Novica

Catatan kecilku

Toga di Ujung Harapan #3

Jumat pagi suara heboh membangunkanku. Anak-anak penghuni kosan berebut kamar mandi. Kamar sebelah kiri memutar lagu sangat keras. Lagunya “Dear God” milik Avanged Sevenfold. Sebagian anak sedang sibuk membuat susu putih.
” Jangan lupa minum susu!”
” Jangan lupa jas lab!”
Begitulah seruan yang kudengar. Aku duduk di kursi santai depan kamar sambil memandangi rerumputan dibasahi embun pagi. Melihatku penghuni baru, mereka hanya memberikan senyum.
” Dari kapan tinggal di sini?” tanya seorang anak yang badannya kira-kira 3 kali lipat dari ukuran badanku.
” Baru kemarin!” jawabku datar.
Anak itu tidur di kamar sebelahku.Penampilannya tomboy. Suaranya kencang. Sepertinya dia penguasa kosan ini. Mungkin kakak Senior yang paling ditakutin di sekolah juga.
” Kamu siapa namanya?”
” Wina. Kuliah atau sekolah?” tanyanya.
” Hahhh,, aku Novi, aku kerja Wina.”
” Ohhh kerja? Berarti aku panggilnya Kakak atau Mba nih?”
” Terserah aja!”
” Heheh,,,ya udah kak Novi aja ya panggilnya! Kak, aku berangkat dulu yaaa!”
1 Jam kemudian suasana menjadi hening. Semua sudah berangkat ke sekolah. Aku membereskan kamar dan mengemas tas untuk ke kantor. Sore ini aku akan pulang ke rumah. Rasanya sudah kangen sekali ketemu keluarga di rumah.

Sore pun tiba. Cuaca mendung. Aku khawatir hujan akan turun, pasalnya aku harus pulang. Begitu jam 5 datang, aku langsung meluncur ke arah Jalan Raya Pajajaran. Aku menunggu bis di halte dekat pedagang tanaman hias. Bisnya cukup lama datangnya.
” Yah hujan juga!”
Hujan turun sebelum aku naik bis. Hujan angin membuatku tersapu semburan air hujanyang tertiup angin. Akhirnya bis pun datang, aku tidak langsung duduk karena penuh. Mau tak mau aku harus berdiri, entah sampai sejauh mana.
2 jam lamanya di bis, akhirnya aku sampai di daerah tempat tinggalku. Aku sudah ditunggu pacarku. Senang sekali bisa bertemu dia, dia yang harus menjauh jaraknya dari aku. Long Distance every week.
Aku pulang dengan hati senang. Mamaku terus menanyakan keadaanku. Seperti biasa aku yang senang bercerita, menceritakan semuanya kepada kedua orangtuaku, pacarku dan adikku. Mereka tidak boleh melihat aku sedih ataupun tidak senang tinggal berjauhan dari mereka. Semua sudah keputusanku, jadi apapun itu resikonya aku yang bertanggung jawab.
Sabtunya pun aku pergi ke kampus. Teman-temanku menyambutku dengan ceria. Mereka sudah tidak sabar mendengar cerita tentangku yang seminggu terakhir tinggal di Bogor. Suasana jadi seru begitu mendengar ceritaku pagi itu. Mereka tertawa terbahak-bahak begitu mendengar bahwa aku diintip orang ketika mandi.
” Wahhhh…untung banget tuh orang Nov!”
” Huuu dasar…gue rugi, masih perawan nih, masih ada segelnya!”
Lelah sudah pasti sangat kurasa pada hari itu. Tapi aku selalu menekankan bahwa aku pasti bisa melalui hari-hari berikutnya dengan baik. Pulang kuliah aku dijemput pacarku. Kami tidak punya banyak waktu untuk bersenda gurau. Aku terlalu lelah bila harus jalan-jalan malam mingguan dengannya, sebab besok pagi aku harus kembali ke Bogor. Hari minggu kantorku buka. Dan seterusnya aku terus seperti itu, pulang ke rumah hanya untuk kuliah di hari Sabtu dan menjumpai mereka yang kusayang hanya sebentar saja. Aku harus ikhlas menjalaninya.

