Novica

Catatan kecilku

JANJI PINK

Awan cerah mengawali hari itu. Desir angin masih terasa sejuk. Lalu lalang kendaraan pun perlahan mulai padat. Pagi itu seorang Luna datang dengan riang ke sekolahnya yang baru. Di balik keriangannya tersimpan rasa gugup untuk menghadapi lingkungan, teman dan guru-guru yang baru.
“ Di mana ya ruang kepseknya?” tanyanya dalam hati.
Tiba-tiba melintaslah seorang cowok yang ia kenal.
“ Rully!” panggil Luna .
Luna memanggilnya berkali-kali, bahkan mengejar sahabatnya yang ia miliki sejak kecil itu, akan tetapi tak sedikit pun Rully menoleh. Wajah manis Luna berubah menjadi kusut.
“ Luna.!” sapa seseorang menepuk pundak Luna.
Luna memberikan senyuman dan mengikuti langkah kaki orang itu ke sebuah ruangan yang tidak lain adalah kepala sekolah.
Sepuluh menit kemudian Luna didampingi Kepala Sekolah dan wali kelas III IPA 1 menuju ke sebuah kelas. Sebelumnya Luna dipersilahkan untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu.
“ Selamat pagi semuanya!”
“ Pagi!”
“ Perkenalkan, nama saya Luna Kalma, saya siswi pindahan dari SMU Pelangi Bangsa di Bandung, semoga saya bisa meneruskan sekolah di sini dengan baik dan tentunya harapan saya, saya dapat diterima teman-teman di sekolah ini, terima kasih!”
Pandangan Luna pun menyudut begitu melihat Rully satu kelas dengannya. Rully tak menampakkan ekspresi apa – apa, seolah-olah tak mengenal Luna. Luna dipersilahkan duduk dan mengikuti pelajaran.
Dua jam pelajaran pun usai. Bel tanda istirahat pun berbunyi. Seluruh siswa keluar ruangan. Musik-musik dari panggung mini sekolah pun terdengar. Sekelompok siswa tengah memainkan musik. Banyak mata memandangi Luna yang asyik mengunyah permen karet.
“ Wah Rully yang main drumnya!” seru Luna sendirian.
“ Luna!” tiba-tiba suara ramai menerjang Luna.
“ Eh, Rhea….”
“ Luna, ini teman-teman sekelas kita…namanya Reece dan Zsa-Zsa!”
“ Hai, senang berkenalan dengan kalian!” balas Luna ramah sekali.
Akhirnya mereka berempat berbincang-bincang untuk mengenal satu sama lain. Waktu istirahat pun habis dan mereka memutuskan kembali ke dalam kelas. Ternyata di kelas sudah banyak yang duduk di kursi masing-masing. Keadaan pun begitu gaduh. Kegaduhan terjadi karena tawa ramai dari mulut sekelompok cewek yang jumlahnya sebelas seperti kesebelasan sepak bola.
“ Rhea, mereka itu semua 1 geng?” tanya Luna.
“ Iya, nama geng mereka EG.”
“ Apa itu?”
“ Eleven Girls!”
Spontan EG beranjak menghampiri Rully yang baru saja masuk ke dalam kelas.
“ Rully, makin hari loe makin bagus aja main bandnya!” puji salah satu dari mereka.
Mereka semua pasang aksi sok cantik, sok manis dan sok manja di hadapan Rully.
“ Rhe, nama mereka siapa aja?”
“ Yang ngepink namanya Claudia, bandana putih Sandra, yang kaca mata Jesse, terus berurutan Tammy, Fanny, Noel, Gena, Cindy, Diana, Agnes dan Helen.”
“ Kayak kesebelasan aja ya, atau mungkin masing-masing punya tenaga super masteng buat cetak gol di setiap pertandingan bola bekel, hehehehe….”
Mereka berempat tertawa cekikikan hingga terdengar EG.
“ Heh anak baru, kemari loe!”
“ Yang perlu siapa?”
“ Heh, jangan belagu loe!” teriak Claudia terlihat tak senang.
“ Belagu kenapa?”
“ Duh enaknya kita apain ini anak!” Cindy memecah bermaksud mengerjai Luna.
“ Lun, loe harus tahu, bahwa di kelas ini ada raja dan ratunya lho!” ujar Claudia.
“ Emang penting banget gitu? Setahu gue yang ada lurahnya sekolah ini, yah itu juga kepsek!”
“ Heh, dibilangin kok malah ngeyel, raja di kelas ini si Rully dan ratunya GUE plus selir-selirnya teman-teman gue, ngerti loe?”
“ Emang gue pikirin!” jawab Luna santai memancing emosi EG.
* *
Bel tanda pulang berbunyi. Luna memutuskan untuk pulang bersama Rhea, Reece dan Zsa-Zsa.
“ Lun, loe ngerti nggak maksud dari raja, ratu dan selir?”
“ Nggak. Kenapa?”
“ EG itu adalah semua mantan pacarnya Rully!”
“ Hah?? Serius loe? Gila tuh Rully masih sekolah belajar poligami!”
“ Yang paling lama jadian itu si Claudia, makanya dia ratunya….”
“ Berapa lama?”
“ 1 bulan!”
“ Gillllllllaaaaaaa….terus sekarang ceweknya Rully siapa?”
“ Nggak ada.”
“ kok loe tahu Rhe?”
“ Yah, gini-gini, si ganteng Rully suka curhat sama gue, heheh!”
Spontan Luna seperti mau muntah.
“ uueeeee..”
“ Kenapa Luna?”
“ Mau muntah gue, denger Rully dibilang ganteng, iya ganteng dilihat dari ujung genteng, hehe….”
“ ssttt… jangan gitu ada yang ngefans berat nih!”
“ Siapa?”
“ Zsa-Zsa.”
“ Ya ampun, mau loe sama duda 11 istri!”
Lama mereka menunggu bis, akhirnya mereka menumpangi sebuah bis yang mayoritas penumpangnya adalah anak sekolah. Di dalam bis muncul seorang pengamen muda. Wajahnya manis dan tampan.
“ Suaranya enak ya!” bisik Luna.
“ Orangnya juga ganteng!” tambah Reece.
Tidak lama kemudian pengamen itu meminta sokongan sukarela dari penumpang. Luna ikut memberi.
“ De, ini Kebanyakan?”
“ Nggak apa-apa kak, itu rezeki kakak, saya yakin, kakak lagi butuh kan?”
Wajah pengamen itu berubah sedikit sendu.
“ Baiklah, terima kasih ya!”
“ Sama-sama kak!”
Pengamen itu pun segera turun dari bis dengan raut yang gembira.
“Luna, Loe gila kali ya ngasih pengamen sampai Rp 10.000 ! Mendingan buat traktir kita bertiga atau buat beli apa kek!” Sungut Reece.
“Ya, baru kali ini gue ngeliat orang ngasih pengamen segede itu!”tambah Rhea.
“Lho, mumpung gue lagi punya rezeki lebih dan gue yakin dia bukan pengamen biasa!”
”Maksudnya?”
” Ada deh, pokoknya cuma gue yang tahu!”
“ Huuuuuuuhhhhh!!!!”
“ Oh ya tadi katanya Zsa – Zsa kenapa sama Rully?” tanya Luna.
“ Ini lho si Zsa – Zsa tuh suka sama Rully ! ledek Reece.
“ Lho Zsa, ya ampun! Udah kaya gini mau loe jadi Dalmatians?”
“ Maksudnya ?”
“ Ke 101, Dalmatians 101! Dia tuh play boy caplang, cap kaki tiga, cap orang tua, cap air mancur, Ny. Menir, cap Manguk merah, cap tiga jari, pokoknya cap –cap capung sekalian!” cerocos Luna. Ketiga temanya hanya cekikikan.
“Lun sekalian kayak sinetron yang judulnya playboy cap jempol!” tambah Rhea.
“ Haa.. haa…”
“ Tapi tenang aja Zsa, gue bakal bantuin loe supaya loe bisa sama Rully. Gue tahu bener siapa Rully!”
“ PD banget loe Lun!”tukas Reece.
“ Lho, loe semua belum tahu kan kalau Rully itu sahabat gue dari gue umur 9 tahun!”
“Tapi loe kok gak tahu kalau dia playboy abis!”
“ Namanya juga Jakarta Bandung, nggak nyambung dong!
“ Ya, kalaupun ketemu atau telepon nggak mungkin dia ceritain keburukannya” sahut Rhea.
“ Oh ya ngomong – ngomong loe pindah ke sini kenapa?”
Wajah Luna tiba – tiba berubah dan menunduk.
“ Eh, kita udah paling belakang berisik banget”bisik Zsa – Zsa.
“ Gue pindah kesini dan tinggal dirumah Om gue hanya untuk ngelupain cowok gue dan sang sahabat gue.” datar Luna berkata.
“Memang kenapa, kok gitu?”
“ Mereka kecelakaan dan terpaksa menikah!”tambah Luna.
“ Gue ngerti, loe berdua?”ledek Reece.
“ Ya, MBA!”
“ Wah, jahat banget yah!”
“ Doi siapa namanya?” tanya Reece.
“ Adam dan Agnar. Sudahlah nggak usah dibahas!”
Sekian lama berada dalam satu bis, akhirnya mereka turun satu per satu.
• *
Sore itu Luna diminta Tantenya untuk mengantarkan kue untuk ibunya Rully. Kebetulan sekali Luna ada keperluan dengan Rully. Luna pun langsung mengayuh sepedanya menuju rumah Rully yang kebetulan masih satu komplek.
Rupanya Rully tengah asyik mencuci motor di depan halaman rumah.
“ Permisi, Mas!” ledek Luna.
“ Maaf mbak nggak terima sumbangan!” balas Rully.
“ Sial!” akhirnya Luna masuk ke pekarangan rumah Rully.
“ Ngapain loe kemari ?” tanya Rully menjengkelkan.
“ Nyokap loe ada nggak?”
“ Ada di dalam. Loe bawa apaan tuh?”
“ Pan Cake !” seru Luna sambil berlari ke dalam.
“ Asyik! Gue mau dong!” Rully pun menyusul.
“ Eh, Luna! Pasti bawa pesanan Tante!” sambut Ibu Rully.
“ Ya Ma, Luna bawa kue kesukaan Rully! Cepat dong Ma, Rully iseng nih, cuci m motor nggak ada teh’annya!” rengeknya.
“ Jangan Tante! Ini kan spesial buat Tante, kalau mau bikin sendiri!” ejek Luna.
“ Bawel!” sungut Rully.
“ Udah kita potong sekarang!” Ibu Rully mendesah.
“ Ma, mama bikin sendiri dong!” rengek Rully kembali.
“ Rul, dari mama muda, mama tuh paling nggak suka sama acara bikin – bikin kue, REPOT!” jelas ibu Rully.
“ Kan, enak jadinya, tiap mau makan kue kaya bolu, cake, inilah itulah mesti beli dulu kalau nggak pesen ke Tantenya dia!” gerutu Rully.
“ Yah, kamu bikin aja sendiri!” balas ibu Rully.
“ Yah mama Rully mana bisa?!”
“” Sudah, cuci tangan kamu dulu sana! Oh ya cuci motornya sudah belum ?” Ibu Rully mengingatkan.
“ Oh ya tinggal dilap!” Rully bergegas ke luar.
“ Makan Luna!’
“ Ya Tante!”
“ Oh ya katanya kamu sekelas sama ya sama Rully?”
“ Ya, saya juga nggak tahu kok bisa begitu?!”
“ Itu namanya jodoh!” ledek ibu Rully.
“ Tante, apa coba? Kita Cuma sahabatan aja!” ujar Luna agak malu.
“ Pacaran juga nggak apa – apa! Ya kan Rul?” Ujar ibu Rully ketika Rully muncul.
Rully langsung duduk bergabung di kursi meja makan dan memakan kue.
“ Apaan sih? Ngomongin aku ya?”
“ PD!” sahut Luna.
“ Ya ampun, mama harus ke rumah bu RT, nganterin uang arisan!”
“ Ya udah sana nanti kesorean!” Imbuh Rully sambil mengunyah.
“ Sopan!” sungut Luna.
“ Luna Tante tinggal dulu ya! Terima kasih kuenya!”
“ Ya, Tante!”
“ Dasar Ibu –ibu!”
“ Rully!”
Luna dan Rully hanya diam. Yang terdengar hanya suara Rully mengunyah , sementara Luna melihati saja.
“ Rul, ternyata loe kalau diperhatikan ganteng juga!”
Rully terkejut dan tersendat.
“ Apa loe bilang?”
“ Loe ganteng! G A N T E N G ! J E L A S !”
Rully hanya tertawa kecil dan menunduk.
“ Kenapa?” Luna mulai sedikit tersinggung.
“ Akhirnya loe mau juga ngakuin kalau gue ganteng!”
“ Maksudnya?”
“ Belum pernah tuh, ada cewek ngakuin apalagi ngomong langsung kayak loe.”
Rully beranjak dan menuju kamarnya.
