Novica

Catatan kecilku

26 Jan 2015

Rindu membeku, kaku dan pilu
Hasrat yang syahdu terbelenggu sendu
Jenuh tak puguh
Rapuh tak mengaduh

Hening pikiranmu bening tatapanmu
Sejuk kureguk membuatku mabuk
Melayang terombang jiwa pun gamang
Malang tak menang tak patut dikenang

Pelupukku mulai mengantuk
Harapan keterjagaan terkeruk


7 Januari 2015

Apalah arti sebuah pembelaan terhadapku, jika dalam setiap sikap tak nampak kurasakan ketulusan yang sesungguhnya. Aku sudah pernah kecewa, bahkan lebih dari kecewa. Rasa yang rasanya hampir membuatku tidak tahu bagaimana caranya menerima kenyataan. Aku rasanya bingung bagaimana melanjutkan hidup selanjutnya.
Orang-orang yang kusayangi yang kukira tidak akan pernah menyakiti sedalam itu atau orang-orang yang kusayangi yang kukira tidak akan pernah mengkhianatiku, ternyata tidak seperti yang kukira apalagi kuharapkan.
Semuanya telah membuatku merasa disia-siakan. Lalu aku berpikir, mengapa tidak kuubah hidupku menjadi orang yang bukan seperti sebelumnya. Aku yang perhatian ingin berubah menjadi orang yang cuek. Aku yang perasa ingin berubah menjadi yang tidak berperasaan, dan hal-hal lain yang selalu berakhir membuatku kecewa.
Mungkin aku terlalu keras hati atau keras kepala sampai begini jadinya.
Jadi, karena ini aku hanya butuh pembelaan Tuhan terhadapku.


5 Jan 15

Pulang kerja tadi sore, sepanjang jalan di dalam angkot, aku mendengarkan cerita teman barenganku. Ia menceritakan tentang teman kantornya, setelah kutunjukkan sebuah balasan whatsapp-ku kepada seorang temanku.
Dia membuat pernyataan, orang yang dilihat banyak orang sebagai orang yang periang dan tangguh, ternyata di baliknya merapuh. Mereka tidak menyangka dan terkejut sekali, ketika mengetahui orang tersebut hatinya rapuh. Selama ini karakter yang dikenalnya adalah keras kepala, keras hati, berani dan tangguh, namun di sisi lain ternyata dia lemah dan rapuh, sampai-sampai ia hampir bertindak nekad di luar dugaan.
Aku pun tertegun mendengarnya. Hati kecilku bertanya “Seperti itukah aku yang sebenarnya?”
Aku merasa kadang aku labil, kadang aku berusaha bijak dan dewasa, tapi kadang aku bosan dengan semua itu, bersikap kekanak-kanakan justru kadang menghiburku, sekedar untuk merasakan masa kecil yang indah yang tidak pernah kurasakan seperti kebanyakan anak-anak.
Aku juga kadang sengaja bersikap buruk di depan seseorang, hanya untuk dijauhi karena sesuatu. Namun, aku tentu saja selalu berkeinginan untuk membalas semua hal baik yang kuterima, bahkan lebih dari yang kuterima.


Hujan Kenangan

Terkenang sebuah musim
Musim hujan
Hujan kenangan
Siang dan malam di masa silam
Aku dihujani kenangan
1 kata yang sebatang kara
Kangen
Kangen
Kangen
Itulah yang kuserukan ketika hujan kenangan membasahi hati dan pikiran

Malam ini kenangan silam
Masih tergenang
Kukira sudah tiada terekam
Namun keliru

Mungkin genangan kenangan itu
Tak akan pernah kering
Selama kangen masih menyeru


menyayat hayat

Jingganya langit melukis lembayung senja
Pekatnya langit melukis bintang malam
Ada yang berat untuk diingat
Ada yang lekat untuk dilepas
Bagaimana bisa memisahkan bintang dari malam? Atau sekedar menghalangi jingga untuk lembayung.
Sekalipun Yang Maha Kuasa mengutarakan bahwa mentari kan terbit dari barat, sepertinya tak akan bisa.
Lalu apakah aku akan mudah melupakannya semudah membalikkan telapak tangan?
Bila saja garis takdir bisa kucoret-coret ataupun perangkat lunak memoriku bisa kuretas, maka untuk pertama kalinya yang harus dienyahkan yaitu kamu.
Kamu bukan musuhku. Kamu juga bukan sahabatku. Tapi karenamu justru aku merasa memusuhi diri sendiri bahkan tidak dapat bersahabat dengan hati sendiri.
Mungkin hanya sesaat.
Aku sedang tersesat.
Menyayat penat yang hayat tak kasat.


kamu dengan mereka

Suatu ketika temanku datang mencurahkan isi hatinya. Aku hanya diam mendengarkannya. Entah mengapa air mataku berlinang di pipi seiring dengan tangisannya. Bagaimana tidak kumenangis, apa yang kudengarkan pernah kualami.
” Nov…gw sayang sama dia, tapi dia sayang sama teman baik gw! Gw tau gw banyak perbedaan dan karena itu rasanya lebih menyakitkan!”
Aku tetap saja terdiam menangis. Aku tidak bisa meredakannya. Lalu pelan- pelan kukatakan
” Nanti ada saatny hadir orang yg benar2.. Sayang kita, gw selalu begitu, memendam perasaan, menyembunyikannya. Memang sakit jika yang kita sayang adalah teman kita, dan teman kita memilih teman kita juga, keduanya teman baik. Itu hanya ujian kecil temanku sayang, tunjukanlah bahwa kamu baik2 saja, karena persahabatan adalah segalanya, abaikanlah perasaanmu meski sakit, jika memang tak mampu, jauhilah keduanya, bukan karena kecewa, melainkan karena cinta. Kembalilah setelah kamu sembuh dari luka.”


