Novica

Catatan kecilku

Toga di Ujung Harapan #5

Tahun ajaran baru telah dimulai. Penghuni baru wisma putri sudah tentu banyak yg baru pula. Aku juga otomatis mendapatkan teman baru lagi. Mereka kelas satu. Sungguh seru sekali. Bagaimana tidak, mereka akan beradaptasi di sekolah dan hunian yang baru.
Aku melihat anak-anak tersebut sibuk mengikuti MOS, belum lagi tugas-tugas yang diberikan oleh senior mereka. Tidak hanya itu, di dalam wisma, kakak kelas mereka ikut mengerjai mereka. Aku hanya berdecak heran. Tidak mampu mencegahnya, dan membiarkan semuanya terjadi, karena kupikir itu masih wajar. Penghuni kamar sebelahku adalah anak kelas satu. Kuharap mereka tidak menjadi penghuni yang berisik, karena itu akan membuatku terganggu.
Pekerjaan kantor semakin hari semakin sibuk. Perizinan terus diproses. Hanya saja sebagai keuangan, banyak hal yang memberatkan. Uang tunai yang kuterima Dari customer selalu saja tidak diizinkan untuk disetor langsung ke rekening perusahaan, harus disetorkan me tangan ibu Nana.
Aku curiga akan terjadi sesuatu pada perusahaan ini. Mengingat gaya glamour dan fashionable kedua atasanku.
Sementara proyek mendapat banyak protes dari warga sekitar. Perizinan pun lamban sehingga pembangunan telat yang mengakibatkan konsumen pun kecewa ikut memprotes pihak developer yang dalam hal ini merupakan perusahaan tempatku bekerja.
Dalam situasi yang tidak kondusif tersebut, atasanku justru berfoya-foya membeli mobil sedan baru dan pergi keluar negeri. Aku yakin betul uang perusahaan dipakai untuk hal itu.
Aku punya feeling mereka korupsi. Memang status mereka adalah pemegang saham juga, dan aktif dalam garis manajemen, akan tetapi sikap dan tindakan mereka cenderung merugikan pemegang saham yang lain, yang pasif dalam menjalankan perusahaan.
Sebagai atasan tidak seharusnya semua keperluan pribadi mereka ditanggung perusahaan. Kepentingan pribadi yang dimaksud dalam hal ini merupakan kepentingan pribadi mereka berdua. Harus kukatakan mereka tidak profesional dan curang.
Seringkali Bu Nana menitipkan amplop berisi uang untuk diberikan pada pegawai instansi terkait dan beliau selalu minta dibuatkan voucher pengeluaran until ditandatanganinya. Akan tetapi jumlah uang yang ia sebut tidak sesuai dengan jumlahnya.
Aku tidak bodoh, setiap kuterima amplop – amplop tersebut, di depan rekan kerjaku dan bapak penasehatku di kantor, pak Purwono (sub kontruksi), aku selalu membuka dan menghitungnya, jumlahnya selalu tidak sesuai dengan voucher yang telah ditandatanganinya. Kami cukup tahu saja lalu memasukkan ke dalam amplop baru.
Hari semakin hari suasana kerja menurutku semakin tidak kondusif. Hingga suatu hari, pada hari minggu, setelah makan siang, kami semua tim marketing, administrasi dan finance memutuskan untuk menutup kantor. Aku yang biasanya anti cabut alias bolos, memilih untuk ikut juga. Tidak tanggung- tanggung, kedua office girl pun kami ajak pergi. Kami semua pergi ke rumah Ibu Rika si pecinta ungu yang membelikanku laptop secara cash dan diperbolehkannya aku mencicil.
Ibu Rika hari itu sedang mengadakan syukuran rumah barunya. Kami semua berkumpul di sana. Sepulangnya dari rumah Ibu Rika, aku, Fitri, Nenah dan Wida memutuskan untuk menonton di bioskop. Film pilihan kami adalah film horor Jepang. Dengan santai kami memasuki theatre. Film pun dimulai dan tentu saja menegangkan. Pada saat-saat yang menegangkan tersebut, suara handphone terdengar.
” Waduh!!! Bu Nana ini!” seruku terkejut.
Yang lain makin panik, panik dan tegang tepatnya. Tegang karena film yang menyeramkan dan tegang karena atasan mengetahui kenakalan pegawainya. Kubiarkan handphoneku yang lupa kusilent itu terus berbunyi dan kududuki handphone tersebut, agar suaranya tidak begitu mengganggu. Aku dan Nenah memutuskan untuk pergi ke toilet. Lalu handphoneku berdering lagi.
” Iya bu!” jawabku gugup.
Atasanku memarahiku habis-habisan dan memerintahkan besok pagi dilaksanakan meeting seluruh staf, namun aku menahan tawa karena kupikir aku takkan dihukum sendirian. Akhirnya aku dapat menikmati film horor dengan tenang, tanpa teror dari telepon atasan. Nenah dan Wida begitu ketakutan akan sangsi yang diberikan.
” Haduh bu Novi, gimana kalau kita teh dipecat?”
” Tenang aja, ngga akan bu Nana mecat kita, percaya deh! Liat aja besok!”