“ Masak’ sih? Kalau begitu gue dong yang pertama?! Bodoh seharusnya nggak, berarti gue doang yang bilang loe ganteng, padahal mah jelek kayak bebek kwek – kwek – kwek – kwek – kwek,,,,,,,,,,,!!!!!!!!!!” ledek Luna.
“ Reseh!!! Gue kelitikan loe!!”
“ Rully jangan!”
Rully berusaha mengelitiki Luna yang sudah tersungkur di atas kasur.
“ Geli tahu!!” Luna berlari keluar.
Rully menghampiri Luna yang masih terengah – engah karena bercanda.
“ Rul, lain kali jangan begitu lagi! Kita udah gede tahu, coba kalau tadi ada setan!” tutur Luna agak sengau.
“ Loe udah gue kawinin, hehe!” sahut Rully.
“ Rese banget sich!”
“ Uhhh ngambek, cantik jangan ngambek dong!”
“ Tau ah!”
“ Oh ya bokap loe kemana?”
“ Main badminton!”
“ Oh ya, loe kok di kelas gitu banget sih sama gue?”
“ Begitu bagaimana maksud loe?” tanya Rully sambil mencoba mengelitiki.
“ Diam Rully! Gue serius nih!”
“ Sorry deh! Soal gue di kelas yah… gimana ya jelasinnya?! (Rully terlihat bingung) Begini aja deh Lun, gue minta ke loe, untuk pura – pura nggak kenal sama gue!”
“ Tapi kan kita sekelas! Lagian kenapa sih memangnya?” Luna makin kesal.
“ Ssssst! Dengerin dulu dong! Jangan cemberut kaya gitu!”
“ Siapa yang nggak kesal?! Tadi siang seorang cewek diperolok, padahal itu sahabatnya, yang kira – kira bisa melerai, sahabatnya cowok lagi! Apa gunanya?”
“ Lun, gue minta maaf. Semua ini gue lakukan demi kebaikan loe juga.”
“ Kebaikan gue yang mana?”
“ Pokoknya gue nggak bisa jelasinnya sekarang! Dan satu hal lagi jangan pernah cerita sama siapa pun kalau gue anak kepala sekolah! Ingat loe, janji!”
“ Terserah mau loe deh!”
“ Ye.. janji dulu dong!
“ Ya gue janji!”
“ Nah kan begitu manis kayak sayur asem ikan asin tumis pare!” Rully kembali meledek.
“ Rul, loe udah punya cewek belum?”
“ Belum. Loe dah jadi pacar gue!”
“ Sorry ya Boy! Loe tuh playboy cap Raja Lele!”
“ Emangnya beras!“ Sahut Rully bergaya waria.
“ Ya, tapi kok nggak habis – habis yah?!”
“ Sial loe !”
“ Nggak, begini gue cuma pengen tau aja.”
“ Pasti soal Zsa – Zsa, ya kan?” Rully menduga.
“ Ya, tapi nggak juga kok!”
“ Gue tahu kok Zsa – Zsa suka sama gue!”
“ Terus loenya gimana? Ada respek nggak?”
“ Mungkin kalau bukan karena Erick, Zsa – Zsa udah lama gue jadiin.”
“ Apa hubungannya dengan Erick ? Eh, Erick kan yang duduk sama loe ya?”
“ Yap! Ya, si Erick itu sohib gue dan dia itu mantan si Zsa – Zsa!”
“ Cuma mantan ini!”
“ Ya, mantan si mantan, tapi si Erick itu masih sayang banget sama Zsa – Zsa, tuh anak mentok kali!”
“ Bebek kali!” Gumam Luna.
“ Salah! Entog!”
“ Lucu! Terus Erick tahu nggak kalau si Zsa – Zsa suka sama loe?”
“ Erick si nggak tahu. Tapi yang gue tahu Zsa – Zsa mutusin si Erick, gara – gara dia nggak suka – suka amat sama Erick, dan dia suka banget sama gue!” Tutur Rully dengan bangga.
“ PD banget loe! Tahu dari mana?”
“ Dari Rhea.”
“ Ah udah deh Rul gue pulang! Udah sore! Titip salam buat mama dan papamu!” Luna kembali meledek sambil mencubit kedua pipi Rully.
“Awas loe besok! Heh ciumnya mana?”
“ Cium aja tuh motor loe!Daaah….. Rully!” Teriak Luna sambil mengayuh sepedanya.
“ Hati – hati ! Teriak Rully.
“OK bos!”
“Dasar Luna kucing Sailormoon!”
Beberapa hari kemudian jam pelajaran pertama di kelas III IPA 1 adalah Penjaskes. Kebetulan guru yang bersangkutan membebaskan para murid untuk berolahraga apa saja.
Luna masuk ke lapangan paling akhir. ‘BUG” sebuah bola menghantam keras kepala Luna. Luna pun pingsan. Rully terperanjat dan segera menggendong, membawa Luna ke ruang UKS.
EG melotot melihat reaksi Rully yang begitu panik. Sementara sebagian teman – temannya menyudutkan EG yang dengan sengaja menyuruh Sandra melempar bola.
“ Huuuu.. surakin..!” seru Bayu bersemangat memimpin.
“ Huu!!!!!!!!!”
“ Muntahin!!!”
“ UWE!!!!”
“ Ludahin!!!”
“ Cuih..!!!!!!”
“ Huuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!!!!!!!!!” balas EG kompak.

…… Sementara keadaan Luna.
“ Lun, Luna bangun Lun!” Rully semakin panik.
“ Tenang aja Rul, sebentar lagi Luna pasti sadar!” Rhea meyakinkan.
Sementara Zsa – Zsa yang ada di dekat mereka hanya memandangi Rully yang terlihat kalut.
“ Eh, tolongin gue ya, gue titip Luna di sini! Gue mau ngurusin cewek – cewek reseh itu!”
“ Ok!”
Tidak lama kemudian Luna sadarkan diri.
“ Aduh, kepala gue sakit! Siapa sih yang melempar?” rintihnya.
“ Lun, kejadian ini membawa hikmah buat loe!” Ujar Reece bergembira.
“ Hikmah? Hikmah pala loe peyang!”
“ Ya Lun, akhirnya si Rully membuka kartunya sendiri, di depan anak – anak sekelas! Tadi begitu loe pingsan Rully tuh nggak sadar jerit dan langsung menggendong loe kemari, SENDIRI lagi!”
“ Ya ? Tuh anak kuat?” Luna setengah tak percaya.
Seketika Luna, Rhea, dan Reece terdiam dan bersamaan menatap ke arah Zsa – Zsa.
“ Zsa, sorry bukan maksud gue bikin loe jealous !” tutur Reece.
“ Nggak, gue nggak jealous. Masa gue jealous sama teman sendiri!”
“ Kali aja! Soalnya gue pencemburu berat!” Sahut Luna asal.
“ L U N A !”
“hi….hi…ha..ha..!”
“ Udah yuk kita ke kelas aja!” Tiba – tiba mereka bertemu dengan Kepala Sekolah.
“ Selamat pagi Pak” kompak.
“ Pagi! Luna, kata Rully kamu pingsan?!”
“ Ya, Pak! Tapi udah nggak apa – apa kok!”
“ Yakin? Kalau nggak istirahat di rumah saja! Biar nanti Rully yang antar kamu pulang.”
“ Nggak, Luna nggak apa – apa kok!”
“ Ya sudah! Mari !”
“ Ya, Pak.”
Luna menghembus nafas dan membantin “hampir saja ketahuan!”
“ Lun, Kepsek kok perhatian banget sama loe, tapi aneh kok pake nyebut – nyebut si playboy gila!” cerocos Reece.
“ Maklum anak baru!” Ledek Rhea.
“ Bukan, bukan begitu. Waktu kemarin gue sama Rully ketemu Kepsek, ya itu deh, berhubung gue anak baru, dan masih dikenal, ya udah sekalian gue kenalin kalau Rully sahabat gue. Malah duganya cowok gue!” jelas Luna.
“ Ssssttttt!!!” Luna, Rhea, dan Reece meledek Zsa – Zsa.
“ Kenapa?” bentak Zsa – Zsa.
“ Deuh segitunya!” kompak.
Dua bulan telah berjalan Luna duduk di sekolah baru. Keadaan tetap seperti biasa, Rully yang dingin pada Luna bila di sekolah. Akan tetapi Rully sangat menyesali dan merasa bersalah atas sikapnya kepada Luna. Hingga akhirnya Rully datang ke rumah Luna.
“ Hai, Luna!” seru Rully begitu Luna membukakan pintu.
“ Rully! Tumben amat loe!” sambut riang Luna.
“ Lun, loe ada acara nggak?”
“ Sekarang?”
“ Ya, iyala! Eh, suruh masuk apa gue!”
“ Oh, ya lupa gue! Ayo masuk!”
“ Sepi amat, pada kemana?”
“ Ke Bandung.”
“ Kok loe nggak ikut? Kan bisa ketemu Bapak!”
“ Yah, loe tahu sendiri sekarang kan lagi banyak ulangan. Oh ya tadi loe nanyain ada acara, berhubung nanti malam adalah malam minggu ya gue punya acara”.
“ Serius loe?!”
“ Nggak, bohong lagi!”
“ Ya udah, gue mau ajak loe nonton, mau nggak?”
“ Ya mau dong, tapi loe yang traktir! Gue ganti baju dulu ya!”
“ Ya sudah sana cepat!”
Akhirnya Rully pergi memboncengi Luna ke suatu tempat.
“ Lun, berhenti sebentar yah, gue mau shalat magrib dulu!”
“ Ya udah sana!”
“ Loe nggak shalat?”
“ Nggak, lagi lampu merah!”
“ Haaaaahh!!”
“ Lagi jadi petugas PMI, udah sana ..Mau tahu aja urusan cewek?’
Beberapa menit kemudian Rully muncul.
“ Come on my girl!”
Rully kembali memboncengi Luna dan akhirnya tiba di tempat tujuan.
“ Rul, jauh – jauh loe ngajak gue, cuma mau ke tempat, tempat apaan sih ini? Loe kan bilangnya mau ngajak nonton!”
“ Lun, gue kan nggak bilang mau ngajak loe nonton di bioskop! Jadi sekarang kita nonton sirkus aja!” Rully menarik tangan Luna.
Di sana ramai sekali. Banyak orang yang datang untuk menyaksikan pertunjukan sirkus. Terlihat seorang anak kecil sedang menangis sendirian.
“ Rully, maksud loe apa sih?”
“ Udah, mendingan kita tolongin anak kecil itu!”
“ Mama…Mama..!!!! rengek anak kecil itu sambil terisak – isak.
“ Ade, mamanya mana?” Tanya Luna baik – baik.
“ Cup… Cup… Cup…!” Rully berusaha menenangkan.
“ Kakak belikan es krim yah!”
Luna terpaksa membelikan es krim untuk anak kecil itu. Sementara Rully pergi ke bagian informasi.
Tak lama kemudian seorang ibu datang tergopoh – gopoh sambil menangis.
“ Nana…”
Ternyata anak kecil itu bernama Nana. Ibu dari anak kecil itu memeluk dan menciumi anaknya yang hampir hilang itu.
“ Terima kasih ya nak, kalau nggak ada kalian mungkin Ibu akan kehilngan nana selamanya.”
“ Sama – sama Bu!”
“ Kalian sepasang kekasih?”
“ hhhh bukan, kami masih….” jawab Luna terpotong.
“ Semoga kalian awet sampai nanti!”
Luna dan Rully tercengang karena dikira pacaran.
“ Mari nak! Terima kasih sekali lagi!”
“ Ya, Bu!”
Ibu – ibu itu pergi meninggalkan mereka berdua yang masih terpaku.
“ Emang kita mesra apa? Sampai dikira pacaran!”
“ Lun, loe ingat sesuatu nggak?” Rully memecah.
“ Gue ingat Rul, 10 tahun yang lalu gue pernah ngalamin kejadian yang serupa dengan Nana. Gue kehilangan ayah, untung aja ada loe dan ayah ibu loe. Kejadiannya di tempat sirkus juga dan yang gue ingat banget, waktu itu tangan loe dua – duanya megang balon, terus gue dikasih satu! Ya, kan? Sejak itu kita dan orang tua kita bersahabat.”
“ Yap, makanya gue ajak loe kemari!”
“ Rul, kayaknya udah mau mulai tuh, masuk yuk!”
“ Ntar dulu, belum beli karcisnya!”
Mereka berdua segera memasuki arena pertunjukan.
Tepuk tangan meriah dari para penonton terdengar bersamaan begitu acara pembukaan berlangsung. Terlihat para pemain sirkus, akrobat, gajah, macan, singa, monyet, burung, ular, dan lain – lain sebagainya yang akan dipertunjukan malam itu.
Tak sengaja Luna memergoki Rully yang tengah memperhatikannya.
“ Rul, kenapa merhatiin gue kayak gitu?”
“ Nggak, gue senang aja mandangin wajah loe, emang nggak boleh ya?”