Apa Kabar si Imut ?

Apa kabar puisi?
wajahnya terlihat pucat pasi
sendu tak menginspirasi
serasa imajinasi mulai basi

Apa kabar si imut?
Rautnya semrawut
Ringkih dan kalut
seperti di ambang maut

Kau yang imut selalu hadir
menginspirasi puisiku
Kau yang imut selalu hadir
meredam emosiku
Kau yang imut selalu hadir
menjenguk ilusiku
Kau yang imut selalu hadir
memancing ambisiku
Kau yang imut selalu hadir
menemani obsesiku

Kau memberi
Sensasi tersendiri
dalam setiap mimpi
dan nyata hari-hari kini


Toga di Ujung Harapan #5

Tahun ajaran baru telah dimulai. Penghuni baru wisma putri sudah tentu banyak yg baru pula. Aku juga otomatis mendapatkan teman baru lagi. Mereka kelas satu. Sungguh seru sekali. Bagaimana tidak, mereka akan beradaptasi di sekolah dan hunian yang baru.
Aku melihat anak-anak tersebut sibuk mengikuti MOS, belum lagi tugas-tugas yang diberikan oleh senior mereka. Tidak hanya itu, di dalam wisma, kakak kelas mereka ikut mengerjai mereka. Aku hanya berdecak heran. Tidak mampu mencegahnya, dan membiarkan semuanya terjadi, karena kupikir itu masih wajar. Penghuni kamar sebelahku adalah anak kelas satu. Kuharap mereka tidak menjadi penghuni yang berisik, karena itu akan membuatku terganggu.
Pekerjaan kantor semakin hari semakin sibuk. Perizinan terus diproses. Hanya saja sebagai keuangan, banyak hal yang memberatkan. Uang tunai yang kuterima Dari customer selalu saja tidak diizinkan untuk disetor langsung ke rekening perusahaan, harus disetorkan me tangan ibu Nana.
Aku curiga akan terjadi sesuatu pada perusahaan ini. Mengingat gaya glamour dan fashionable kedua atasanku.
Sementara proyek mendapat banyak protes dari warga sekitar. Perizinan pun lamban sehingga pembangunan telat yang mengakibatkan konsumen pun kecewa ikut memprotes pihak developer yang dalam hal ini merupakan perusahaan tempatku bekerja.
Dalam situasi yang tidak kondusif tersebut, atasanku justru berfoya-foya membeli mobil sedan baru dan pergi keluar negeri. Aku yakin betul uang perusahaan dipakai untuk hal itu.
Aku punya feeling mereka korupsi. Memang status mereka adalah (more…)


perihatin vs perhatian

Perihatin
Perih hati dan batin

Perhatian
Memperhatikan secara perlahan dengan hati

Apalah arti sebuah perhatian dan rasa perihatin..
Bila hanya akan berakhir luka hati dan batin..
Namun tetaplah perihatin dan perhatian
Tanpa mengharap balasan
Bila sekalipun ada yang mencibir
Mencaci dan menampiknya
Anggaplah suatu sedekah Indah
Yang tak pernah sia sia
Seperti halnya mudahnya kita tersenyum
Ringan tapi indah dan ternilai ibadah

# aku baru tau dan baru sadar…kadangkala tidak sedikit orang menilai, aku golongan orang yang perhatian, bahkan sangat perhatian, akan tetapi sejujurnya tidaklah mudah bagiku untuk menjadi perhatian, karena tiap orang yang kuperhatikan, tidaklah sama porsinya, semua tergantung kedudukan mereka di hatiku.
Dan aku punya alasan kuat mengapa aku bisa jadi orang seperti itu.
Aku sedih..ketika seseorang yang juga kusayang..menyuruhku berhenti memperhatikannya, mungkin ada alasan lain yang tepat, dan dari semua itu, aku belajar sesuatu, bahwa tidak selamanya orang ingin diperhatikan, Dan mungkin dia hanya ingin mendapatkan perhatian dari orang tertentu saja, yang tentunya bukanlah aku. Lalu aku juga belajar, orang yang ada dalam keseharian kita, dekat dengan kita, berada dalam suatu ikatan bahkan berhubungan darah sekalipun, belum tentu dia perhatian.

Dan bentuk perhatian yg rahasia adalah DOA.


Minggu siang

Hari Minggu
Malam minggu kita berjanji besok bangun pagi
Bangun pagi menikmati minggu dari pagi…

Dan selalu saja kunikmati minggu pagi sendiri….

Minggu siang
Ini minggu siang sayang
Adakah waktumu berjalan-jalan padaku hari ini
Melepaskan beban hari-hari kita yang berjalan masing-masing

Minggu siang
Aku duduk sendirian ditemani angin
Hatiku bertasbih
Mataku bersedih
Sedang apa kamu sayang?
Minggu siang tak ingatkah aku
Aku yang kau saying

Jangan biarkan siang menyerang kita
Hingga kita terangsang tak punya bahasa
Berikanlah kursi untukku
Biarkan aku duduk menemanimu
Yang sekarang sibuk berkomunikasi dengan mereka yang di seberang
Sementara aku duduk memandangimu sampai pikiranku lengang
Dan kesibukanmu usang