Novica

Catatan kecilku

Toga di Ujung Harapan # 1

MARET 2009
Pagi-pagi saat bangun tidur aku mendapat telepon dari salah satu rekan kerjaku yang telah lama resign.
” Hallo … Novi!”
” Iya bu Nana, ada apa?”
” Novi mau kerja di tempat saya ngga? Saya perlu keuangan, kantor saya di Bogor.”
” Wahh…jauh ya bu?”
” Iya saya ada proyek apartemen bersubsidi, kamu mau ya ikut saya, urusan gaji nanti kita bicarain!”
” Baiklah bu, nanti coba saya pikirkan.”
Aku akui pada saat itu aku memang perlu pekerjaan yang gajinya lebih besar dari yang ada. Alasannya adalah aku sekarang sudah kuliah, dan sudah pasti memerlukan biaya banyak hingga kuliahku selesai nanti. Ditambah ayahku baru saja gulung tikar usaha kecilnya. Jadi aku mesti kerja lebih giat, setidaknya walau sedikit aku bisa membantu keluargaku. Aku juga punya adik balita yang usianya masih 15 bulan.
Setelah aku pikir-pikir, aku memutuskan untuk resign dari kantorku. Masa kerjaku sudah hampir 4 tahun, tentu saja berat sekali melepasnya. Memang aku harus berpikir lebih rasional. Aku kuliah di daerah Pamulang setiap Sabtu, hari Minggu juga kadang aku les private dengan dosen, sementara aku harus kerja di daerah Bogor. Namun aku tetap pada pendirianku. Mamaku keberatan jika aku harus tinggal di Bogor, tapi aku terus meyakini, bahwa aku akan bisa dan baik-baik saja.
Akhirnya aku resign dari kantorku yang lama yang bergerak di bidang agen property. Awal April aku akan memulai bekerja di Bogor. Sebelumnya aku pergi mencari tempat tinggal. Aku mengelilingi daerah sekitar Jalan Pajajaran. Kususuri area IPB, aku tak mendapatkannya. Akhirnya aku mendapatkan kontrakan yang tidak jauh dari kantor. Ukurannya kurang lebih 3 x 4 meter dengan kamar mandi dalam. Tanpa isi.
” Kamu yakin mau begini?” pacarku bertanya.
” Iya, kalau aku tidak ambil kesempatan ini, siapa yang mau bayarin kuliahku?”
” Tapi ingat, mama, bapak, dan yang lain menyarankan ada baiknya bukan bekerja di sana aja?”
” Iya, tapi saat ini aku belum dapat yang pas. Biarlah belajar hidup sendiri, aku juga sudah biasa bukan tidak tinggal bareng mama, aku kan pernah tinggal di rumah uwaku, selama sekolah dulu!”
” Iya, tapi ini beda sayang, di kampung orang, kamu ngga punya saudara di sini!”
” Itu banyak anak-anak baru lulus kuliah jauh-jauh!”
” Ya sudah hati-hati ya kamu di sini!”
Pacarku pergi pulang kembali ke rumah. Hari itu hujan besar sekali tiada henti. Aku tertegun melihat ranselku dan beberapa barang bawaanku. Isinya perlengkapan tidur, mandi, pakaian, perlengkapan makan minum, tas kerja, buku dan beberapa perlengkapan yang dibutuhkan. Aku merapikan semuanya. Aku juga sedang flu berat. Badanku demam.
Malam pun satang. Hujan masih terus mengguyur kota hujan. Aku mulai mengantuk setelah makan malam di sebuah warung makan.
” Ya ampun..aku pasti akan kedinginan ini.” Batinku sambil membuka sleeping bag.
Malam itu aku tidur hanya dengan sleeping bag. Kepalaku dialaskan tumpukan mukena dan sajadah. Tidur malam itu tidak nyenyak. Aku kedinginan. Flu makin menjadi. Hujan terus merintik.
Tengah malamnya aku terbangun. Rupanya sisi kanan kiriku bermain gitar.
” Waduh….tetangga kanan kiri anak laki semua!”
Dalam hatiku sempat terkejut campur takut. Aku tetap diam tak bersuara. Kuharap mereka tidak mengetahui ada penghuni baru seorang gadis.
Keesokan harinya aku mulai masuk kerja di kantor baru. Aku disambut dengan penuh sukacita. Tutur bahasa teman-temanku lebih halus dibanding dengan teman-temanku biasanya. Tentu saja karena mereka dialeknya adalah dialek suku Sunda. Bahasa mereka pun diselipkan dengan bahasa Sunda. Jadi kangen saudara-saudara almarhum ayahku. Semoga saja aku betah di kantor baruku ini, walaupun jauh dan pulang seminggu sekali untuk kuliah, aku harus tetap semangat.


Leave a Reply

Your email address will not be published.