Novica

Catatan kecilku

Tas

Hari itu hari Jumat. Aku pulang larut malam seperti malam sabtu biasanya, sebab aku harus mengerjakan gaji mingguan yang akan dibayarkan pada hari sabtu. Aku pulang memilih naik angkutan umum, tidak naik kereta, karena siangnya habis direfleksi. Kalau aku naik kereta, aku akan berdiri tentunya. Kebetulan sekali kantorku selalu memberikan entertaint kepada karyawannya berupa refleksi tiap hari Jumat. Pasien wajibnya adalah aku. Sebab jujur saja sejak mengalami kecelakaan, sarafku terjepit, jadi jalan terbaiknya adalah diterapi.
Aku pulang dengan angkutan umum. Dari kantor menuju pasar kebayoran lalu menyambung angkutan dari Kebayoran jurusan Ciputat. Aku sudah lelah sekali. Belum lagi tugas kuliah menanti di rumah. Besoknya adalah Sabtu, dimana aku harus seharian kuliah berkutat dengan materi kuliah.
Aku memilih duduk di depan di samping sopir. Apalagi tidak ada penumpang lain. Hanya seorang pria duduk di belakang sopir sambil berbincang-bincang dengan sopir tersebut. Aku mengantuk. Aku sandarkan kepalaku dan batin berkata “suatu hari aku harus MRI” untuk mengetahui lebih lanjut keadaan fisikku yang sudah terdiagnosa mengalami saraf terjepit.
Tiba-tiba sopir menginjak rem mendadak. Lalu membuka pintu mengambil sebuah tas yang terjatuh di jalan raya. Kemungkinan besar tas itu adalah milik salah satu pengemudi sepeda motor.
Teman sopir tersebut langsung gaduh tak sabar ingin membuka tas. “Buka aja,,siapa tau ada duitnya, kita bagi dua!”
Sopir angkot tak menghiraukannya. Lalu aku pun bicara
“Bang, ada baiknya kita buka, barangkali ada identitasnya!”
Akhirnya sopir tersebut menyerahkan tas tersebut kepadaku, dan aku memeriksa isi tas tersebut. Dalam tas tersebut terdapat stopwatch manual, handuk kecil, kaos dalam bersih, buku kecil, air minum, nasi hangat, dan ID card yang menandakan si pemilik adalah seorang pengemudi taksi. Aku tertegun memperhatikan ID cardnya. Memandangi foto yang ada dalam ID card, nampaknya sudah paruh baya usianya. Nama orang tersebut Abdul Gafar. Kupikir bapak Abdul Gafar akan melaksanakan tugas malamnya sebagai seorang sopir taksi. Apalagi melihat bekalnya yang masih hangat.
“Hahhh…cuma barang begituan isinya!” Celetuk teman sopir angkot yang kutumpangi.
Aku masih terus memeriksa dan tak lupa kubuka buku kecil tersebut. Aku melihat jadwal-jadwal tertulis di dalamnya. Dan kutemukan sejumlah nama beserta nomor handphone. Nama yang tertera di dalamnya salah satunya adalah Abdul Gafar. Aku terkejut. Kupikir mungkin ini pemiliknya. Kuambil Handphoneku yang baterainya mulai sekarat. Aku juga mengecek pulsaku. Pulsaku pun sekarat. Tapi aku tetap mencoba menghubunginya. Syukurlah ternyata benar beliau adalah. si pemilik tas. Namun angkot yang kutumpangi beda jalur dengan jalan yang dilaluinya. Angkotku lewat pondok pinang setelah melewati arteri pondok indah dan beliau lurus lewat jalur Pondok Indah. Kami janjian di lampu merah Poins square. Akan tetapi sulitnya kendaraan untuk berhenti, akhirnya kami janjian di depan Masjid yang berada di seberang kampus Universitas Islam Nasional – Syarif Hidayatullah.
Macet sekali jalan setiap harinya. Kadang seperti merasa akan tua di jalan. Tas masih kupangku. Sambil berpikir, memang ini tidaklah berharga buatku, tapi berharga buat beliau. Aku menempatkan diri seandainya aku mau buang bisa saja, tapi bagaimana jika ini dialami oleh ayahku, pacarku atau anggota keluargaku yang lainnya.