Keesokan harinya. Pagi-pagi meeting pun dimulai dan dihadiri oleh semua staf. Kami semua sudah siap untuk diberi sangsi. Akan tetapi, bukan sangsi yang kami terima, melainkan keputusan bahwa tiap hari Minggu diliburkan. Tentu saja aku paling senang, sebab dengan begitu aku punya banyak waktu di rumah untuk keluarga dan istirahat.

Beberapa bulan kemudian.
Suasana kerja semakin hari semakin tidak nyaman. Perasaanku semakin tidak enak. Semangat pun menurun. Di penghujung tahun 2009 suasana kerja semakin panas. Bagaimana tidak, proyek pembangunan rusunami bersubsidi tersebut belum menunjukkan tanda-tanda. Tiang pancang pun belum naik. Otomatis para konsumen yang telah membayar cicilan banyak yang komplain, khususnya bagi konsumen yang melakukan pembayaran sistem cash bertahap. Pihak bank yang bekerjasama pun memerlukan laporan dari kami. Banyak sekali intruksi atasan untuk merekayasa laporan. Semua pihak terlibat. batinku semakin kalut. Menurutku ini tidak benar. Bila terjadi sesuatu aku pasti terseret.

Tahun 2009 pun berakhir.
Awal tahun pekerjaanku makin sibuk. Banyak laporan fiktif yang diminta atasanku untuk dibuat. Aku berpikir, bahwa laporan tersebut pasti nantinya akan diserahkan kepada para pemegang saham (komisaris). Pikiranku makin memburuk karena tidak sesuai dengan hati nurani. Kusebut hal itu merupakan tindakan kriminal. Hingga suatu hari beberapa pemegang saham datang secara mendadak. Saat itu aku tengah fokus dengan pekerjaanku. Aku tidak sadar Pak Haji XXXXX sudah ada di dekat meja kerjaku. Aku pun tersentak.
” Bapak?” sapaku.
” Iya, kamu Novi ya?”
” Iya pak!”
” Boleh saya lihat sebentar laporan keuangan kamu?”
Tanpa ragu pun aku memberikan beberapa laporan singkat keuangan harian. Beliau duduk di kursiku. Hatiku berkata pasti aku akan diamuk oleh atasanku. Telepon pun berdering dan kuterima.
” Novi, seperti yang saya bilang kamu ngga boleh nunjukin laporan apapun ke pak Haji!”
” Tapi bu…”
” Ngga ada tapi tapian!”
Komunikasi pun terputus. Atasanku menelepon dari ruangannya tanpa dia ketahui bahwa pak Haji XXXX sudah ada di kantor.
” Novi.. saya sudah liaht sekilas laporan kamu, terima kasih ya, kamu ngga usah takut, saya sudah tahu semuanya, jadi kamu tenang saja!”
” Terima kasih pak!”
Pak Haji XXXX langsung menuju ke ruangan atasanku. Tidak lama kemudian aku pun dipanggil atasanku untuk ke ruangannya. Di sanalah semua berawal menuju kehancuran. Aku menyaksikan perdebatan antara bu Nana dengan Pak Haji XXXX yang merupakan salah satu pemegang saham. Perdebatan itu dipicu akibat Bu Nana menyampaikan perusahaan merugi dan telah mempunyai hutang kepada direksi yakni Bu Nana yang dalam hal ini juga merupakan pemegang saham juga.
” Ane tahu ente punya niat busuk sama ane dan yang lainnya!” seru pak Haji dengan nada keras memaki Bu Nana.
” Maksud pak Haji apa ya? Nana ngga ngerti!” balas Bu Nana berpurapura tidak paham.
” Lo suruh anak buah lo bikin laporan ngga bener buat nipu gue, tiap bulan ngga ada laporan, tahu-tahu ngelaporin rugi terus minta ditamabahin dana lagi! Ane ngga bodoh Na, lo yang make uang! Pokoknya kita ngga mau tahu, balikin modal kita semua, udah gausah pakai keuntungan, kita semua jual sahamnya!”
Aku gemetar menyaksikan perdebatan itu. Usai mereka berdebat, aku diminta untuk keluar ruangan. Pikiranku pun mulai berkecamuk. Aku rasa aku harus segera mengundurkan diri.