Hari demi hari kulalui. Aku pun semakin akrab dengan teman-teman kantor dan tentunya adik-adik kosan yang lucu-lucu. Aku begitu banyan mengenal mereka. Di kantor aku harus bersikap sedikit lebih dewasa, tapi ketika pulang kerja aku merasa kembali ke dunia lama, dunia sekolah. Aku membaur bersama mereka, main, jalan-jalan, makan bersama, dan curhat saja.
” Kak Novi, tau ngga, kirain kita-kita waktu kak Novi baru pindah ke sini, kak Novi anak sekolah lain, kita udah nyiapin rencana mau ngerjain, eh ngga taunya orang udah kerja!” Ucap fitri yang punya perawakan kecil.
” hahaha….” Aku tertawa.
” Iya, kak Novi juga jutek banget mukanya!”
” hehehe…emang mau dikerjain apa?”
” Mau dikerjain pas mandi! Dikunciin!”
Akhirnya kami pun tertawa bersamaan.
” Tau ngga sih kak Novi, anak-anak nih kan kalau abis ngobrol sama kak Novi, suka laporan, eh kakak itu baik kok!”
” Iya, kak Novi, kita pikir kak Novi galak, ngga asyik!” tambah yang lain.
” Ya ampun segitunya, iya emang saya galak, tapi ya ngga mungkin galakin orang sembarangan!”
Begitulah pengakuan mereka. Karakter mereka bermacam-macam. Aku juga salut, mereka 90% mengenakan kerudung. Aku juga kalah besar perawakannya dengan mereka. Sampai-sampai tiap angkat galon air ke dispenser, aku harus minta tolong salah seorang dari mereka. Adik-adikku yang cukup dekat denganku di antaranya Fitri, Arum, Ajeng, Grace, Wina, Eka, Ria, Mutia, Lidya dan Ulfa. Mereka bermacam-macam tingkatan sekolahnya, ada yang kelas satu, dua dan tiga.
Di dalam kosan, tidak jarang mereka berselisih dengan penghuni yang lain, salah satunya Wina, dia yang berkarakter bandel, terang-terangan sering menantang temannya. Tapi dia anak yang asyik. Aku suka gayanya.
Satu hari kami pergi ke dapur untuk memasak mie instant. Entah mengapa, lap dapur yang biasanya ada, tidak ada. Akhirnya dengan santai dia mengambil salah satu bra di jemuran untuk dijadikan lap. Aku tercengang dan tak kuasa menahan tawa.
” Wina, ya ampun itu beha siapa?”
” Beha musuh gue kak!”
” Hahhh kok kamu tau?”
” Iyalah, orang dulu deket banget!”
” Ya ampun!”
” Hih kalo udah ngga suka, ngga suka pokoknya! Duluan aja ada tuh yang aku kerjain, aku masukin kamarnya cacing segede apa tau!”
” Hahhhh?!” aku ketakutan mendengarnya.
” Tapi kamu ngga ada niat ngerjain kak Novi kan?” Aku mulai khawatir.
” Ngga lah kak’, aku kan liat-liat!”
” oh syukurlah!”
” Aku belain kak kalo ada yang macam-macam!”
Aku senang mendengarnya. Aku tidak lama mengenal Wina, karena Wina naik kelas 4, dan tidak tinggal di kosan lagi.
Sekolah mereka ada level sampai kelas 4, dan kelas 4 itu mereka Praktek Kerja Lapangan.
Ada juga yang bernama Fitri, dia kurus kecil, kamarnya bersebrangan dengan kamarku. Dia suka sekali memberiku pernak pernik warna ungu. Bahkan tidak jarang dia mengetuk kamarku hanya until berkata ” Kak Novi, aku punya ini!” Sambil menunjukkan barang berwarna ungu.
Ada juga Eka yang senang mandi dan mencuci di malam hari. Ria dan Ajeng yang suaranya nyaring. Grace yang sering mengosongkan kamarnya karena tidur di kamar lain. Arum yang pembawaannya kalem. Bermacam-macam. Aku kesepian ketika musim liburan tiba. Penghuni kelas 3 sudah tentu keluar dari kosan wisma putri ini.
Selama musim liburan, sepulang kerja aku lebih sering pergi ke suatu tempat, kadang ditemani Nenah, Wida, Fanny ataupun yang lainnya. Kami berempat juga sempat menginap di rumah Ibu Desi, Ibu muda yang cantik dan modis. Lalu menginap di rumah Fitri, gadis seksi yang banyak membuat pria tergoda dengan segala pembawaannya. Dan menginap di rumah Ibu Lanny yang lokasinya tidak jauh dari bendungan Katulampa.
Mba Sofi pun sangat baik kepadaku. Dia salah satu teman curhatku di kosan. Semua keluh kesahnya tentang anak-anak kosan, ia tumpahkan kepadaku. Anaknya bernama Putri, hafal sekali dengan kesukaanku akan warna ungu, sampai-sampai jika bepergian belanja, bila ada barang berwarna ungu, ia selalu teringat aku.
Mba Sofi begitu baik kepadaku. Setiap ia masak, ia selalu menyediakan porsi untukku. Sesekali ketika bangun tidur aku lapar sekali. Aku mandi kira-kira pukul 8 lewat. Dari dalam kamar mandi aku mencium aroma ikan goreng.
” haduhhhhh wanginya!”
Selesai mandi, seperti biasa dalam keadaan rambut basah, aku langsung jalan. Ternyata, mba Sofi sudah menyiapkan bekal untukku.
” Hahhhh pucuk dicinta, makasih ya mba!”
Setibanya di kantor, rupanya Fanny membawakan sarapan untukku.
Rezeki selalu ada untukku. Alhamdulillah.


Leave a Reply

Your email address will not be published.