“ Bukan begitu, bahaya kalau orang senang merhatiin nanti lama-lama suka loe, gue nggak mau!”
“ Lho kenapa? Gue kan ganteng, baik lagi!”
“ Udah ahhhh lihat tuh macannya lompat ke dalam lingkaran api!”
Mereka begitu menikmati pertunjukan sirkus tersebut. Tepuk tangan pun tak pernah berhenti diberikan oleh penonton.
Pertunjukan sirkus pun berakhir. Rully mengantar Luna pulang. Luna terlihat lelah dan mengantuk. Ia peluk Rully erat-erat saat mereka mengendarai motor.
“ Lun, udah sampai!”
“ Ehhh udah sampai ya?!”
“ Turun sana!”
“ Makasih ya bang! Ongkosnya ngutang!”
“ Dasar!!!!”
“ Mampir nggak?”
“ Nggak ah, udah malam, berabe tar ditangkap hansip, neng!”
“ Yo wis, daaaahhhhh!”
“ Eh Luna!” Rully menghampiri Luna yang tengah sampai muka gerbang.
Rully meraih wajah Luna dan mendekatkan wajahnya ke wajah Luna seolah-olah akan mencium Luna.
“ Ya Tuhan apa yang akan dilakukan Rully?” jantung Luna berdegup kencang. Keduanya terpaku.
“ Selamat malam!” itulah yang terlontar dari bibir Rully.
Keesokan harinya Luna datang terlambat. Untung saja guru mata pelajaran pertama belum hadir. Luna tergopoh-gopoh memasuki ruang kelas.
“ Huhhff…untung gurunya belum datang!!” ujar membanting diri pada kursi.
Luna menyadari kalau keadaan kelas agak hening tidak gaduh. Kelompok EG pun tidak berisik. Wajah kedua temannya pun nampak sedih.
“ Wei aya naon teh ieu, gue merasa ada yang beda! Kalian teh kunaon pada sendu gitu? Zsa-zsa mana? Tumben belum datang! Apa jangan-jangan dia sakit?”
“ Luna, ayahnya Zsa-Zsa meninggal!” jawab Reece tegar.
“ Hahhhh…Innalillahi…”
Sepulang sekolah mereka bertiga, Rully, Erick dan Bayu datang melayat.
“ Teman-teman makasih ya semuanya!” Zsa-Zsa, Rhea, Luna dan Reece berpelukan.
“ Zsa, yang tabah ya!”
“ Ya, sing sabar ya ndok’!” tambah Bayu.
“ Ya, makasih. Sekarang gue sendiri dan benar-benar sendiri tepatnya sebatang kara!”
Air mata Zsa-Zsa mengalir begitu deras.
“ Zsa-Zsa kan walau bagaimanapun juga masih ada kita!” ujar Rully seraya merangkul Zsa-Zsa.
Luna dan Erick tercengang.
“ Rully memeluk Zsa-Zsa?” bisik Luna dalam hati mengingat kejadian semalam.
Sejak meninggalnya ayah Zsa-Zsa, Luna memikirkan keadaan Zsa-Zsa. Hingga akhirnya terlahirlah ide.
“ Oom tante, aku punya ide permintaan, bisa aku sampaikan ?” tanya Luna kepada Om dan tantenya ketika sedang bercengkrama di ruang keluarga.
“ Soal apa Lun?”
“ Begini om, tante..aku punya teman dekat namanya Zsa-Zsa, dia itu baru saja ditinggal ayahnya, ayahnya meninggal dunia, dan sekarang dia hanya sebatang kara, dia nggak pernah tahu saudara-saudaranya di mana, kalau diperbolehkan, bagaimana kalau dia tinggal di sini, dia anaknya baik, pintar pula!”
Om dan tante Luna sejenak berpikir hingga suara telepon berdering memecah keheningan. Luna bergegas menerimanya.
“ Hallo…!”
“ Hallo Luna, ini gue Zsa-Zsa..,Luna tolong gue, rumah gue kebakaran!” suara Zsa-Zsa terdengar penuh panik dan air mata.
“ Ok…tenang ya Zsa, gue segera ke sana!”
“Pluk!!!” pembicaraan terputus
“ Om tante, teman yang barusan Luna ceritain, rumahnya kebakaran, kita ke sana yuk Om tante!”
“ Ayooo cepat!”
Mereka langsung pergi menuju lokasi kebakaran. Luna mendapatkan Zsa-Zsa dalam keadaan yang begitu shock. Tangisnya begitu berat hingga Luna juga tak kuasa menahan air mata.
“ Zsa-Zsa, sabar ya sayang!” Luna memeluk erat Zsa-Zsa.
Saat itu pun Om dan Tante Luna memutuskan untuk mengizinkan Zsa-Zsa tinggal di rumah mereka. Zsa- Zsa tidak percaya karena mendapat uluran tangan dari keluarga Luna.
Akhirnya Zsa-Zsa dibawa pulang dan diceritakanlah apa yang sebenarnya malam itu dirundingkan oleh keluarga Luna.
“ Luna apa ini semua benar?” Zsa-Zsa menegaskan dengan mata yang berkaca-kaca.
“ Luna, loe baik banget, gue nggak tahu harus bagaimana membalasnya?”
“ Sudahlah, sekarang yang penting loe dalam keadaan aman dan nyaman, itu yang kita harapkan!”
“ Oya, besok sepulang sekolah, kamu antar Zsa-Zsa beli buku dan seragam yang baru!” ujar tante Luna.
Mereka berdua mengangguk kompak. Mulai malam itu Zsa-Zsa tinggal di rumah Luna.
Keesokan harinya kabar tentang Zsa-Zsa sudah menyebar satu sekolah. Hari itu pula Luna datang ke sekolah bersama Zsa-Zsa. Begitu memasuki ruang kelas mereka disambut.
“ Eh..EG semua ! Lihat dech siapa yang datang!” seru Sandra.
“ Oh..rupanya ada anak baru lagi!” sahut Tammy.
“ Gue kira loe udah hangus di rumah kumuh itu!” ejek Diana.
“ Heh.. kalau ngomong hati-hati yach, atau mulut loe gue sumpel untuk selamanya!” balas Luna.
“ Oh pahlawannya tersinggung! So sweet, ada pahlawan kesiangan!”
“ Asal loe tahu ya, sekarang Zsa-Zsa udah jadi bagian dari keluarga gue, jadi nggak ada satu pun ada orang yang berhak melukai!”
“ Cakeppppp banget!!! Mantan anak panti mengadopsi anak yatim piatu dari tempat kumuh!” sahut Claudia yang baru datang rupanya telah mendengar keributan dari luar.
Tanpa ragu Luna melangkah menghampiri dan memukul Claudia yang masih berdiri di muka pintu kelas.
Akhirnya mereka berdua berkelahi. “ Ayo….ayo….” teman-teman sekelas mengadu.
Zsa-Zsa berusaha melerai tapi ia malah didorong hingga tersungkur. Bayu dan Erick ikut melerai, namun mereka kalah oleh Luna dan Claudia. Bel tanda upacara akan dilaksanakan berbunyi. Namun seisi kelas tak menghiraukan. Sementara Rully yang tengah ada di lapangan kebingungan tak melihat satu pun teman-temannya di lapangan.
“ Rully mana teman sekelasmu?” tanya seorang guru.
“ Mungkin masih di kelas pak!” jawab Rully agak ragu.
“ Ayo kita susul ke kelas! Gimana sih sudah kelas III masih harus diatur!”
Mereka berdua manuju kelas III IPA 1 dengan langkah gontai. Dari kejauhan terdengar suara begitu gaduh.
“ Apa-apaan kalian?!” bentak keras guru itu sambil melotot tajam menyaksikan aksi brutal tersebut. Suara gaduh pun berubah menjadi sepi. Sementara Rully hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali melihat kejadian itu.
“ Sekarang waktunya upacara, bukan duel !“ Sekarang yang lain semua ke lapangan, dan kamu Luna, Claudia kamu juga ke lapangan, tapi kalian berdiri di atas podium, selesai upacara kalian ke ruang BP !”
“ What? Nanti kepala sekolah pidato di mana pak?”
“ Sudah, cepat kalian ke lapangan sekarang juga!”
Upacara pun berlangsung tidak khidmat karena seluruh siswa harus menyaksikan Luna dan Claudia berdiri di atas podium yang seharusnya adalah Kepala Sekolah. Pidato kepala sekolah pun dipersilahkan. Bapak Kepala Sekolah tidak naik ke podium.
“ Assalamualaikum..selamat pagi anak-anakku tercinta…pagi ini mungkin saya tidak dapat berpidato, dikarenakan keadaan yang tidak memungkinkan. Oleh sebab itu, dua sekretaris saya, Luna dan Claudia yang akan mewakili pidato pada hari ini!” tutur Bapak Kepala Sekolah membuat seluruh peserta upacara tercengang dan tertawa. Luna dan Claudia melotot tidak percaya. Hukuman tengah menimpa mereka.
Akhirnya Luna berpidato dengan gaya semaunya:
“ Assalamualaikum, selamat pagi semuanya! Pertama-tama sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Allah SWT dan seluruh peserta upacara, khususnya Inspektur Upacara kita, Bapak Kepala Sekolah yang mengizinkan sepatah dua patah kata. Mungkin cuaca hari ini terlihat kurang baik dan saya rasa cuaca di langit sana juga sama mendungnya dengan suasana hati handai taulan kita yang mungkin kini tengah berduka. Hari ini pagi-pagi sekali, saya mendapat laporan dari pihak Bimbingan Penyuluhan bahwa dua orang siswi berkelahi di kelas.
Sungguh memalukan! Atas nama sekolah, jujur saya sangat malu mempunyai siswa seperti mereka. Tapi sungguh memalukan lagi jika saya harus punya murid yang suka menghina, tidak mempunyai rasa iba, dan selalu memandang rendah teman-temannya. Tidak seharusnya diskriminasi ini ada di sekolah kita yang tercinta.
Bukan materi atau status anak kandung, anak yatim piatu, anak tiri atau anak adopsi yang menjadi kita dikotak-kotakan alias diklasifikasikan ke dalam beberapa kelas, melainkan prestasi dan kreatifitas serta moral dan tanggung jawab kalianlah yang sangat menentukan kehidupan kalian nantinya.
Mungkin itu saja yang dapat saya sampaikan pada pagi ini. Demikianlah atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan.”
Tepuk tangan meriah diberikan untuk Luna.
Usai upacara Luna dan Claudia menuju ruang Bimbingan Konseling dan Penyuluhan. Mereka mendapat skor selama 3 hari untuk tidak mengikuti pelajaran. Hari itu mereka berdua dipulangkan ke rumah masing-masing.
Malam harinya Luna memberitahukan masalah yang tengah menimpanya. Om dan tantenya sangat marah mendengarnya.
“ Luna, kamu itu perempuan…nggak seharusnya kamu ribut berkelahi seperti itu? Apa kata ayah kamu, kalau dia tahu kamu diskor gara-gara hal sepele!”
“ Om.. dengar penjelasan Luna dulu, bagaimana Luna nggak marah, kalau Luna dan Zsa Zsa dihina, mereka bawa-bawa status Luna sebagai anak adopsi! Kalau Om Tante nggak percaya, Om dan tante bisa tanya langsung ke Zsa-Zsa atau teman-temanku yang lain!”
Mereka semua terdiam menatap satu sama lain. Hanya ada desah nafas yang panjang.
“ Luna minta maaf atas kesalahan Luna. Luna janji nggak akan mengulanginya lagi!”
“ Ya, kami percaya kok sama kamu sayang!” ujar Prizka, tante Luna.
“ Ya, tapi yang Luna heran,darimana dia tahu kalau Luna ini dulunya anak panti?”
“ Luna, tadi kamu bilang nama teman kamu itu Claudia. Bukan?Kalau nggak salah dia itu anak teman tante, dia tahu tentang kamu dan mungkin dia ceritakan pada anaknya yang ternyata satu sekolah dengan kamu!”
“ Satu kelas malah!” sahut Luna agak jengkel.
“ Ya udah tante minta maaf sama kamu!” ujarnya sambil memeluk Luna.
“ Makasih ya tante,”
“ Ya sudah sekarang kamu dan Zsa-Zsa tidur sana, besok tante temani kamu jalan-jalan, daripada di rumah, kamu BT!”
“ OK madame!”
* *
Tidak lama lagi para siswa akan melaksanakan ujian semester . Untuk melengkapi nilai praktek biologi, seluruh siswa kelas III IPA mengadakan study tour ke daerah Sukabumi. Study tour pun dilaksanakan. Mereka menginap di sebuah villa berukuran besar. Sesampainya di sana mereka beristirahat. Malam pun menyapa dan seluruh siswa terlelap tidur. Sementara EG merencanakan sesuatu yang tidak pernah terduga oleh Luna.
“ Nah, sekarang waktunya beraksi!” seru Claudia pada teman-teman segengnya.
“ Nanti dulu! Jangan-jangan mereka belum tidur, lagipula bagaimana kalau ketahuan guru atau penjaga villa!” potong Jesse.
