntur selanjutnya.
“ Hai cewek, maaf ini Liebe, Angelie Berliana temanku yang pernah ikut dalam pelarianku bukan? Guntur…” begitulah isi inbox terakhir pada facebook Liebe.
Liebe pun membalasnya dan mereka akhirnya sepakat bertemu di Bandung tidak jauh dari tempat tinggal Liebe.
Mereka bertemu di tempat wisata alam Kawah Putih. Liebe melihat Guntur tengah menunggunya.
“ Assalamualaikum… Aa Guntur!” sapa Liebe mengejutkan Guntur.
“ Wa’alaikumsalam..!” Guntur begitu terkejut melihat penampilan Liebe. Sedikitpun matanya tidak berkedip.
“ Halllooooo….kok bengong? Kaget ya lihat gue berubah?”
“ Cantik… sumpah …loe cantik banget Lie, you like an angel, pake jilbab!”
“ Tararengkyu, thank you!”
Akhirnya mereka berbincang-bincang melepas rindu dan mengenang masa pelarian mereka dahulu. Mereka tertawa lepas.
“ Jadi, loe belum merit?” tanya Guntur.
“ Belum, sejak itu orang tua gue nggak mau mengadakan perjodohan lagi, mereka bilang mereka takut gue kabur lagi, padahal gue udah ultimatum, gue mau dijodohin dan gue nggak akan kabur lagi, asal syaratnya, gue tahu nama, orang pokoknya tentang calon suami gue itu pas akad aja!”
“ Kalau ternyata dia orang jahat?”
“ Yah resiko orang tua gue punya menantu orang jahat, kan pilihan mereka!”
“ Aneh loe!”
“ Biarin! Loe sendiri?”
“ Gue..hmhm..gue justru dalam waktu dekat ini akan ngelamar cewek gue!”
“ Ohh selamat ya, syukur dech akhirnya dapat jodoh lagi, yang pasti orang tua loe setuju kan?”
“ Ya, gara-gara pelarian itu, mereka nggak mau atur-atur gue apalagi jodoh-jodohin gue lagi, ya alasannya takut kabur lagi!”
Mereka berdua tertawa.
“ Terus, kenapa nggak loe ajak calon istri loe itu ke sini, sekalian kenalin ke gue!”
“ Belum muhrim, jadi belum bisa gue ajak ke mana-mana!”
“ Baguslah! Jangan lupa undang gue yaaa!”

**
“ Liebe sayang, ayah kamu punya relasi bisnis, dan relasinya itu punya anak laki-laki yang tengah mencari istri, jadi.. bagaimana kalau kamu dijodohkan oleh anaknya itu?” tutur ibu Liebe.
“ Ibu, terserah…Liebe nggak punya jawaban apa-apa, asalkan syaratnya seperti yang pernah Liebe sampaikan, Ibu dan ayah berhak memberitahu tentang Liebe kepada mereka, tapi Liebe tidak mau tahu tentang mereka!”
“ Sayang, setidaknya kamu bertemu dengan mereka dahulu!”
“ Nggak mau, lamaran diterima Ibu, Ibu tinggal pilih Liebe kabur lagi atau tolong penuhi permintaan Liebe!”
“ Baik nak, nanti ibu sampaikan!”
Lamaran dilakukan dan persiapan pernikahan pun langsung direncanakan. Liebe tidak sibuk dengan sesuatu yang akan mengantarkannya kepada kehidupan barunya.
Hari pernikahan Liebe pun tiba. Akad nikah dan resepsi dilaksanakan di rumah mempelai wanita. Sejak pagi Liebe sudah dirias oleh tata rias pengantin. Panitia pun hiruk pikuk. Menjelang akad, Liebe masih berdiam diri di dalam kamar. Liebe tidak peduli dengan keadaan rumahnya.
Seseorang mengetuk pintu balkon kamarnya. Liebe membukakan pintu.
“ Guntur? Kok loe bisa ada di sini?”
“ Boleh gue masuk?”
Liebe memperbolehkan Guntur masuk.
“ Loe mau ngapain? Kok manjat sih kayak maling aja, kan loe bisa lewat pintu depan, bilang aja loe tamu gue!”
“ Lie, loe cinta gue kan?”
“ Apaan sih?”
“ Lie, jawab…loe nggak mau kan nikah sama orang yang nggak sama sekali loe cinta?”
“ Guntur, gue nggak mau kabur lagi!”
“ Lie, hari ini juga gue bakal nikahin loe, gue nggak rela loe nikah sama orang yang nggak jelas loe ketahui siapa orangnya!”
Liebe tetap diam. Guntur pun memaksa Liebe pergi melarikan diri. Mereka berdua keluar melalui balkon. Ketika meninggalkan rumah, Liebe tidak melihat janur kuning menghiasi rumahnya.
Guntur mengajaknya ke sebuah masjid.
“ Guntur, mau apa kita… di dalam sudah ada penghulu yang akan menikahkan kita!”
“ Tapi…”
“ Sudah, ayo!”
Liebe terkejut melihat di dalam masjid sudah banyak sekali orang-orang.
“ Guntur, mereka ini….?”
“ Mereka sedang menunggu keluarga mereka yang akan mengadakan akad nikah, kita numpang aja dinikahkan, Ok!”
Tanpa basa-basi lagi Guntur langsung menggandeng Liebe menghadap penghulu. Liebe benar-benar malu menghadapi orang-orang tersebut. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak bisa berbuat apa-apa ketika Guntur mengajaknya menikah, karena sesungguhnya ia juga mencintai Guntur.
“ Saya nikahkan Guntur Mahkota bin Ghalie Mahkota dengan Angelie Berliana binti Angga Rahmatin, dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai.”
“ Saya terima nikah dan kawinnya Angelie Berliana binti Angga Rahmatin, dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai.”
“ Sah??”
“ Sah..!!!!”
“ Alhamdulillahirabbil ‘alamin!”
Liebe tersentak kaget ketika suara ayahnya menjadi wali pernikahannya dengan Guntur. Ternyata pernikahan itu adalah murni untuk mereka. Usai Ijab Kabul, Guntur dan yang lainnya menceritakan yang sebenarnya. Liebe menangis penuh haru.
“ Ya…ampun…nikah kok kayak ulang tahun, kejutan begini!” komentar Liebe dengan wajah bahagia.
“ Ya… karena kamu datang mengejutkan dan memberi banyak kejutan dalam hidupku!” jawab Guntur.
“ Gara-gara Cipularang, cinta jadi terlarang!” seru teman-teman Liebe dan Guntur.
“ Maksudnya?” tanya Liebe dan Guntur kompak.
“ Gara-gara Cinta Punya Larangan, cinta jadi terlarang, nah enak gini terang-terangan!”
“ Jadi selaras, serasi, seimbang dan udah afdol!”
“ Legal dan lancar tanpa hambatan kayak jalan tol…”
“ Tol Cipularang, Jakarta- Bandung jalan terus…!!!”
Sahutan teman-teman Liebe dan Guntur membuat orang-orang tertawa.
“ Ich Liebe Dich…Liebe, I Love You Liebe!” ucap Guntur dengan bahasa Jerman dan Inggris sambil memeluk Liebe.

By: Novica A
Februari 2010


1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.