Novica

Catatan kecilku

Serba Palsu #Horor 1#

Waktu itu tahun 1998. Aku masih duduk di bangku SMP. Aku pulang sekolah menjelang maghrib. Temanku bilang habis maghrib dia mau ke rumahku. Kami janjian untuk mengerjakan PR.
Sesampainya di rumah, hanya ada mama dan adikku. Kakek, Nenek dan Oomku sedang ke masjid. Mereka melaksanakan doa
Dan shalat berjamaah yang bertepatan dengan malam Nisfu Sya’ban. Aku bergegas mandi, wudhu dan shalat Maghrib. Usai salam terakhir, aku mendengar ada yang memanggilku dari luar. Itu suara temanku. Dia sudah datang.
” Ma, itu suara Peni ya Ma?”
” Iya, bukain sana!”
Aku langsung menuju pintu dan membukakan pintu, tanpa melepas mukenaku terlebih dahulu. Tapi tak kudapatkan temanku itu.
” Peni, jangan ngumpet! Jangan bercanda!” Aku berseru sambil mencarinya ke samping kanan dan kiri rumah, karena kupikir dia bersembunyi. Yang kudapatkan hanya gelap gulita. Aku pun berlari ke gerbang dan mencoba keluar gerbang, berusaha mengejarnya, mungkin dia segera kembali pulang, karena aku kelamaan membuka pintunya. Namun jalan pun sepi sekali. Aku tertegun dan memandang ke pohon kapuk besar yang ada di depan rumah, persis di samping ruangan mirip paviliun rumah tinggalku. Aku berlari ke dalam rumah sambil membanting pintu.
” Ma, Peninya ngga ada, mama tadi denger kan suaranya, suara Peni?”
” Iya.”
Lalu kudengar kembali ketukan pintu dan suara memanggilku.
Aku takut untuk membukanya. Ditemani mamaku, aku membukakan pintu, didahului kuintip dari jendela. Kali ini benar temanku yang datang. Dia datang ditemani adiknya. Aku spontan bertanya.
” Tadi udah ke sini ya kabur?”
” Belum.” Jawabnya.
” Masaaa?”
” Iya, tadi udah sampe deket gang ujung jalan, tapi sepi banget iseng, jadi balik lagi ngajak ade!”
” Waduh, serius?”
” Iya beneran, emang kenapa Nov?”
” Yang manggil tadi siapa dong?”
Akhirnya tanpa basa basi, mereka kusuruh masuk untuk mengerjakan PR, dan kuminta pulang tidak terlalu larut.
Jadi, suara yang terdengar itu adalah suara palsu. Entah itu dari yang ingin menakuti atau sekedar ilusi. Tapi, bukan hanya aku yang mendengar, mamaku juga mendengarnya.

Beberapa lama kemudian Ramadhan pun tiba. Kami semua menjalankan ibadah puasa. Berbuka bersama tiap hari di rumah. Seperti biasa aku buka puasa tidak bergabung di ruang makan. Aku berbuka puasa di ruang tamu. Sendiri.
Dengan lahap aku menyantap menu bukaku, yang tidak lain selalu makan nasi begitu buka puasa. Aku tidak terbiasa makanan kecil, karena hanya akan menghambatku untuk makan nasi. Sebab akan kenyang lebih dahulu. Aku menghabiskan makananku. Selesai makan aku pergi ke ruang makan. Aku berjalan melewati kamar tidur, dekat lorong kecil rumah. Tanpa sengaja, aku melongok ke dalam kamar. Aku melihat mamaku sedang shalat Maghrib dengan sarung dan atasan putih. ” Yah mama shalat duluan!” Seruku dalam hati sambil menuju ruang makan.
Spontan aku menjerit dan menangis ketakutan ketika kulihat mamaku sedang makan bersama dengan anggota keluarga yang lain. Aku tersungkur di pangkuan mama karena ketakutan.
” Mama, di kamar itu siapa?” Sambil menangis terus.
Semua jadi bingung melihat dan mendengarkan ucapanku yang diseling tangisan.
” Udah jangan takut!” Kata mama.
Aku sempat tidak mau ke kamar karena aku takut bayangan palsu itu datang menghantui.


Leave a Reply

Your email address will not be published.