“ Dasar pengecut! Kita kan udah bikin strateginya tadi siang. Jadi, yakin aja kalau kita nggak akan ketahuan siapa-siapa!”
“ Ya, tadi gue udah campur obat tidur di galon minum mereka semua!”
“ Gila loe yah, nanti kalau mereka keterusan tidurnya bagaimana?”
“ Nggak, tenang aja! Gue nggak sebego itu!Mulai dari buka pintu, campur obat sampe keluar kamar lagi, gue pake sarung tangan!”
“ Ya udah sekarang kita jalanin semuanya!”
EG pun bergegas keluar kamar dan masing-masing menjalankan tugas jahat tersebut. Sandra, Claudia, diana dan Cindy menyelinap ke dalam kamar di mana Luna dan kawan-kawan tidur. Sementara yang lain berjaga-jaga di depan kamar Luna dan depan Villa, kecuali Tammy dan Belen yang tengah menyiapkan kendaraan yang disewa mereka untuk membawa Luna pergi.
Akhirnya mereka berhasil membawa Luna pergi dari villa itu. Luna yang tidak sadarkan diri dibawa ke pematang sawah yang cukup jauh dari villa.
Pagi-pagi keadaan villa menjadi gempar begitu mengetahui Luna menghilang ditambah dengan keadaan teman-teman sekamar Luna yang mengalami gangguan kesehatan dan keluhan yang bersamaan. Praktek pun tidak dapat segera dilaksanakan sehubungan dengan keadaan yang tidak memungkinkan. Sementara beberapa guru, siswa dan pihak setempat melakukan pencarian Luna.
Sedangkan Luna sendiri ditemukan oleh beberapa mahasiswa yang tengah melaksanakan KKN bersama petani. Penduduk pun gempar. Pihak kepolisian pun didatangkan. Luna pun dimintai keterangan didampingi seorang mahasiswa yang tak dia kenal sama sekali.
“ Makasih ya kak!”
“ Ya, sama-sama…nanti kamu saya antar ke villa kamu, pihak kepolisian juga sudah mengabari pihak sekolahmu dan keluarga kamu!”
Luna masih shock dengan keadaannya. Wajahnya terlihat lesu dan gamang. Tapi matanya sesekali memperhatikan wajah mahasiswa yang mendampinginya.
“ Kak, maaf sepertinya pernah lihat kakak!”
“ Ya, saya ini emang pengamen bis, saya pernah dikasih uang lumayan besar dari kamu!”
“ oh ya saya ingat!”
“ Nama kamu siapa? Saya Ruli!”
“ Ruli atau Rully? Sama dengan nama teman saya.”
“ Ruli.”
“ Saya Luna!”
Ruli beserta petugas kepolisian mengantarkan Luna.
“ Luna…..!!!!!! “ sambut teman –teman Luna.
“ Loe nggak apa-apa Na…?? “
“ Ya ampun kok bisa begitu kejadiannya…!!! “
“ Syukurlah ! Yang penting loe nggak apa-apa dan bisa balik ke kita !
Sementara kedua polisi tengah membicarakan hal tersebut pada para guru. Luna dipersilahkan untuk istirahat.
“ Kira-kira siapa yah pelakunya ..?! “ seru Rhea.
“ Ya, kalau ketahuan gw abisin tuh anak ! “ Rully menimpali.
“ Sebenarnya gw tahu, tapi gw nggak mau asal ! “ tutur Reece.
“ Luna, orang salah harus dihukum ! Ini sudah termasuk tindakan kriminal yang udah direncanakan ! “ tutur Reece.
“ Ya, malah kalau pembunuhan berencana hukumannya 20 tahun, kalau nggak salah ! “ tambah Bayu
“ Ups… gw mau nemuin guru sama polisi-polisi itu dulu deh ! “ seru Luna beranjak keluar .
“ Mau ngapain lagi ! “ sungut Rully
………………
“ Permisi Pak, Bu !”
“ Ya, ada apa Luna ? “
“ Begini, kalau boleh saya ikut bicara, Pak Bu, Pak Polisi , saya minta kasus ini nggak usah diperpanjang, jadi merepotkan !”
“ De .. Luna ini sudah termasuk tindak kriminal dan sudah menjadi tugas kami dalam hal ini !” tandas salah satu polisi yang berpangkat letnan itu.
“ Sekali lagi saya mohon Pak !” Luna memohon dengan sangat.
“ Baiklah !” akhirnya polisi itu memutuskan.
“ Terima Kasih Pak !”
“ Yah ada benarnya Luna. Seandainya diusut, tempat tinggal kita sangat jauh ,” tutur Ibu Amy
“ Tapi feeling kami mengatakan pelakunya orang dalam !” ujar Letnan Adi.
“ Maksud bapak teman saya ?” tanya Luna Menyakinkan.
“ Ya… apa kamu punya musuh, maksudnya ada teman kamu yang nggak suka kamu…?”
“ Soal itu, saya rasa nggak…!! Lagipula mana mungkin ada teman saya yang setega itu,” Luna memaparkannya dengan penuh keyakinan.
“ Mungkin saja !”
Beberapa menit kemudian kedua polisi itu pergi meninggalkan villa dan memutuskan untuk tidak memperpanjang kasus tersebut ,mengingat akan permintaan Luna sebagai korban.
“ Mungkinkah EG ?”batin Luna berkata.
“ Gue kira loe diculik GAM!” seru Sandra sambil mencibir.
“ Ha……ha……ha……!!!!!!!!!!!!! “ EG pun tertawa mengejek.
Praktek Biologi yang semula direncanakan selama dua hari berubah menjadi sehari yakni keesokan harinya. Begitu selesai mereka semua langsung kembali ke Jakarta.
*********
Liburan semester ganjil tiba juga akhirnya, setelah para siswa mengikuti test semester selama satu minggu. Luna memutuskan untuk berlibur ke Bandung bersama teman – temannya. Mereka adalah Rully, erick, Bayu, Rhea, Reece dan Zsa-Zsa.
Mereka menuju Bandung dengan kereta.
“ Oh ya kebetulan kalian ada yang bisa naik kuda nggak ?” tanya Luna bersemngat.
“ Gue bisa !” spontan Bayu menjawab.
“ Oh ya ?!”
“ Kuda-kudaan ,” jawab Bayu santai.
“ Lucu loe !” sunggut Rully.
“ Serius !” sambung Luna.
“ Emang kenapa Luna ?” Rully menegaskan .
“ Begini, kebetulan ayah punya 4 ekor kuda dirumah. Jadi, kalau ada yang bisa, gw mau ajak berkuda !”
“ Emang loe bisa ? “ tanya Bayu agak nyolot.
“ Nyolot deh loe YU ?” sahut Reece.
“ Ya, mana mungkin si Luna nantangin kalau dia nggak bisa,” tambah Erick yang dari tadi asyik membaca komik.
“ Eh, nyambung juga loe !” balas Bayu.
“ Sudah jangan ribut !”
Akhirnya masing – masing dari mereka tak satu pun ada yang berbicara.
“ Sampai juga akhirnya !” seru Bayu.
“ Norak loe !” tukas Reece ketus.
“ Luna, naik delman saja !” usul Bayu.
“ Ya sudah !”
Mereka menyewa dua delman. Sementara delman yang satu hanya ditumpangi oleh Bayu dan Luna beserta barang-barang milik mereka.
“ Heh..Yu awas loe buka –buka tas gw !” teriak Rully.
Sementara Rully terus memperhatikan Luna yang tengah asyik bercanda dengan Bayu.
“ Eh si Bayu ngapain sih sama si Luna ? Dari tadi gue perhatiin ketawa melulu !“ gerutu Rully.
“ Biarin aja apa ! Suka-suka mereka dong !” jawab Rhea.
“ Kayak orang pacaran aja !”
“ Rul, loe tahu nggak Luna punya teman baru namanya Ruli juga !” ujar Rhea memulai cerita.
“ Tapi anak kuliahan lho ! orangnya ganteng banget, loe kalah deh !” Rhea melanjutkan.
“ Namanya Ruli ?” Rully mulai menanggapi.
“ Ya tapi hurufnya R U L I.”
“ Kagak keren !”
“ Gue belum tahu.”
“ Biar yang penting orangnya.”
“ Anak mana ?”
“ Cuh,…loe bilang ganteng, keren, anak kuliahan lagi, emang loe pernah ngeliat, terus dari mana loe tahu dia kuliah?!” cerocos Rully tak percaya !”
“ heh, gw, Luna, Reece, sama Zsa-Zsa udah pernah ngeliat tuh cowo waktu dia ngamen di metro mini, kalau nggak percaya tanya aja yang lain biar loe percaya!”
“ Katanya keren tapi kok pengamen !” sungut Rully menjengkelkan.
“ Yah mungkin untuk biaya kuliah, tambahannya. Dan kalau soal tuh cowok kuliah, kita saksinya, kan waktu Luna hilang, pas dia diantar pulang, cowok itu ikut ke villa kita. Yah katanya sih mereka lagi ngadain penelitian !”
“ Gue jadi penasaran, kayak apa sih tampang tuh cowok ?!” tandas Rully
“ Yang pasti loe jauh dah!” ejek Rhea.
Tidak lama kemudian mereka semua sampai di rumah Luna.
“ Assalamu’alaikum !” salam mereka kompak.
“ Ayah …..Luna pulang Yah !” panggil Luna.
Kemudian muncul laki-laki setengah baya dari samping rumah
“ Luna….”
“ Ayah !” Luna memeluk dan mencium tangan ayahnya itu dengan riang.
Teman-teman Luna pun mengikuti Luna.
“ Ayah, ini teman-teman Luna di Jakarta. Mereka mau berlibur di sini bersama Luna, boleh kan Yah ?!”
“ Tentu saja boleh, ayah senang kalau rumah ini ramai !” jawab ayah.
Luna seraya tersenyum.
“ Oh ya Ayah ini Erick, Bayu, Rhea teman sebangku Luna, Zsa-Zsa, Reece dan ini Erick ups Rully maksud Luna!” ayah Luna mempersilahkan masuk ke dalam rumah.
“ Aduh sejuk banget di sini !” ujar Rhea.
“ Ayo duduk nak !”
“ Terima kasih Pak !”
“ Bi, tolong buat minuman untuk…..” Perintah ayah Luna.
“ 8 orang sekalian ayah !” seru Luna.
“ Baik Pak !” ujar bibi menyanggupi.
“ Ayah ingat nggak sama si jelek ini ?” tanya Luna sambil merangkul Rully.
“ Rully ? Rully….Rully…..(ujar ayah terpatah-patah seraya mengingat
Ya Rully anak nya Pak Ginanjar ?!
“ Ya benar ayah !”
“ Bagaimana kabar ayah dan ibumu?”
“ Alhamdulillah baik, beliau titip salam buat Om.”
“ Oh ya Yah om sama tante juga titip salam !”
“ Nah silahkan diminum, kuenya seadanya yah, maklum di kampung !” Ujar ayah berbasa-basi.
“ Ya, Om..”
“ Luna, ayah ke kebun belakang dulu ! Kalian semua istirahat saja di kamar , kamarnya sudah di siapkan kok, kalau sempat main-main atau lihat-lihat pemandangan !”
“ Ya Om !”
“ Ya sudah Om tinggal dulu !
………….
“ Bokap loe tinggal sendirian, Na ?” tanya Bayu.
“ Nggak, kan ada pembantu 3 orang. Bibi yang tadi, tukang kebun, terus pengurus kuda !”
“ Eh tadi loe berdua di delman mesra banget !” Rully beralih topik.
“ Kita kan pacaran ya Yu ?!” jawab Luna meledek Rully sambil merangkul Bayu dari belakang.
“ Emang kenapa sih Rul ? Si Luna kan bukan cewek loe, tapi dari tadi loe ribut banget, kayak orang cemburu! Atau jangan-jangan loe suka Luna !” tutur Zsa-Zsa. Dengan nada agak ketus.
Mereka sejenak terdiam.
“ Eh, mendingan kita ke kamar yuk !” Luna memecah ketegangan itu.
“ Yuk !!!!!”
“ Na, maafin gue ya ?! bisik Zsa-Zsa.
“ Nggak apa-apa kok !”
Sementara Luna menunjukkan kamar mereka masing-masing.
“ Kebetulan, kamar di atas ada 3 yang kosong, 1 kamar gue, lalu siapa yang mau sekamar sama gw ?” tanya Luna.
“ Gue deh Lun !” seru Bayu konyol.
“ Huu….. maunya !”
“ Gue deh Lun, “ Rhea menyahut.
Malam hari udara terasa semakin dingin. Tetapi mereka tak menghiraukannya. Bernyanyi, bercerita dan tertawa itulah yang mereka lakukan.
“ Assalamu’alakum !” terdengar suara orang dari luar rumah.
“ Wa’alaikumsalam !!!!!”
Luna segera membukakan pintu.
“ Hai Lun !” sapa seorang laki-laki.
“ Adam ?!”