Beberapa minggu kemudian.
Suasana kerja semakin kurang kondusif pasca perdebatan itu. Namun, tidak diduga muncul beberapa orang asing yang tidak pernah kukenal sebelumnya ikut campur dalam pekerjaanku. Rupanya mereka adalah perusahaan pembiayaan yang hendak menanamkan modal pada perusahaan tempat kantorku bekerja. Pihak tersebut menugaskan seorang ahli keuangan untuk memeriksa pekerjaanku. Mungkin lebih tepatnya auditor internal. Beliau bernama Budi. Aku memanggilnya Pak Budi. Semua pekerjaanku dia periksa. Aku diminta untuk datang ke kantor lebih awal dan pulang agak malam. Banyak tugas darinya pula yang harus kukerjakan di tempat kosku. Aku mulai terbebani dengan pekerjaan dan situasi yang semakin genting. Terlebih lagi Ibu Nana tidak mengizinkanku untuk terlalu terbuka dengan Pak Budi, khususnya mengenai keuangan yang menurutku bersifat fiktif. Selain menugaskan seseorang di bagian keungan, ada sejumlah orang yang ditugaskan di bagian lapangan. Mereka lebih cenderung bertugas mengawasi jalannya proyek dan menjaga keamanan proyek. Aku kenal dekat dengan seorang petugas yang biasa kupanggil Pak Adi. Beliau lebih mirip disebut premannya para polisi. Beliau banyak menjalin hubungan dekat dengan orangorang hukum dan kepolisian. Dia menjadi salah satu tempat curhatku setelah pak Purwono. Pak Adi mengerti sekali kondisiku yang tengah tertekan. Tiap hari aku terus ditekan oleh pak Budi dan Bu Nana. Bahkan aku tidak jarang mendapat kritikan pedas dari pak Budi. Bu Nana juga terus menerorku pagi, siang dan malam via sms ataupun telepon, agar aku tidak membocorkan semua perihal keuangan kepada Pak Budi, sementara Pak Budi selalu menginvestigasiku. Sampai suatu hari kukatakan dengan lancang kepadanya bahwa atasanku korupsi. Aku hanya mendapat balasan. ” Jangan teriak bau, kalau tidak tahu bangkainya!”
Kalimat tersebut rasanya menjadi cambuk dendamku kepada mereka yang belakangan terus menekanku. Pak Adi pun menyarankanku untuk segera mengundurkan diri, sebab lambat laun kecurangan atasanku pasti terbongkar, dan Pak Adi tidak ingin aku terlibat mengingat posisiku adalah sebagai staf keuangan. Pikiranku makin berkecamuk. Perlahan kurapikan semua pekerjaanku. Aku sudah tidak tahan dengan teror dan ancaman dari atasanku, aku juga tidak bisa terus menerus menyembunyikan rahasia buruk di hadapan Pak Budi, namun Pak Budi sendiri tidak pernah menghargai penjelasanku. Sampai akhirnya surat pengunduran diri kulayangkan. Atasanku tidak menerima pengunduran diriku. Dia mau aku tetap bekerja sampai semua masalah selesai.
” Saya tidak mengizinkan kamu keluar Novi!”
” Saya sudah tidak kuat bu, saya ngga bisa terusterusan begini, sementara Pak Budi terus menekan saya, dan Ibu juga menekan!”
” Saya menekan bagaimana? Kan saya hanya meminta kamu menjaga rahasia!”
” Iya, tapi kan Pak Budi butuh semua data keuangan untuk pekerjaannya, dan dalam hal ini dia di sini juga bukannya harus ikut andil dalam kegiatan perusahaan!?”
” Iya, tapi kan kamu bisa pending pengunduran dirinya sampai nanti semua masalah benar-benar selesai!”
” Tapi, saya sudah tidak bisa tinggal di Bogor lagi Bu! Semua barang sudah diangkut ke rumah!”
” Ya sudahlah kalau begitu kamu jangan ganti nomor hp ya, sewaktu waktu saya butuh kamu! Lagian kamu ini ya, harusnya bersyukur, udah saya bantuin bisa bekerja dengan saya, setidaknya ekonomi kamu pun naik!”
” Astaghfirullah!” dalam hatiku beristighfar.
Serah terimaku pada saat itu bukan ke Pak Budi, namun ke Bu Nana. Bu Nana mengatakan bahwa tidak boleh satu pun orang yang bisa menerima serah terima pekerjaan Novi. Banyak catatan penting yang kuberikan kepadanya. Bu Nana dengan sengaja membuat pekerjaanku menjadi tidak selesai. Pak Budi pun marahmarah padaku. Aku juga kesal dengan Pak Budi, sebab beliau sudah bisa memberi kesimpulan sementara bahwa kedua atasanku bertindak curang, namun tak kunjung jua beliau mengambil tindakan yang seharusnya.

Akhirnya aku kembali ke rumah. Tanggal 4 Februari adalah hari terakhir aku bekerja di sana. Aku jatuh sakit setelah pulang ke rumah. Aku masih juga mendapat sms dari Bu Nana. Masih saja membicarakan pekerjaan. Aku tidak membalasnya, telepon darinya pun tidak kujawab, hingga akhirnya Fanny temanku mengirim sms yang berisikan menanyakan pekerjaan. Aku dalam keadaan sakit dan stres membalas sms Fanny dengan intonasi yang kurang baik.
” Haduh Fanny, udah ya, stop nanya-nanya soal kerjaan, kemarin waktu gw mau serah terima baik-baik, sama bu Nana dibikin biar ngga rapi, sekarang aja begini. Udah ya, gw ngga mau ngomongin kerjaan lagi, udah bagus ngga gw buka kebohongan besarnya!”

Fanny tidak membalasnya. Namun aku menerima pesan sms dari Ibu Nana.


Leave a Reply

Your email address will not be published.