Akhirnya tiba di depan masjid. Aku turun dari angkot dan menyerahkan tas tersebut. Bapak tersebut senang sekali sambil mengucap syukur Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Ia menyodorkan sejumlah uang untukku. Aku menolaknya. Dia berterima kasih kepadaku. Lelahku malam itu luntur seketika. Terlebih lagi setelah aku kembali ke dalam angkot. Aku baru sadar penumpangnya penuh. Tak lupa kuucapkan terima kasih kepada sopir angkot yang mau ikut membantuku dengan menungguku menyerahkan tas tersebut.
Sopir angkot pun bertanya pulang ke mana? Kujawab dan dia balas jawab, “kalau begitu sekalian saja, saya juga mau pulang, tapi saya mau ke pom dulu, buat besok pagi.” Aku menyetujuinya. Aku diantar sampai depan gang rumah. Depan Masjid Darussalam. Kuberikan uang untuk ongkosnya. Sopir angkot menolak uang bayaran dariku. Dia bilang “Ngga usah Neng, udah kasih pelajaran buat saya.”
“Hahhh serius bang?”
” Iya. Saya Ikhlas.”
” Terima kasih banyak ya bang!”
Aku sudah dijemput pacarku di depan masjid. Aku pun pulang. Sambil menceritakan kejadiannya. Dan seperti biasa aku ceritakan kepada keluarga di rumah. Entah mengapa senang sekali rasanya bisa berbuat baik seperti itu.
Habis makan malam aku mengerjakan tugas kuliah hingga menjelang pagi.
Keesokan pagi harinya di kampus. Mataku mengantuk sekali. Salah seorang temanku datang dengan membawa 2 kado besar.
“Wahhhh kok kadonya 2, yang ultah kan cuma seorang?” Tanyaku dengan berseru.
” Ini Vi, satu buat lo!”
” Wah, gue kan ngga ulangtahun!”
” Iya, ini hadiah dari teman-teman, dulu kan lo pernah bantuin bikin tugas MYOB! Buka dong hadiahnya!”
Aku membuka hadiah tersebut dan kudapatkan tas berwarna ungu.
” Hahhhh????” Aku terbelalak kaget.
Aku tidak menyangka mendapatkan tas sementara tadi malam aku mengalami hal seru gara-gara sebuah tas. Temanku pun bertanya karena melihat wajahku yang penuh heran. Aku pun menceritakannya.
Beberapa minggu kemudian, kuliah jam pertama aku duduk di belakang. Entah mengapa aku duduk berdampingan dengan temanku yang tidak biasa duduk berdampingan denganku. Lalu dia bertanya ” Apa kabar Nov? Sehat?”
” Baik.”
” Oya Gimana terapinya?”
” Iya gue masih terapi!”
” Hahhhh…Novi,,di tempat gw ada MRI gratis. Lo mau coba?”
Serunya karena teringat sesuatu. Kebetulan dia bekerja di sebuah rumah sakit di BSD.
” Gimana bisa gratis, itu kan mahal!”
” Udah pokoknya pulang kuliah, lo gue temenin ke sana, lo bawa aja CD kosong dan kue buat petugasnya.”
Akhirnya aku mengikuti sarannya. Kebetulan sore itu hanya kuliah 1 mata kuliah. Usai makan siang kami semua pulang. Aku dan temanku menuju rumah sakit. Sesampainya di sana aku langsung menuju ruang ganti pakaian dan bersiap-siap menjalani pemeriksaan.
Ketika aku hendak memasuki ruangannya, aku masih tak percaya dan sempat bertanya pada temanku “ini benar MRI?” Padahal jelas-jelas sudah tertulis di pintu masuk ruangan tersebut. Aku pun menjalani pemeriksaan kurang lebih 1,5 jam. Aku tak percaya aku mendapat rezeki seindah itu jalannya.

Terima kasih Ya Allah. (2010)


3 comments

  1. wenda ayanti

    saya tau nie mbak cerita ini. dlu pernah cerita juga kan ke aku…………………seneng akhir nya mbak novi punya website. jadi bisa baca terus deh cerpen2 nya…. walau udah jarank bgt ketemu…

Leave a Reply

Your email address will not be published.