“ Aku dengar kamu kemari, makanya itu aku kesini, kamu nggak marah kan ?” tanyanya agak ragu.
“ Hhhhh nggak, aku senang kok ! Oh ya silahkan masuk ! Aku kenalin yuk sama teman-teman !”
“ Oh, jadi kamu kesini sama teman-teman ?”
“ Ya, mereka ingin tahu sekalian liburan !”
“ Eh, kenalin nih teman gue, namanya Adam !” seru Luna.
“ Adam ?! Adam yang katanya……” celetuk Reece terbekap tangan Zsa-Zsa.
Mereka akhirnya saling berkenalan.
“ Oh ya Rully mana ?”
“ Di balkon atas,” jawab Erick.
Akhirnya Luna dan Adam memutuskan ke lantai atas.
Dan mereka dapatkan Rully tengah asyik memetik senar-senar gitarnya.
“ Rul !” panggil Luna mengejutkan.
“ Eh, kenapa ?” Rully menoleh agak sinis melihat seseorang yang berada di samping Luna.
“ Rul, kenalin ini Adam !”
Adam segera mengulurkan tangan namun tak langsung dibalas oleh Rully.
“ Oh, jadi loe yang namanya Adam ! Gue Rully, cowoknya Luna !”
Luna terkejut sambil memberi isyarat pada Rully.
“ Ya kan sayang ?” ujar Rully membual sambil merangkul pinggul Luna.
“ Apa-apan sich ?!” ujar Luna agak kesal.
“ Udah yuk, Dam. Kita ke bawah.”
Mereka meninggalkan Rully dan kembali ke lantai bawah.
“ Luna, Rully ganteng yah!”
“ Apaan sih ? Dia tuh bohong, aku sama dia nggak dad apa-apa, Cuma sahabatan, kan aku dulu sering cerita !” bantah Luna.
“ Tapi aku senang kok, kalau kamu sama dia !” lanjut Adam
“ Stop Adam ! Oh ya kenapa Agnar nggak ikut ? Apa dia sudah melahirkan ?” Luna mengalihkan pembicaraan.
“ Belum, masih lama. Oh ya ayah kamu ke mana ?”
“ Katanya sih rapat di rumah Pak RT.”
Keesokan pagi harinya Luna bersiap-siap untuk berkuda bersama ayahnya.
“ Luna, teman-teman kamu sudah bangun semua ?” tanya ayah.
“ Belum Yah. Tapi, tadi mereka udah bangun, shalat subuh, terus tidur lagi, katanya dingin!”
“ Yah, mereka nggak terbiasa dengan udara di sini, lain dengan kamu.”
Luna dan ayahnya pun berkuda mengelilingi kebun yang ada di belakang rumah. Sementara selesai mereka mengelilingi kebun, mereka kembali ke lapangan di depan rumah. Bayu yang terbangun dari tidurnya langsung beranjak membuka jendela begitu mendengar suara kuda.
“ Wah, gila Luna !” seru Bayu melotot.
“ Eh, man bangun man !!!!!!!”seru Bayu membangun Rully dan Erick.
“ Kenapa sih loe ? orang masih ngantuk !” sungut Rully.
“ Tahu nih, ganggu aja !” tambah erick.
“ Heh, loe lihat deh keluar, Luna lagi nunggang kuda, mantap banget man !” ujar Bayu menyakinkan .
Spontan Bayu dan mereka beranjak ke luar rumah. Ternyata Rhea,Reece dan Zsa-Zsa. Tengah berada di sana.
“ Tuh, Rul Luna bisa kan !” seru Reece.
“ Heh, yang sotoy kan si bebek !”
“ ya Yuk, emangnya loe, bisanya naik kuda-kudaan !” ledek Rhea.
“ Hallo, selamat pagi ! Kalian udah mandi belum ?” tanya Luna menghampiri dengan kuda
“ Belum !!!!!!” Jawab mereka kompak.
“ Mandi sana ! Terus sarapan, terus nanti kalian diajarin berkuda sama ayah !”
“ Hore !!!!!!!”
“ Asyik !!!!!!”
Serempak mereka masuk ke dalam untuk mandi.
“ Mandinya jangan bareng yah !” seru Luna geli.
Mereka semua sarapan bersama-sama di ruang makan dekat taman. Rumah Luna sangat luas. Di area rumahnya terdapat istal kuda milik ayahnya.
“ Ayah semalam Adam ke sini.”
“ Oh ya. Agnar ikut ?”
“ Nggak. Luna sih maklum, dia kan lagi hamil.”
“ Ya, Om padahal kita semua pengen tahu yang namanya Agnar !” Reece menimpali.
“ Ce, Agnar itu anaknya cantik, manis dan juga seksi !” terang Luna.
“ Wah, boleh tuh !” celetuk Bayu
“ Tapi sayang, sekarang nggak seksi lagi karena sudah bersuami, ditambah ia hamil.”
“ Suaminya sudah tua atau muda? “ tanya Bayu makin penasaran .
“ Ya, Adamlah suaminya , “jawab luna lirih tapi ketus .
“ Bagaimana bisa begitu ?” Bayu kembali bertanya .
“ Berisik loe Yu ! “bentak Rully pelan .
Lusa, Luna dan kawan – kawan kembali ke Jakarta. Namun berat bagi Luna untuk meninggalkan ayahnya sendirian.
“ Luna , jaga dirimu baik – baik ya Nak ! Sampaikan salam ayah untuk Om dan tantemu !”
“ Ya Ayah . Ayah juga jangan lupa , jaga diri ayah baik – baik !”
“ Anak – anak semua titip salam buat ayah ibu kalian , begitu juga Rully jangan lupa yah !”
“ Ya Om ! ! ! ! ! “
“ Ya sudah hati – hati di jalan ! ‘
Satu persatu mereka berpamitan , disusul dengan pelukan Luna untuk ayahnya .
* *

Sebulan kemudian musibah melanda keluarga Luna . Ayah Luna meninggal dunia akibat serangan jantung . Luna terpaksa libur sekolah untuk tinggal di Bandung selama beberapa hari . Dua hari dari hari kematian ayahnya, Luna hanya menangis dan tidak mau makan. Akhirnya ia jatuh sakit dan terpaksa ia harus dibawa kembali ke Jakarta untuk dirawat di rumah sakit.
“ Luna …..!!!!!!!” hadirlah teman-teman Luna menjenguk.
“ Tabah ya Lun!”
“ Gue sayang banget sama ayah, walau gue tahu dia hanya ayah angkat. Tapi dia memperlakukan gue seperti anak kandungnya sendiri, yang telah meninggal sejak kecil bersama ibunya karena kecelakaan.”
Luna terus bercerita mengenang almarhum ayahnya sambil menangis.
“ Sudah, Lun !”
“ Gue takut sekali kalau gue harus berpisah dengan kalian.”
“ Kita nggak akan berpisah !” seru Erick.
“ Tapi gue yakin suatu hari gue nggak bisa bersama loe lagi, karena….”
“ Karena apa Lun ?” tanya Rhea.
“ Nanti juga loe semua tahu !”
Kalimat Luna yang terputus itu membuat mereka ingin tahu dan semakin penasaran.
Semakin hari kondisi kesehatan Luna semakin membaik. Luna pun sudah dapat sekolah kembali. Keaadan kelas cukup berubah, tidak seperti biasanya selalu ramai dengan EG.
Luna masih sering menangis mengenang ayahnya. Kesedihan tentu meliputi dirinya.
Bulan Tengah berduka….Mengapa ? ……. Karena bulan tertutup awan. Awan hitam di langit malam Menggantikan terang menjadi hujan
“ Namaku Luna. Yang berarti bulan. Bulan selamanya bercahaya, tetapi aku tidak……kadang terang kadang redup bahkan gelap .“
Semakin hari kesedihan Luna semakin mereda. Ia Ikhlaskan kepergian ayahnya itu.
Suatau hari ketika pulang sekolah, seorang Ruli tengah menunggu di depan gerbang sekloah.
“ Luna !” panggil Ruli mengejutkan.
“ Kamu….”
Ruli menghampiri Luna yang berada di tengah teman-temannya.
“ Masih ingat ?” tanya Ruli seraya tersenyum kecil.
“ Loe kan yang ngamen di metro waktu itu !” seru Reece.
“ Sssssst……..”
“ Ya benar. Nama gw Ruli !” Ruli memperkenalkan diri pada ketiga teman Luna.
“ Luna sudah cerita tentang kamu, waktu di sukabumi,” Zsa-Zsa menuturkan.
“ Loe kesini ngapain ?” tanya Reece agk nyolot.
“ Nggak , Cuma pengen ketemu sama Luna !” Jawab Ruli santai, sementara Luna yang dari tadi diam hanya tersenyum mendengarnya .
“ Ciehhhh….” ledek yang lain kompak .
“ Emangnya kuliah di mana ?’ tanya Rhea ingin tahu .
“ IPB . “
“ Semester berapa ? “
“ Akhir, lagi nunggu mau wisuda.” tandas Ruli.
“ Memangnya Luna mau di ajak jalan yah ?” tanya Zsa-Zsa agak meledek.
“ Ya, kalau dia mau.”
“ Kebetulan, Luna lagi BT banget, lihat aja mukanya suntuk banget !” Reece menimpali.
“ Woiiiiiiiiiiii………!” muncul Rully, Bayu dan Erick.
“ Ngapain loe?” tanya Bayu.
“ Nungguin gw yah ?” sahut Rully dengan PD.
“ PD banget loe !!!!”
“ Rul, kenalin nih…..teman gue, namanya Ruli juga!” akhirnya Luna bersuara.
Ruli mengulurkan tangan untuk berkenalan, namun Rully tak mau meraihnya. Mereka semua tercengang. Akhirnya Bayu dan Erick yang menjabat. Rully pun segera meninggalkan mereka semua tanpa basa basi lagi.
“ Rul, tunggu !” panggil Erick.
“ Eh, gue cabut duluan yah !!!” seru Bayu mengejar Rully dan Erick.
“ Pulang yuk!” ajak Luna.
“ Yuk !! mereka akhirnya pulang bersama.
Sementara ketika di dalam bis Luna duduk bersama Ruli.
Lain halnya dengan Rully, Bayu dan Erick yang masih nongkrong di halte. Mereka hanya memperhatikan Luna dan kawan-kawan dari kejauhan.
“ Rul, loe kenapa sih tadi?” tanya Bayu agak heran.
“ Malas aja gue kenal sama tuh cowok !” jawabnya agak ketus.
“ Malas atau Jealous ?” Erick berguman.
“ Jealous? Jealous sama siapa?” bantah Rully.
“ Yah sama Luna!” jawab Bayu dengan nada ringan.
“ Enak aja loe kalo ngomong!”

“ Luna, kok kamu waktu itu kasih uangnya banyak banget sich? Kenapa ?”
“ Karena Luna tahu kakak lagi butuh uang kan?”
“ Kok tahu sich, kamu punya indra ke enam ya?”
“ Nggaklah, pokoknya aku tahu aja, kelihatan dari mata dan face kakak!” jawab Luna tidak menatap mata Ruli sedikit pun.
“ Ya benar waktu itu adik saya sedang sakit keras, sedang ibu nggak punya uang untuk mengobati adik saya.” Ruli memaparkan.
“ Memangnya ayah kakak ke mana?” tanya Luna agak ragu.
“ Ayah saya sudah lama sakit, beliau hanya dapat berbaring lemas di tempat tidur, ibu hanya seorang pedagang kue.”
“ Lalu kuliah kakak bagaimana?”
“ Kebetulan, alhamdulillah aku dapat beasiswa!”
“ Ooohhh…ya ampun kak, aku sebentar lagi harus turun, aku boleh minta alamat kakak yang di Bogor?”
Ruli memberikan alamat yang diminta oleh Luna.
“ Kak aku duluan yah, kapan-kapan aku main ke tempat kakak, salam juga ya kak buat keluarga kakak!”
Selama liburan Ruli pulang ke Jakarta, sambil bekerja part time di sebuah restaurant. Luna pun sering pergi ditemani Ruli. Luna juga menyempatkan diri menjenguk ayah Ruli. Ruli juga banyak membantu Luna dalam mengerjakan tugas sekolah, apalagi sebentar lagi Luna akan menghadapi Ujian Nasional. Teman-teman Luna juga mengetahui hubungan Ruli dengan Luna.
Pada suatu malam tepatnya malam minggu, Ruli datang ke rumah Luna. Rully pun datang tanpa memberi kabar sebelumnya.
“ Hai Rul? Tumben loe ke sini?” sambut Luna di depan rumah.
“ Habis bingung gue mau ke mana?”
“ Kebetulan kembaran loe juga lagi main !”
“ Kembaran? Maksudnya ?”
“ Ruli.”
“ What???”
“ Masuk yuk!”
“ Malas ahh… Zsa-Zsa ada nggak?”
“ Ada, kenapa?”
“ Suruh dia dandan secepatnya, terus turun, gue mau ajak dia jalan!” jawab rully agak kesal
“ Jalan? Kemana?” tanya lna yang tiba-tiba berubah ekspresi.
