Novica

Catatan kecilku

Toga di Ujung Harapan #4

Pekerjaan kantorku semakin hari semakin padat. Aku mulai sibuk membantu atasanku untuk menyiapkan berkas-berkas perizinan. Ada beberapa pekerjaan yang menurutku tidak baik, contohnya tiap bulan aku harus mengeluarkan budget untuk jatah para pihak yang terkait dengan perizinan dan keamanan proyek. Memang semua yang dikeluarkan dari perusahaan atas persetujuan atasanku, akan tetapi aku merasa tanganku ikut berdosa, karena melalui tangankulah, ‘amplop uang panas” diberikan.
Sesekali aku pergi ke kantor walikota atau kantor pemerintahan yang ada kaitannya dengan perizinan. Di sana pula aku sempat menyaksikan, seorang pegawai negeri salah satu instansi membagikan amplop-amplop untuk beberapa temannya.
Aku juga sempat berjumpa dengan salah satu teman sekolahku yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di kantor walikota.
Aku sempat bertanya-tanya, karena heran dengan apa yang kusaksikan. Semua itu kutepis begitu saja, yang penting aku tidak berbuat seperti itu. Memang ada sedikit kejanggalan sikap atasanku terhadap keuangan, namun aku selalu berusaha berpikir ke atasan.
Sekian bulan aku bekerja, aku belum pernah melakukan kesalahan dalam kerja. Tapi aku pernah kena tegur kedua atasanku tentang skandal mereka.
Waktu itu jam makan siang, aku menerima telpon dari ibu Purna yang tidak lain adalah istri pak Purna. Beliau menanyakan keberadaan suaminya, dengan santai aku menjawab sedang pergi dengan ibu Nana.
Mendengarnya ibu Purna justru memarahiku, sebab beliau tidak bisa menghubunginya dan spontan kuberi nomor HP ibu Nana setelah ia memintanya. Temanku yang lain langsung heboh.
” waduh, bisa perang!”
” kita liat aja, paling juga saya diamuk bos!”
Ternyata dugaanku tepat. Pertama aku dipanggil pak Purna.
” Benar, kamu yang kasih no HP ke nyonya?”
” Iya pak. Soalnya bapak katanya ngga bisa dihubungi, yah saya pikir urgent, saya kasih aja nomor Bu Nana, karena bapak kan lagi sama bu Nana, lagian mereka kan pastinya udah saling kenal!”
” Ooo begitu.”
Akhirnya pembicaraan pun usai. Aku yakin sekali, pasti aku akan dipanggil pula oleh Bu Nana. Rupanya ketika sore tiba, saat menjelang pulang, Bu Nana memanggilku.
” Novi…kenapa kamu kasih nomor saya me istri pak Pur? Saya habis didamprat istrinya!”
” Wah saya ngga tau Bu, habis saya pikir penting. Lagipula wajar kan Bu, kalau saya berpikir sesama partner kerja saling kenal dengan keluarganya, emang belum saling kenal?”
” Pokoknya kamu ngga boleh kasih nomor HP saya ke siapapun!”
” Iya, Bu!”
Sore itu bertepatan dengan hari Jumat, dengan percaya diri dan santai, aku pulang menumpang dengan Ibu Nana hingga exit tol BSD.


Leave a Reply

Your email address will not be published.