Novica

Catatan kecilku

Firasat Duka (2)

Pagi itu aku berangkat kerja dengan hati yang kurang enak. Aku teringat teman dekatku, mungkin bisa saja disebut sahabat.
Bagaimana mungkin dia tak bisa kubilang sahabat, tiap kali pikiranku tak enak atau tengah menghadapi masalah, dia selalu menghubungiku dan bertanya “kamu kenapa?” sebelum aku memberitakannya. Instingnya begitu kuat kepadaku. Dia tengah sakit dan lama tak komunikasi kepadaku. Ada 1 masalah besar yang kuhadapi di awal tahun 2010 pada waktu itu. Tapi aku tak bisa menceritakannya kepadanya, karena dia sedang sakit. Dan menyedihkannya sebelum aku mengetahui dia sakit, dia menawarkanku untuk membantu menulis dengan cara menyalin ke dalam laptopnya, karena tulisan asli kubuat dengan mesin tik. Karena sakit ia tidak bisa meneruskan membantu menyelesaikan tulisan-tulisanku tersebut. Terlebih lagi laptop dan motornya pun ia jual untuk keperluan berobat. Penyakit yang dideritanya tidaklah ringan. Ia memiliki jantung koroner yang sudah harus dioperasi.
Sepanjang jalan menuju kantor aku melihat di beberapa gang jalan terpampang bendera kuning bahkan aku menjumpai ambulance yang membawa jenazah. Entah mengapa aku teringat dia. Aku ingin menelponnya, tapi dalam keadaan di angkot. Kupikir nanti saja sepulang kerja, walaupun memang harus di angkot pula. Setidaknya bisa menghiburnya. Aku ingin memberi kabar, kalau aku sudah kerja lagi dan aku sudah mulai belajar mengenakan kerudung kemanapun aku pergi. Tapi niat menghubunginya sore itu, kubatalkan, aku lelah dan mengantuk dalam angkot. Lalu benakku berpikir nanti saja di rumah aku akan menghubunginya.
Sesampainya di rumah aku tidak sempat lagi menghubunginya, sebab aku harus mengerjakan tugas kuliah dan kembali kuberkata “nanti saja hari minggu kutelpon dia”. Malam pun larut. Aku tidur. Aku bermimpi aku pergi ta’ziah menghadiri pemakaman seseorang yang di dalam mimpi itu tak jelas siapa yang meninggal dunia. Aku hanya bertanya-tanya, tapi tak satupun ada yang menjawab. Aku pun tersentak dan terbangun.
“astaghfirulloh…” kuambil Handphone untuk melihat jam dan kubuka salah 1 sms yang kuterima pada saat aku sudah tertidur. Isinya merupakan berita duka cita tentang dia. Dia meninggal dunia tadi sore.
Aku menangis sambil membangunkan mamaku. Aku duduk di ruang tamu tak percaya. Aku menyesal. Seandainya saja kutelpon pagi itu, mungkin aku masih bisa mendengar suaranya untuk yang terakhir kalinya. Aku juga tidak bisa pergi ke pemakamannya, sebab aku masih dalam masa training kerja. Bukan aku tidak beritikad baik, tapi aku juga ingin menghindari kedukaan yang lebih dalam.
Sedih sudahlah sangat pasti.
Aku kehilangan salah satu teman terbaikku. Aku hanya mengenangnya. Hal bodoh yang kadang kulakukan jika merindukannya adalah menulis pesan di facebook miliknya.
Kenangan yang masih melekat dan tidak akan lekang adalah:

Kalimat yang sering dia ucapkan dulu “Gue ngga mau dateng kalau lo nikah, Vi!”….benar saja dia tak hadir karena dia telah pergi meninggalkan dunia.
Kalimat terakhir yang dia tanyakan “Bagaimana kalau Lo ngalamin hal seperti yang dialami oleh tokoh utama dalam novel yang gue lagi ketikin ini?”.
Ternyata aku seperti tokoh utama itu, kehilangan teman curhat terbaik.
Angan-angan terakhir yang dia sampaikan pada hari terakhirku bertemu dengannya adalah rencananya untuk membangun rumah untuk dia tinggal sendiri. Rupanya dia benar-benar tinggal di rumah barunya.
Masih jelas sekali ketika dia menemaniku mencari kampus dan satu hal yang paling manis adalah waktu dia menghiburku.
Dia pernah menelponku pada saat aku makan malam. Dia bilang sedang di studio band, dia menanyakan mau request lagu apa? Lalu kujawab ” yang terdalam” punya peter pan. Tanpa basa basi lagi dia bersama temannya memainkan musik dan bernyanyi untukku. Makan malamku ditemani mereka.

Terima kasih temanku tersayang. Aku akan selalu merindukanmu.


Leave a Reply

Your email address will not be published.