“ Ke mana kek!”
Loe enggak bisa gitu dong! Nanti kalau zsa-zsa diomelin om tante gue,gimana?” omel luna
“ Ya, bilang aja diajak gue!”
“ Ya, udah tunggu sebentar, gue bilangin !”
“ Eh tunggu, sekali lagi gue enggak mau dibilangin kembar sama tuh cowok, biar gue tahu dia lebih ganteng !”
…….
“ Zsa, lagi ngapain?”
“ Nggak, kenapa ?”
“ Ada rully !””dari tadi juga emang ada ruli”
“ Bukan, rully teman kita !”
“ Oh ya ngapain?” wajah zsa-zsa berubah menjadi ceria.
“ Senang deh ! dia mau ajak loe jalan katanya !”
“ Masa sih?” seru zsa-zsa gembira.
“ Ya, udah sana ganti baju, dandan buruan. Kayak enggak tau itu anak kan cerewet.!”
Zsa-zsa beranjak berganti pakaian dan dandan.Sementara luna membantu merapikan rambut.
“ Luna, kak ruli ditinggal sendirian.!”
“ Biarin aja!”
“ Luna gue seneng akhirnya rully mau ngajak gue jalan!”
“ Ya, tapi nanti loe jangan lupa cerita sama gue!”
Pasti dan tentu, karena semua tentang perasan gue sama Rully kan Cuma elo yang tau!”
” Udah yuk!”
……
“ Kak Ruli jalan dulu !” seru zsa-zsa
“ Hati-hati Rul, gue mau loe bawa pulang Zsa-Zsa dalam keadaan utuh, awas loe!”
“ Udah sana urusin yang di dalem, awas loe ngapa-ngapain !” balas Rully sambil menstarter motornya
“ Ngapain?”
“ Yah ngapain aja orang cuma berdua!”
……
“ Udah jalan mereka?”
“ Udah kak.”
“ Oh ya, ngomong-ngomong om tante kamu ke mana sih?”
“ Lagi nonton teater di balai Sarbini!”
“ Oh..”
Tidak lama kemudian Ruli pulang, akan tetapi sebelumnya
“ Luna, aku suka kamu..”
“ Maksud kak Ruli ?”
“ Maukah kamu jadi cewek saya?”
“ Maaf kak, saya juga suka kakak, tapi hanya sebagai teman dan kalaupun harus lebih saya mau kakak menganggap saya sebagai adik.”
“ Baiklah kalau itu yang Luna mau, nggak apa-apa!” ujar Ruli menghela nafas.
“ Maafin luna ya kak”
“ Iya, nggak pa-pa”
Luna sempat memikirkan sikap Rully yang berbeda terhadapnya akhir-akhir ini.
“ Zsa, semalam loe jalan kemana?”
“ Luna gue sebel sama dia , aneh banget si Rully diem aja!” keluh zsa-zsa kecewa
“ Iya gue pengennya dia ngomong sama gue, masa gue terus yang memulai pembicaraan.” Gerutu zsa-zsa
“ Ya sudah mungkin dia lagi nggak mood!”
“ Nggak mood kok ngajak jalan.”
“ Yah justru itu fdaripada BETE kaleee. Yang gue pengen tau loe kemana aja!” tegas luna
“ Ke senayan, itu juga Cuma sebentar, eh dia malah ngajak gue pergi ke tempat, loe tau gak gue kemana?” cerita Zsa-Zsa berapi-api.
Luna menggeleng.
“ Ke tempat sirkus!”
“ Sirkus?”
“ Udah ah males ngomonginnya lagi.”
“ Sebenarnya, Rully kenapa ya ?!” tanya Luna dalam hati
“ Terus kemarin kak Ruli pulang jam berapa?”
“ Nggak lama setelah loe pergi,loe tau nggak apa yang terjadi?”
“ Apa?”
“ Dia nembak gue”
“ Ahh yang bener loe?”
“ Terus jawabannya?”
“ Nggak!”
“ Payah!”
“ Tapi, jangan cerita sama orang lain ya? Janji ya?!”
“ Iya gue janji”
Senin pagi ketika seluruh siswa tengah bersiap-siap untuk mengikuti upacara Luna bercanda dengan teman-temannya. Dari sudut kelas Rully terus menatap dan memperhatikan Luna. Tak sedikitpun ia membiarkan Luna lari dari pandangannya. Luna memergoki tatapan tajam Rully.
“ Ya Tuhan pandangan Rully benar-benar tajam, namun beda ada apa ya sebenarnya?!” batin Luna terbata-bata.
“ Wei jangan bengong!”usik temannya
“ Eh udah bell baris yuk!”
Seluruh siswa di dalam kelas menuju lapangan upacara. Luna terkejut begitu ia tau Rully berbaris tepat di sampingnya. Ia hanya tercengang, Rully pun menoleh menatap tajam. Luna tak mampu bersuara apalagi menyapa. Upacara pun berlangsung dengan hikmat. Namun pikiran luna yerbang memikirkan Rully yang sikapnya berbeda. Menit demi menit berlalu upacara pun selesai. Peserta upacara di bubarkan, begitu Luna balik kanan Rully menyergahnya.
“ Ada apa Rul?” tanya luna agak gugup
“ Luna gue pengen loe tau sesuatu..” kata Rully hampir tak terdengar karena begitu gaduh suara dilapangan.
“ Apa?” Luna memberanikan diri melihat mata elang Rully.
“ Gue mau jadi milik loe.”
Hati Luna seperti terbang ke langit ke tujuh. Dia setengah tak percaya dan tiba-tiba tertawa, seolah olah sesuatu yang lucu tengah terjadi.
“ Luna sekali lagi…. ( Rully menarik nafas dalam-dalam) gue sayang dan cinta sama loe lebih dari apapun.!” Rully menegaskan kembali sambil merengkuh pundak Luna.
Bibir Luna gemetar tubuhnya lemas.
“ Rul..” lirih Luna berbisik menggelengkan kepala
“ Apa? Enggak bisa? Kenapa? Apa karena mahasiswa itu?” tanya Rully agak keras.
“ BUKAN…”
“ Oke oke, itu terserah loe,,” Rully pergi meninggalkan Luna sendirian di lapangan.
Air mata Luna pun bercucuran setelah ia tahan. Agar Rully tidak mengetahui apa yang Luna rasakan. Luna sadar hanya ada dia di lapangan, luna pun segera berlari ke kelas. Ternyata terjadi pertengkaran antara Rully dengan Bayu. Pertengkaran akhirnya dapat dihentikan.
“ Ada apa sih?” tanya Luna sendu.
“ Itu si Rully datang- datang marah-marah , si Bayu nggak terima jadi sasaran, terus ya ribut.”
“ohh..”
Dalam hati Luna ada sedikit rasa bersalah. Pulang sekolah Luna memutuskan untuk pergi ke bogor.
“ Luna, loe nggak bareng?” tanya Zsa-Zsa
“ Nggak, gue mau ke tempat kosnya kak Ruli.”
“ Ngapain? Kan jauh!”
“ Ada hal penting yang harus gue sampaikan,”
“ Loe berani sendiri?”
“ Berani!”
“ Hati-hati ya!”
Luna pergi ke Bogor sendiri dengan menggunakan kereta api. Di jalan perutnya keroncongan. Luna belum makan siang. Luna berusaha menahan sampai benar-benar ia menemukan tempat kos Ruli. Ia menyusuri Taman Topi sampai ia menemukan angkot untuk menuju daerah Malabar, dimana Ruli tinggal. Suasana Kota Bogor begitu sejuk dan terlihat mendung. Pohon-pohon besar berbaris rapi di pinggir jalan Juanda dan Pajajaran. Luna turun tepat di dekat Pangrango Plaza dan ia mulai bertanya-tanya pada banyak orang. Hingga akhirnya ia temukan tempat kos Ruli.
“ Assalamualaikum..apa benar ini tempat kosan Ruliandi?”
“ Ya..benar, kamu siapa dan ada perlu apa?” tanya ibu kos.
“ Maaf bu, saya Luna adiknya kak Ruli, saya bisa bertemu dengan dia bu?”
“ Oh tunggu sebentar ya!”
Semua penghuni tempat kos tersebut adalah laki-laki. Luna agak takut juga dan grogi, karena banyak laki-laki yang hilir mudik keluar masuk. Luna menunggu di teras.
“ Luna!”
“ Kak Ruli!”
“ Ya ampun sayang! Kamu ke sini sendiri? Syukur kamu selamat! Ada apa?”
“ Kak cari makanan dulu yuk, aku lapar banget belum makan, tadi pulang sekolah naik kereta!”
“ Ya udah yuk kita makan!”
Mereka makan nasi timbel dan ayam bakar. Tiba-tiba di kota hujan itu hujan pun turun.
“ Ya ilah ini kan musim panas kok ada hujan!” ujar Luna.
“ Yah namanya juga kota hujan, musim hujan atau nggak sering hujan heheh!”
“ Banyak geledek juga donk!”
Sambil menunggu makanan. Luna mencurahkan semua isi hatinya. Luna curhat tentang Rully.
“ Kak, kakak tahu Rully kan?”
“ Ya, kenapa?”
“ Tadi pagi dia nembak aku!”
“ Maksud kamu dia nyatain cinta ke kamu?”
“ Ya kak!”
“ Lucu ya, dalam beberapa hari dua orang RUL-RUL, nembak kamu hehe!”
“ ihhh kakak aku serius!”
“ YA, ya kenapa? Kok kelihatannya kamu malah bingung, kamu suka dia juga nggak?”
“ Justru itu ,aku bingung kak, maaf ya kak sebelumnya, aku nggak bermaksud bikin kakak ikut bingung dan jealous kakak, sebenarnya..aku juga suka dia, tapi kakak tahu kan dia itu sahabatku dari kecil. Tadi pagi waktu dia nembak aku, aku hanya menggeleng, tapi gelenganku itu bukan berarti aku menolak dia, ada sesuatu yang ingin aku jelaskan tapi aku nggak bisa menjabarkannya!”
“ Cep cep jangan nangis, yuk kita makan dulu! Malu tuh dilihatin orang banyak, tar dikira aku pacar kamu yang bikin hamil kamu lagi, heheh!”
Luna menyeka air matanya dan tersenyum kecil. Usai makan ia lanjutkan lagi curhatnya pada Ruli.
“ Luna, kalau kamu sehati dengannya, kenapa nggak kamu nyatain juga? Kamu akan menyesal seumur hidup jika kamu hanya memendam dan sampai nanti kamu nggak bisa lupain dia!”
“ Jadi aku harus bagaiman kak?”
“ Kamu harus jujur pada diri sendiri dan tentunya pada dia!”
“ Tapi kakak tahu kan Zsa-Zsa yang tinggal di rumahku, dia begitu mencintai Rully kak, hampir setiap hari aku mendengar curhatnyatentang Rully.” Tutur Luna dengan nada sedih.
“ Iya-iya kakak ngerti!”
“ Yahhh tapi nggak apa-apalah, emang Rully bukan untuk aku kali kak, lagipula Luna juga nggak lama lagi akan pindah ke luar negeri!”
“ Apa? Kamu mau kuliah di luar?”
“ Bukan hanya kuliah kak, tapi tinggal di sana mungkin untuk selamanya. Kami sekeluarga memutuskan untuk pindah ke Irlandia!”
“ Irlandia?”
“ Iya, tanteku itu kan orang Irlandia.”
“ Tapi, kamu sewaktu-waktu bisa ke sini lagi kan?”
“ Pasti!”
“ Ya ampun Luna, aku nggak nyangka kalau pertemuan kita akan begitu singkat sekali!”
“ Ya sebenarnya aku sedih banget, dan belum ada orang lain yang aku kasih tahu kecuali kakak!”
“ Ya jaga dirimu baik-baik! Kakak akan selalu ingat sama kamu. BTW.. lusa aku wisuda, kamu hadir ya dampingi ibu saya. Nanti ibu saya berangkat pagi-pagi dari Jakarta bareng sama kamu!”
“ Oh kalau begitu, pakai mobilku aja kak!”
“ Jangan repot-repot!”
“ Udah gampanglah!”
“ LUNA!” panggil seseorang mengejutkan mereka berdua.
“ Rully?!” Luna dan Ruli terkejut melihat kedatangan Rully dengan keadaan basah kuyup.
“ Luna, apa-apaan loe, loe itu cewek, ngapain loe ke kosan cowok sih! Nggak pantas dan bahaya tahu!”
“ Rully!”
“ Heh…jauh-jauh loe ke sini hanya demi nemuin mahasiswa ini!” emosi Rully semakin tak terkendali.
“ Rul, gue ke sini untuk nyelesaiin satu masalah, bukan untuk apa-apa! Loe jangan negatif thinking ya, gue sama kak Ruli nggak ada hubungan apa-apa! Lagipula loe ngapain nyusul ke sini!”
“ Ayo Lun, kita pulang!” ajak Rully berusaha meraih tangan Luna.
“ Nggak mau, gue mau pulang sendiri!”
“ Luna…gue khawatir sama loe!”
Ruli berusaha meredam mereka.
“ Rully, apa nggak sebaiknya tunggu hujan berhenti! Sebentar lagi juga berhenti!”
Akhirnya mereka menunggu hujan reda.
“ Ayo Lun, hujannya dah reda!” ajak Rully.
“ Nggak, gue mau pulang naik kereta aja!”
“ Luna, ikutlah dengan Rully, dia jauh-jauh ke sini hanya untuk jemput kamu.” Saran Ruli.
“ Aku kan nggak minta dia jemput aku!”
“ Iya tapi hargai dia, ingat kamu harus jujur seperti yang tadi aku bilang!”
“ Baiklah,”
“ ok hati-hati kalian di jalan!”
“ Makasih ya kak!”
Luna diboncengi Rully dengan sepeda motor. Akhirnya mereka pulang berdua. Tidak lama kemudian hujan turun lagi.
“ Rul, nggak usah berteduh..gue udah terlanjur basah..jalan terus!”
Tanpa sadar Luna memeluk erat Rully. Perasaan Rully saat itu sangat senang.
“ Rully gue sayang banget sama loe!” batin Luna di bawah air hujan.
Beberapa jam mereka di dalam perjalanan akhirnya mereka tiba. Zsa-Zsa terkejut menyaksikan mereka berdua basah kuyup.
“ Ya ampun..dari mana kalian berdua?”
“ Zsa-Zsa tolong buatin teh hangat buat Luna sekalian suruh dia mandi air hangat!” Rully menyuruh Zsa-Zsa.
“ Gue langsung pulang!”
“ Ok sayang….mmmmuuuaacchhh!” Zsa-Zsa mencium Rully yang basah kuyup di depan mata Luna bersamaan suara petir yang sama gemuruhnya di hati Luna saat melihat ciuman mendarat di pipi Rully.
Rully pun tersentak. Luna langsung memilih masuk ke dalam rumah IA langsung menuju kamar mandi dan menangis di bawah aliran shower.
Setelah mandi, Luna meminum teh hangat manis yang disediakan oleh Zsa-Zsa.
“ Zsa..kok loe bisa sih nyium Rully gitu?” tanya Luna agak ketus.
“ Ya, ampun Luna! Gue lupa cerita sama loe, kalau hari ini dia nembak gue!”
“ Apa? Nembak loe juga?”
“ Maksud loe? Emang ada yang dia tembak juga hari ini selain gue?”
“ Nggak, maksud gue…hhhhh syukurlah akhirnya loe bisa jadian sama dia, selamat ya!”
“ Ini semua juga kan berkat loe!”
“ Ya udah, gue tidur duluan yah!”
“ Loe nggak makan dulu?”
“ Ntar aja, ntar kalau lapar gue bangun.”
Dua hari kemudian Luna pergi menghadiri acara wisuda Ruli. Seharian penuh Luna berada di Bogor. Luna tidak tahu kalau hari itu Rully tidak masuk sekolah sama seperti kemarin.
Di jalan menuju pulang dari Bogor. Handphone Luna berdering. Tepatnya di tol Jagorawi.
“ Luna…loe di mana sich?”
“ Gue lagi di jalan mau pulang!”
“ Ohh cepatan dong, anterin gue ke rumah Rully!”
“ Mau ngapain?”
“ Gue mau jenguk dia, udah dua hari dia sakit!”
“ Sakit gara-gara jemput loe kemarin kali!”
“ Oh ya udah tunggu ya!”
Pembicaraan pun berhenti. Luna berpikir Rully sakit akibat kehujanan menjemput Luna dua hari yang lalu. Kata-kata Zsa-Zsa membuat Luna tersinggung.
Akhirnya Luna dan Zsa – Zsa pergi menjenguk Rully .
“ Rully , Loe engga apa – apa kan ? “tanya Zsa – Zsa berbasa basi dengan nada manja .
“ Nggak . “
Sementara itu Luna berusaha menutupi rasa cemburunya itu , walaupun Rully terus memandangnya .
“ Rul gw minta maaf ya, gara – gara gue loe jadi sakit .
“ Nggak, emang gue kok yang salah, lupa bawa jacket, jadi loe nggak usah nggak enak gitu sama gue.“ tukasnya .
“ Rul, loe gimana sih ? Apa yang dikatakan Luna itu benar, gara – gara loe jemput dia kehujanan jadinya loe sakit, seharusnya loe nggak sakit, tapi Luna eh…. sementara loe sakit, dia pergi bersenang – senang ke acara wisudanya kak Rully ! “ cerocos Zsa – Zsa pedas .
“ Zsa – Zsa! “ bentak Rully .
“ Zsa, Kok loe begitu sih sama gue ? “ tanya Luna menyesal .
Zsa – Zsa pun keluar meninggalkan mereka berdua .
“ Zsa!“ panggil Luna berusaha menyergah namun Rully menarik lengannya .
“ Biarin aja Lun!“
“ Tapi….”
“ Apa? Dia tuh cewek nggak tahu balas budi ! ! ! “
“ Rully .“
Ujian Nasional tiba juga akhirnya. Selama beberapa hari mereka harus mengikutinya tanpa terkecuali. Tiga minggu kemudian pengumuman kelulusan di umumkan.
“ Luna, kok loe sedih? Seharusnya gembira kayak mereka dong, khususnya gue !” seru Rhea menghampiri Luna yang duduk termangu.
Tanpa segan-segan lagi Luna menceritakan semua yang telah terjadi antara dirinya, Rully, Zsa-Zsa dan Ruli. Ternyata Rhea menyembunyikan sebuah rahasia yang akhirnya ia ceritakan pada Luna.
“ Rhea, gue harus bagaimana ?” isaknya bingung.
“ Luna, gue sama Rully itu temanan dari SMP. Dia sering banget cerita tentang loe, sahabatnya yang di Bandung, yang dia kenal di tempat sirkus, sewaktu loe di Jakarta. Dia juga udah cerita semuanya, seperti yang loe ceritakan barusan. Dan kita semua tahu kalau Rully playboy abis! Tapi nggak ada yang tahu cinta pertama ?Ya kan ?”
Sesekali Rhea menghela nafas dalam-dalam dan lumayan air matanya berkali-kali karena terus berlinang.
“ Siapa cinta pertamanya, Rhea ?”
“ Itu rahasia, hanya Rully yang tahu. Yang pasti, dia bilang ke gw….siapapun cinta pertamanya itu, maka itulah cinta terakhirnya !”
“ Lalu bagaimana kita bisa tahu ?”
“ Dia punya cincin kesayangan dan cincin itu aakan diberikan pada first lovenya. Dia juga janji, kalau tak terbalaskan, Ia akan ups maksud gw dia nggak mau pacaran lagi…
Jadi, menurut gw lakukan apa yang menurut loe baik !”
“ Tapi Zsa-Zsa…….”
“ Jangan pikirin dia. Selama ini dia nggak pernah mikirin loe, kita semua, padahal kita semua khususnya loe selalu care sama dia, kadang gw sebel banget sama gayanya yang diam, tapi menenggelamkan, bukan menghanyutkan !!!!!!!”
Lusa seluruh siswa kelas III SMU 21 PELANGI pergi menuju ke Cibodas. Mereka akan mengadakan malam perpisahan disana. Sementara Luna terus merahasiakan rencana kepindahan ke Irlandia, kecuali Ruli. Zsa-Zsa yang tinggal bersamanya sedikit pun tak mengetahuinya.
Malam perpisahan pun diadakan secara sederhana namun begitu mengesankan untuk meraka semua. Luna berusaha menutupi kesedihannya dengan ikut mengisi acara. Ia naik ke panggung dan menyanyikan sebuah lagu milik the cors yang berjudul One Night.
Saat menyanyi Lana menatap ke sudut dimana Rully duduk berdua dengan Zsa-Zsa. Ia lihat Zsa-Zsa bersikap penuh agresif, namun Rully tak mau membalasnya, berhubung ada Luna.
“ RULLY………………….”
Keesokan harinya seluruh siswa kembali ke Jakarta. Akan tetapi, lain halnya dengan siswa kelas III IPA 1, mereka tak kembali untuk pulang, melainkan melanjutkan perjalanan ke Pangandaran. Disana mereka akan mengadakan acara khusus. Selain untuk mengadakan acara perpisahan, mereka juga berekreasi di pantai maupun di cagar alam.
“ Lun, kita-kita mau naik perahu, mau ikut nggak?!” ajak Rhea bersama teman-teman Luna lain.
“ Zsa-Zsa nggak ikut ?”
“ Nggak, lihat aja mana mau dia ikut kalau lagi pacaran gitu !” sahut Reece
Akhirnya Luna bersama kelima Temannya yang lain pergi menumpangi perahu yang mereka sewa. Namun mereka mengalami sial, perahu yang mereka sewa bocor. Mereka semua panik dan istirahat.
Spontan Rhea yang kebetulan membawa handphone langsung menghubugi Rully. Rully dan orang-orang yang ada di tepi pantai melihat tanda-tanda bahaya berupa lambaian bendera.
Beberapa orang nelayan segera menolongnya.
“ Rully, loe mau kemana ?” tanya Zsa-Zsa berusaha menyergah.
“ Gue mau nolongin Luna sama anak-anak, karena gue tahu Luna nggak bisa renang !”
“ Yang lain juga nggak bisa renang di laut.”
“ Ya, tapi Luna nggak bisa sama sekali, keseimbangan badannya berkurang jika di dalam air, gue paling tahu Zsa ! Jadi, jangan pernah berharap kalau gue akan lebih peduli sama loe daripada sama dia! Ingat itu ! Gue sangat menyayangi Luna lebih dari cewek mana pun, termasuk loe, Zsa !” Rully langsung berlari menuju laut dan berusaha menolong Luna.
Sementara Zsa-Zsa terpaku mendengar kata-kata Rully. Akhirnya mereka berhasil diselamatkan.
* *
Sore hari, sehari sebelum keberangkatan Luna ke luar negeri, Rhea, Reece dan Zsa-Zsa berkumpul di rumah Luna. Mereka berempat saling meminta maaf. Kebetulan sekali Ruli datang bersama ibunya.
Rencana kepindahan itu sama sekali tak diketahui oleh Rully, walaupun kedua orang tua Rully telah mengetahuinya. Hari itu pula Rully datang bersama kedua orang tuanya. Rully heran begitu melihat teman-temannya ada di sana.
“ Wah, Lun ada acara apaan sih ? Bisa ngumpul semua!”
“ Rul, sore ini mau nggak loe temenin gue ke tempat sirkus itu ?”
“ Boleh, tapi bagaimana dengan yang lain ?”
“ Nggak apa-apa kok Rul !!!!!” seru yang lain kompak.
“ Ya, Rul !” tambah Zsa-Zsa dengan wajah berseri-seri melihat keduanya bahagia.
Bahkan belasan tahun telah dijadikan sebagai tempat hiburan anak-anak.
“ Wah, sekarang nambah hiburannya ! ada kemidi dan pasar malam segala!” seru Rully
“Ya, kayak di Dufan aja! Tapi nggak apa-apa jadi tambah ramai !”
Akhirnya mereka menyaksikan pertunjukan sirkus malam itu. Usai itu mereka naik kemidi putar.
“ Rul, loe nggak malu apa?”
“ Ngapain malu !!”
Sesudah itu mereka pergi mencari makanan dan minuman. Malam itu mereka lewati tanpa ada sesuatu yang mengganjal di hati. Seolah-olah mereka kembali seperti dulu, semasih di antara mereka tak ada perasaan lain selain bersahabat.
“ Lun, bianglala yuk !”
“ Ayo !”
Sementara itu Luna mengeluarkan sebuah buku yang terlihat kusam dan menunjukkannya pada Rully.
“ Apaan ini Lun ?”
“ Rul, ini buku harian gue yang almarhum ayah gue
tulis saat gue berusia lima tahun.”
Kemudian Luna menunjukan sebuah halaman tertanggal 14 Februari 1990. Di halaman itu tertulis kisah tentang Luna yang hilang di tempat sirkus dan bertemu dengan Rully.
“ Lun, jadi pertama kali kita ketemu waktu dulu tanggal 14 Februari, wah pas valentine dong ! Ayah loe rajin banget yah, berarti almarhum sayang banget sama loe. Sampai umur berapa almarhum nulis buku harian loe ?”
“ Sampai gue umur 10 tahun.” kenang Luna haru.
Tak sadar kursi bianglala itu berhenti,tepat sekali mereka berdua berada di paling atas. Rupanya sedang pergantian penumpang. Begitu mendapat gilirin………
“ Maaf bang saya nambah satu putaran lagi, nih uangnya!“ ujar Rully sambil menyodorkan sejumlah uang pengganti karcis . Untung saja petugas itu memperbolehkannya .
“ Thank you bang ! ! ! “ unjar Rully ramah .
Kemudian kincir angin itu kembali berputar .
Keadaan berubah menjadi syahdu .
“ Rul , apa Rully masih menyayangi Luna lebih dari sebagai sahabat , karena sebenarnya apa yang telah Luna katakan semuanya bohong, nggak benar, sebenarnya Luna sayang banget sama Rully, lebih dari apapun, Luna sangat, gw sangat mencintai Loe Rul!“ isak Luna jujur pada Rully .“ Lun , selamanya juga gue akan tetap sayang loe! Gue janji !“ bisik Rully sambil memeluk dan mencium kening Luna .
Luna melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya begitu Rully.
“ Lun , ini cincin kesayangan gue , dan ini akan gue berikan untuk loe.“
Usai itu mereka pulang . Malam itu mereka resmi menjadi sang kekasih .
“ Rul , kita pulangnya jalan aja , mau nggak ? “
“ Jalan ? “
“ Ya , sekarang baru jam 10 ! kita jalan santai aja sampai jam 12. “ tambah Luna berseri – seri.
“ Gila udah malam! “
“ Rul, please, malam ini aja, sekali ini aja!“ Luna memohon dengan penuh harapan.
“ Gue sih oke aja Lun , tapi loe kan cewek, lagi pula bagaimana Om tante Loe , begitu juga dengan bokap nyokap gw ! “
“ Rul , Loe sayang sama gue kan ? “ tanya Luna Lirih .
“ Ya , gue sayang banget sama Loe Lun , tapi . . .”
“ Please Rul, gue enggak akan pernah meminta apapun lagi dari loe, gue janji ! “ ujar Luna dengan nada sendu .
“ Oke Lun ! “
Akhirnya mereka berjalan sepanjang jalan yang mereka lewati saat berangkat, hingga tepat pukul 12 malam .
Satu jam lamanya mereka berjalan tiba – tiba hujan turun deras sekali .
“ Rul , ada masjid , kita berteduh di sana aja ! “
Mereka berlari menuju masjid sambil bergandengan tangan .
Terdengar dari dalam masjid suara orang sedang mengaji .
“ Rul, ngomong – ngomong kita belum shalat Isya yuk! “
Kebetulan di dalam masjid tersedia mukena. Mereka akhirnya shalat berjamaah . Usai menjalankan ibadah shalat, mereka kembali keluar, duduk memandangi hujan malam itu. Tak sepatah kata pun terucap dari bibir mereka. Mereka sesaat hanya saling memandangi dan tersenyum kembali menatap langit malam itu .
Tanpa sadar Luna tertidur pada sandaran tiang ia bersandar.
Sementara hujan telah berhenti . Rully tak segan membangunkan Luna yang terlihat lelap. Rully memberhentikan taxi dan segera menggendong Luna kedalamnya dan menuju rumah. Luna terbangun .
“ Rul ! “
“Ya , tadi loe ketiduran . “
“ Sekarang jam berapa ? “
“ Jam 12 lewat 5 menit . “
“ Oh ya , berarti kita . . .”
“ Berhasil ! “
“ Terima kasih ya Rul ! Rul , Luna juga mau minta maaf kalau selama ini Luna banyak salah ! “
“ Luna , ngomong apaan sih Loe , kayak besok enggak ketemu lagi aja ! “
“ Nggak ada salahnya kan kalau kita minta maaf sama orang lain, sebelum terlambat, karena umur kan nggak ada yang tahu , belum tentu besok kita masih disini, belum tentu Luna ada di samping Rully yang tersayang! “
“ L U N A ! ! “
Keesokan harinya tepat saat Luna akan berangkat, Luna masih saja bersi keras untuk tidak memberitahukan Rully akan kepergiannya. Begitu pun dengan teman-temannya yang diminta untuk tidak memberitahukan. Luna bersama Om dan Tantenya, akhirnya terbang ke Irlandia.
Pagi itu terpaksa Ibu Rully membangunkan putranya itu.
“ Rul, bangun Rul…!!”
“ Kalau kamu terus tidur, maka kamu akan menyesal seumur hidup, karena Luna akan pergi !!!”
“ Pergi ke mana Ma ?”
“ Luar Negeri.”
“ Apa? Mama nggak bohong kan? Kok mendadak!”
“ Sudah, yang penting sekarang kamu segera kejar dia!”
Tanpa berpikir panjang lagi Rully langsung pergi menemui Luna dengan sepeda motor. Namun yang terjadi Rully tak berhasil menemui Luna, karena ia mengalami kecelakaan.
Luna menitipkan sebuah surat untuk Rully pada Zsa-Zsa.
Surat itu Rully baca dua minggu kemudian. Dengan berat hati akhirnya Rully mau membaca surat dari Luna yang berisi :

Rully-Ku yang paling Luna sayang.
Hanya ada kata maaf dan terima kasih yang Luna dapat Luna berikan sebagai tanda cinta kita.
Sebagai kenangan perpisahan kita percayalah perpisahan ini hanyalah sementara, hanya bersifat Lahir, karena Luna janji suatu hari Luna akan kembali untuk menemui Rully.
Hari itu akan jatuh tepat pada hari Valentine seperti pertama kali kita bertemu. Hari itu Luna janji akan menjadi Luna yang dulu, sekarang , nanti untuk selamanya. Walau Luna nggak akan pernah tahu apakah saat itu Rully masih seperti Rully yang Luna kenal.
Apapun yang terjadi pada Rully atau Luna sendiri. Luna akan tetap kembali, kambali hanya untuk Rully…….Percayalah Sayang ! Mungkin berat hatimu untuk percaya semua ini karena terbentang jarak, ruang dan waktu. Untuk membuktikannya, jelas Luna nggak mampu.
Semua akan kita sadari sendiri, bila waktu telah tiba saat itu, ku harap kau datang menjemputku PangeranKu dengan kereta kencana menuju istana untukku, untukmu kembali hanyalah Untukmu………..
Untukmu sayang…….selamanya………..
Maafkan atas kepergian-KU
Terima kasih atas semua cinta – MU….

By. Luna Kalma

Enam tahun kemudian Luna datang memenuhi janjinya. Hari itu jatuh pada tanggal 14 Februari 2009. Hari bertepatan dengan hari ulang tahun Rully. Luna berharap Rully tidak berubah. Kedatangan Luna tidak direncanakan dan membuat keluarga Rully pun gembira.
“ Luna, sayang apa kabar kamu? Tambah cantik! Om tante kamu bagaimana kabarnya?”
“ Alhamdulillah baik! Om dan tante sendiri bagaimana?”
“ Kami baik. Kenapa nggak kasih kabar sich kalau mau ke sini? Kan bisa dijemput di bandara!”
“ Maaf tante, Luna mau kasih kejutan ke Rully. Rully ada kan tante? Aku sebenarnya udah lama mau ke sini, tapi nggak sempat-sempat, Rully juga susah banget dihubungi, emailnya ganti!”
Raut wajah orang tua Rully berubah sendu.
“ Yah banyak hal terjadi setelah kamu pergi!”
“ Maksudnya?”
“ Luna, sebaiknya kamu temui Rully, dia ada di taman belakang…, nanti kamu istirahat ya, tante lihat wajah kamu pucat banget!”
Luna langsung menuju ke taman belakang. Langkah dan wajahnya begitu ceria menemui laki-laki pujaan hatinya.
“ Rully!!!” panggilnya terputus. Luna terkejut melihat keadaan Rully.
“ Rul, apakah itu Rully?” tanyanya dalam hati melihat seorang laki-laki duduk di atas kursi roda.
“ Jangan mendekat!” ujar Rully.
“ Rully..Luna ..”
“ Cukup! Gue bilang jangan mendekat!”
“ Rul, Luna ke sini mau ketemu Rully, Luna mau nepatin janji Luna,”
“ Gue nggak pernah minta loe balik ke sini lagi, jadi nggak ada janji yang harus loe tepatin!”
“ Rully…” Luna menghampiri Rully.
Luna terkejut sekali. Air matanya bercucuran deras melihat kaki kanan Rully tidak ada.
“ Rully..bagaimana bisa…” kalimatnya kalah dengan air mata.
“ Bagaimana kaki gue bisa buntung begini? Ini semua gara –gara loe, air mata loe nggak bisa mengembalikan kaki gue!”
“ Rul…” air mata Luna makin deras.
“ Gue benci loe Lun, loe jahat, loe nggak sayang dan cinta sama gue, loe ninggalin gue, waktu loe pergi, gue berusaha untuk mengejar loe, tapi yang ada gue kehilangan orang yang paling gue cinta dan kehilangan sesuatu yang membuat gue bisa melangkah!”
“ Rul, maafin Luna…Luna nggak bermaksud…”
“ Apa? Dari dulu loe pandai berpura-pura, mulai dari pura-pura tidak cinta sama gue, pura-pura cinta sama gue, sampai ninggalin gue begitu aja…Loe jahat!”
“ Rul, loe salah! Justru loe yang nggak pernah balas semua email Luna, dan tiba-tiba ganti email? Kenapa? Rully baca kan semua email Luna? Tapi kenapa tak satu pun Rully bales? Kenapa ? Luna ke sini Cuma mau nepatin janji, asal Rully tahu..sampai detik ini Luna masih cinta sama Rully.. mungkin untuk selama-lamanya. Kalau Luna bukan pilihan Rully, Luna akan pergi dari kehidupan Rully untuk selama-lamanya,” air mata Luna bercucuran menahan sakit hati dan tubuhnya yang sedang lemah.
“ Lun, mendingan loe pergi dari sini, air mata loe nggak akan bikin gue percaya!”
“ Baik, Luna pergi! Selamat ulang tahun ya…” dengan berat Luna melangkah pergi.
Luna bertemu dengan ibu Rully.
“ Luna, kamu kenapa?”
“ Tante..” Luna memeluk.
“ Kenapa sayang?”
“ Aku cinta Rully tante, dari dulu..sampai aku mati..”
“ ssttt sayang…”
“ Tante aku harus pergi sekarang juga!”
“ Tapi,,”
“ Tante, aku titip ini!”
“ Luna hati-hati sayang!”
“ Baik tante!”
Dengan mata sembab dan pikiran kacau Luna pergi meninggalkan rumah Rully. Ia langsung menuju sekolah SMA-nya. Beberapa menit ia mengenang kisah masa lalunya di sana. Usai itu Luna langsung menuju bandara.
Beberapa jam kemudian Luna sudah duduk tenang di dalam pesawat. Di sebelahnya duduk seorang laki-laki muda yang wajahnya tidak asing.
“ Sepertinya, saya pernah ketemu kamu?” tanya laki-laki itu.
Luna tak mempedulikannya. Ia tak sanggup menahan sakit tubuhnya. Tatapan mata Luna melemah.
“ Kamu Luna bukan?”
Luna mengangguk pelan.
“ Kamu siapa?” Luna menjawab pelan dan benar-benar lemah. Tiba-tiba tangannya menggenggam tangan laki-laki itu.
“ Luna, aku Ruli, kak Ruli!”
“ Kak Ruli!”
“ Luna, kamu kenapa?” Ruli panik melihat kondisi Luna.
“ Luna..kamu kenapa..Luna…Luna…” Penumpang pesawat yang lain pun panik.
“ A L L A H….” Luna menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Ruli menangis. Ruli dan jenazah Luna tidak ikut terbang. Ruli beserta petugas bandara membawa Luna ke rumah sakit. Luna pun menjalani pemeriksaan. Ternyata Luna meninggal.
Sementara Om dan tante Luna datang menyusul ke rumah Rully. Setibanya mereka di rumah Rully, mereka menceritakan semua tentang Luna.
“ Sejak ia di sana, sejak itulah dia tidak sehat. Kemarin dia baru habis kemo!”
Di tengah kegelisahan mereka, muncul kabar berita. Mereka semua menuju rumah sakit. Rully pun ikut dengan mereka. Kondisinya benar-benar sedih. Ia menyesal telah memperlakukan Luna tadi siang.
Luna telah meninggal dunia meninggalkan Rully untuk selama-lamanya.
“ LUNAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA !” jerit Rully begitu mendekap jenazah Luna. Semua menjadi sedih. Air mata berlinangan.
“ Luna sayang…selamanya kau adalah bulanku, penerang di kala hatiku terasa gelap, tapi kuharap kau tenang dan tetap terang bersama bintang-bintang. Aku sayang kamu, aku menyesal, semua yang terakhir kukatakan kepadamu, itu tidak benar, karena sampai detik ini aku masih mencintaimu. Aku pernah berharap, jika usiaku lanjut maka usiaku ini adalah untukmu, tapi aku tak tahu untuk apa usiaku jika kau tak ada di sampingku?”
Sejak itu Rully menjadi lebih murung. Hari-harinya berubah. Setelah ia memiliki kaki palsu, Rully memilih bekerja dan bila ada waktu luang ia memilih untuk menziarahi makam Luna.
JANJI PINK
By: Novica Armayanti
Juli 2003


6 comments

  1. april

    syedihhhh :(, andai aja klo dari awal Luna dan Rully udh saling jujur jd ga ada rasa penyesalan kan.
    isi waktu kosong sambil baca cerpen. hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published.